Karya keselamatan Allah yang dinyatakan melalui pembebasan dari penindasan bagi bangsa Israel ternyata tidak senantiasa disambut dengan rasa syukur. Minggu lalu kita membaca bagaimana umat Israel bersungut-sungut dan marah kepada Musa. Penyebabnya soal makanan. Bacaan hari ini menceritakan keluhan umat Israel terkait dengan air. Perjalanan di padang gurun yang gersang membuat mereka kelaparan dan kehausan. Makanan dan air adalah kebutuhan vital.
Gambaran dalam Alkitab menunjukkan situasi yang terkait dengan air sudah agak genting. Dituliskan, “Di sana bangsa itu haus akan air. Bangsa itu bersungut-sungutlah kepada Musa dan berkata, “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?” (Kel. 17:3). Mati kehausan menunjukkan kebutuhan air yang mendesak. Kegentingan karena kehausan juga dinyatakan Musa yang menyampaikan kepada Tuhan kemungkinan bisa saja umat Israel akan melempari dirinya dengan batu (Kel. 17:4).
Namun, sekalipun makanan dan minuman itu merupakan hal yang vital bagi kehidupan manusia, seharusnya tidak mengurangi rasa syukur karena pembebasan yang Allah kerjakan. Pada bagian inilah bisa dipahami kekecewaan Musa yang berakibat pada perbantahan di antara mereka (Kel. 17:7). Keluhan umat Israel berakhir dengan sebuah pernyataan yang isinya meragukan keberadaan Tuhan, “Apakah Tuhan ada di tengah-tengah kita atau tidak?” (Kel. 17:7). Peristiwa yang luar biasa bersama dengan Tuhan yang dialami umat seakan terhapus. Mereka lupa akan kuasa dan kebaikan Tuhan dalam hidup mereka.
Sungguh memprihatinkan. Hal itu berangkat dari ketiadaan kesadaran mereka akan karya pembebasan dan penyelamatan yang telah dikerjakan Allah. Bukankah penderitaan yang mereka alami sebagai budak di Mesir membuat mereka berteriak kepada Allah? Pada bagian inilah tema hari ini terasa gemanya. Mengutip Filipi 2:12, kesadaran akan keselamatan itu seharusnya dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari.
Hidup tanpa kesadaran akan keselamatan hanya akan menghasilkan orang-orang yang memandang realitas dengan cara negatif. Contohnya para pemimpin agama dalam kisah Yesus. Disebutkan imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi melihat karya Yesus dan mempertanyakannya, “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu” (Mat. 21:23). Mengapa kalimat negatif itu muncul dari para pemimpin agama? Karena mereka tidak memiliki sukacita karena keselamatan yang Allah anugerahkan. Mereka terpaku pada aturan. Beragama berarti terikat pada aturan belaka. Lupa pada keselamatan yang telah Allah kerjakan.
Marilah Kita Renungkan:
- Pernahkah Anda meragukan karya kasih dan kebaikan Allah dalam hidup ini? Ceritakanlah!
- Karya keselamatan yang menguasai hati akan berbuahkan kehidupan yang penuh syukur. Mengapa kehidupan yang penuh syukur semakin menipis dalam hidup umat percaya?
(Pdt. Addi Soselia Patriabara)

