human hand in light at the concert

Refleksi Kehidupan – Oktober

REFLEKSI HIDUP: DARI AMBANG KEMATIAN KEHIDUPAN BARU 

Pengalaman Hidup Juli – September 2021

Tahun 2021 adalah tahun yang tidak akan pernah saya lupakan. Saat itu Covid-19 melanda seluruh dunia, dan Jakarta adalah salah satu kota yang paling terpukul. Rumah sakit penuh, tenda darurat didirikan, dan setiap hari kita mendengar kabar duka.

Awal Mula 

Saya terdeteksi positif Covid pada tanggal 3 Juli 2021, hari Sabtu. Hari-hari pertama saya isolasi di rumah, dirawat oleh istri tercinta, Johanna (Yoke). Saya tidur di kamar anak perempuan saya yang sudah berkeluarga. Setiap hari saya memantau saturasi oksigen saya sendiri. Tim Covid dari GKI Kavling Polri dengan setia mengirimkan obat antivirus dan memantau jemaat yang terpapar. Mereka berjibaku di tengah keterbatasannya

Titik Kritis 

Tanggal 8 Juli pagi, saya menerima kabar duka di grup WA teman kuliah di Trisakti. Teman saya semasa kuliah, Rahman Tarigan,  meninggal di rumah karena tidak mendapat tempat di rumah sakit. Siang harinya, kondisi saya drop. Kepala terasa mau pecah, batuk tak henti, dan saturasi turun ke angka 80.

Saya dan Yoke berdiskusi. Akhirnya diputuskan saya harus ke rumah sakit. Dengan pertolongan Tuhan, melalui sahabat saya, Bapak Adharta dari organisasi “Kill Covid” yang mengenal banyak direktur RS, akhirnya saya bisa masuk RS Husada Mangga Besar. Sore itu pukul 18.00 saya masuk RS. Saya memilih menyetir sendiri agar tidak menulari sopir taksi atau ojek online.

Dari ranjang RS sana saya masih sempat mengikuti upacara kremasi keponakan saya melalui zoom yang meninggal dunia di usia 38 tahun karena terlambat ditangani. Seminggu kemudian kondisi saya semakin menurun. Saya dipindahkan ke ICU dan tidak sadar. Di ruang ICU saya dibantu ventilator selama 1 minggu.

Perjuangan Pindah RS dan Mukjizat 

Adik ipar saya, Chrisdianto dan Yoke tidak berhenti memantau. Mereka melihat kondisi saya dan merasa harus memindahkan saya dari  RS Husada karena obat-obatan yang  masuk tidak relevan dengan penyakit Covid.

Dengan bantuan dr. Handoko Gunawan, tanggal 7 Agustus 2021 malam hari saya berhasil pindah RS. Dengan ambulans dari luar RS susah payah saya berhasil dipindahkan ke RS Graha Kedoya. Saya sebut susah payah karena prosesnya tidak mudah. Menurut asumsi saya RS Husada sempat mempersulit. Di RS Graha Kedoya saya langsung masuk ICU dan selama satu minggu lagi harus menggunakan ventilator.

Total dua  minggu saya hidup dengan bantuan mesin. Kebanyakan orang mengatakan peluang hidup dengan ventilator hanya 1%. Tapi saya percaya, hidup dan mati ada di tangan Tuhan, bukan manusia.

Doa yang Menembus Langit 

Doa-doa dilantunkan. Dari istri, anak, menantu, kakak-kakak, Ibu Windy, Pak Addi, para Penatua dan anggota jemaat GKI Kavling Polri, teman-teman Gereja Katolik Katedral, teman sekolah SD, SMP  dan SMA, sampai teman-teman kuliah S1 dan S2 yang berbeda iman. Kuasa doa memang luar biasa. Masa kritis berhasil terlewati.

Puji Tuhan, pada akhirnya saya dinyatakan negatif. Saya dipindah ke kamar rawat inap biasa. Tapi saya baru tahu, Covid Delta merusak semuanya: gula darah naik harus suntik insulin, tekanan darah tinggi, HB dan trombosit naik.

Akhirnya pada tanggal 9 September 2021, setelah 1 bulan di RS Husada dan 1 bulan di RS Graha Kedoya, saya diizinkan pulang. Terima kasih dr. Handoko dan seluruh tim yang menjadi perpanjangan tangan Tuhan.

Belajar Berjalan Lagi 

Di rumah Yoke sudah menyiapkan caregiver. Tapi ia tidak menyangka saya bahkan tidak kuat naik ke mobil sendiri. Dua bulan di rumah sakit dalam keadaan terbaring membuat otot saya habis. Berat badan turun dari 72 kilogram menjadi jadi 50kg. Saya tidak bisa duduk, berdiri, apalagi berjalan.

Saya harus fisioterapi dan belajar berjalan seperti seorang anak kecil. Setelah perjuangan selama dua bulan perlahan-lahan, dengan jatuh bangun, akhirnya saya bisa berjalan kembali.

Kesimpulan 

Dari semua ini saya belajar satu hal rancangan Tuhan bukanlah rancangan kita (lihat Yesaya 55:8). Manusia boleh berikhtiar, tapi Tuhan yang menentukan hidup dan mati.

Musibah ini berat untuk kami sekeluarga. Namun dari peristiwa ini kami melihat adanya penyertaan Tuhan yang tidak pernah meninggalkan saya dan keluarga, Dia memakai dokter, keluarga, sahabat, rekan pelayanan, bahkan orang dengan keyakinan berbeda  pun untuk menolong saya.

Hari ini saya hidup bukan karena kuatnya saya tapi karena kasih Tuhan dan doa-doa yang dilantunkan banyak sahabat.Terima kasih sahabat2 ku semua dan GBU all

Soli Deo Gloria.

Pnt. Freddy Hartanto