Mazmur 19
Setiap keluarga seperti sebuah pohon yang memiliki akar, batang, cabang, dan buah. Dalam teori family tree, kehidupan seseorang tidak dapat dilepaskan dari keluarga dan generasi terdahulu yang membentuknya. Dari keluarga, kita menerima nilai, kebiasaan, cara berkomunikasi, cara menyelesaikan konflik, bahkan cara memahami dan mengekspresikan kasih. Ada akar yang baik, seperti keteladanan, doa, pengampunan, keterbukaan, dan kepedulian. Namun, ada pula akar yang tidak baik, seperti kebiasaan membentak, memendam masalah, saling menyalahkan, kekerasan dalam komunikasi, atau pola relasi yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Akar-akar yang tidak baik ini tidak harus terus dibawa dan diwariskan. Kita dapat belajar mengenalinya, menghentikan pola yang merusak, dan memilih untuk menanamkan akar yang baru.
Mazmur 19 membawa kita kepada dasar yang baru, yaitu Firman Tuhan. Pemazmur berkata, “Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa, peraturan Tuhan itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.” (Mazmur 19:8). Firman Tuhan bukan sekadar pengetahuan yang kita dengarkan setiap minggu, melainkan juga dasar yang membentuk kehidupan. Ketika Firman Tuhan menjadi akar keluarga, maka Firman Tuhan akan menolong kita memeriksa kembali nilai dan kebiasaan yang selama ini kita hidupi. Apa yang tidak sesuai dengan kasih Tuhan dapat kita lepaskan, sedangkan nilai yang membangun kehidupan dapat kita pelihara. Dengan demikian, kita tidak sekadar mewarisi pola keluarga, tetapi secara sadar memilih untuk membangun keluarga berdasarkan kehendak Allah.
Akar yang baik akan memengaruhi buah yang dihasilkan. Jika Firman Tuhan menjadi akar, maka buahnya dapat terlihat melalui kasih, kesabaran, pengampunan, kelemahlembutan, perhatian, dan penghargaan terhadap satu sama lain. Namun, kasih juga perlu dipelajari dalam bentuk yang dapat dirasakan oleh orang lain. Gary Chapman dengan teori Lima Bahasa Kasih dapat membantu kita memahami bahwa setiap orang dapat memiliki cara yang berbeda dalam menerima dan mengekspresikan kasih: words of affirmation atau kata-kata penguatan, quality time atau waktu berkualitas, receiving gifts atau pemberian, acts of service atau tindakan pelayanan, dan physical touch atau sentuhan fisik yang sesuai dan nyaman.
Perbedaan bahasa kasih dalam keluarga bukan alasan untuk saling menuntut, melainkan kesempatan untuk saling memahami. Mungkin kita terbiasa menunjukkan kasih dengan membantu, sementara anggota keluarga kita justru lebih merasakan kasih melalui waktu yang diberikan atau kata-kata yang menguatkan. Karena itu, mengikuti tes bahasa kasih dapat menjadi langkah sederhana untuk mengenali kebutuhan satu sama lain. Hasilnya bukan untuk memberi label, melainkan menjadi alat untuk belajar mengasihi dengan lebih sadar.
Keluarga Kristen dipanggil bukan hanya untuk memiliki akar yang baik, tetapi juga menghasilkan buah yang baik. Kita memutus akar-akar yang tidak sehat, menancapkan hidup pada Firman Tuhan, lalu membiarkan kasih bertumbuh menjadi buah yang nyata dalam keluarga. Ketika Firman menjadi akar, kasih bukan hanya menjadi kata-kata, tetapi menjadi cara kita hadir, mendengar, memahami, mengampuni, dan memperlakukan satu sama lain.
Marilah kita merenungkannya:
- Akar apa dalam keluarga saya yang selama ini menjadi sumber pertumbuhan yang baik, dan akar apa yang justru perlu saya putus karena menghasilkan pola yang tidak sehat?
- Apakah Firman Tuhan sungguh menjadi dasar dalam cara saya berbicara, mengambil keputusan, menyelesaikan konflik, dan memperlakukan anggota keluarga?
- Buah kasih apa yang saat ini paling nyata terlihat dalam keluarga saya, dan buah kasih apa yang masih perlu kami tumbuhkan bersama?
(Pdt. Windyarti Anggelina)

