a book and a notebook on the white textile

Allah itu Baik

(Keluaran 16:2-15; Mazmur 105:1-6, 37-45; Filipi 1:21-30; Matius 20:1-16)

Pernahkah kita melakukan sesuatu yang baik kepada seseorang, tetapi kebaikan itu justru tidak dihargai? Kita sudah menolong, tetapi masih dianggap kurang. Sudah memberikan perhatian, tetapi orang tersebut masih menuntut lebih. Ada ungkapan yang cukup sering kita dengar, “Sudah diberi hati, malah minta jantung.” Ungkapan ini menggambarkan kecenderungan manusia yang terkadang sulit merasa cukup.

Bangsa Israel telah mengalami kebaikan Allah. Mereka telah dibebaskan dari perbudakan di Mesir dan Allah sedang menuntun mereka menuju tanah yang dijanjikan. Setelah dua bulan melewati perjalanan, mereka menghadapi kesulitan di padang gurun, dan mereka mulai bersungut-sungut. Bahkan, mereka mengenang Mesir dengan cara yang seolah-olah melihat masa perbudakan lebih baik daripada keadaan mereka sekarang. Mereka lupa bahwa di Mesir mereka memang memiliki makanan, tetapi mereka kehilangan kebebasan. Mereka lupa bahwa Allah telah membebaskan mereka.

Namun yang menarik, Allah tidak berhenti menjadi baik hanya karena manusia tidak mampu melihat kebaikan-Nya. Ketika Israel bersungut-sungut, Allah justru memberikan manna dari langit. Bangsa Israel sedang menunjukkan ketidaklayakan yang membuat mereka pantas menerima pemberian itu. Mereka sedang mengeluh. Tetapi Allah tetap memelihara mereka. Inilah kebaikan Allah. Kebaikan Allah tidak menunggu manusia menjadi layak terlebih dahulu. Allah tetap memberi karena Ia adalah Allah yang baik. Pemeliharaan-Nya merupakan anugerah, bukan upah atas prestasi manusia.

Gambaran yang sama kita temukan dalam Matius 20:1-16. Para pekerja yang datang sejak pagi merasa keberatan ketika mereka menerima upah yang sama dengan pekerja yang datang kemudian. Mereka merasa bahwa semakin lama mereka bekerja, semakin besar hak mereka untuk menerima lebih banyak. Tetapi pemilik kebun anggur mengingatkan bahwa ia bebas memberikan apa yang menjadi miliknya. Yesus sedang menunjukkan bahwa kasih dan kebaikan Allah tidak dapat dihitung dengan kalkulator kelayakan manusia. Allah tidak menjadi baik karena manusia pantas menerima kebaikan-Nya. Allah baik karena Ia memang baik. Kebaikan Allah berakar pada kasih-Nya yang bebas dan berdaulat.

Karena itu, ketika hidup membawa kita pada penderitaan dan ketidakpastian, kita tidak boleh menjadikan keadaan sebagai ukuran terakhir untuk menentukan apakah Allah baik atau tidak. Paulus dalam Filipi 1:21-30 berkata, “Karena bagiku hidup adalah Kristus.” Paulus memahami bahwa hidup bukan terutama tentang kenyamanan, tetapi tentang Kristus. Jika ia masih diberi kesempatan hidup di dunia, maka hidup itu harus menghasilkan buah bagi Kristus. Bahkan dalam penderitaan, ia tetap dipanggil untuk hidup berpadanan dengan Injil dan tetap setia. Mari meneladani Allah dengan menjadi pribadi yang baik, murah hati, peduli, dan memberi tanpa selalu menuntut balasan. Sebab jika hidup adalah Kristus, maka selama kita masih hidup di dunia ini, biarlah hidup kita menjadi kesempatan untuk menghasilkan buah dan menghadirkan kebaikan Allah bagi sesama.

Marilah kita merenungkannya:

  • Adakah saya seperti bangsa Israel yang lebih sering mengingat “Mesir” daripada melihat pemeliharaan Tuhan dalam perjalanan hidup saya?
  • Kebaikan Tuhan apa yang selama ini mungkin saya abaikan?
  • Kebaikan seperti apa yang dapat saya teruskan kepada orang lain melalui hidup saya sehingga hidup saya benar-benar menghasilkan buah bagi Kristus?

(Pdt. Windyarti Anggelina)