indonesia on globe

Liwetan Bagi Bangsa

Kejadian 32:22-31; Mazmur 17:1-7, 15; Roma 9:1-5; Matius 14:13-21

Dalam budaya Sunda, liwetan bukan sekadar tradisi makan bersama. Liwetan adalah simbol kebersamaan, kesederhanaan, dan persaudaraan. Saat melakukan liwetan, orang-orang duduk sejajar mengelilingi daun pisang yang dibentangkan panjang berisi: nasi, lauk, sayur, sambal dan kerupuk. Semua orang menikmati makanan yang sama tanpa ada pembedaan status, usia, maupun kedudukan. Tidak ada piring yang lebih mewah karena semua sama-sama beralaskan daun pisang. Hal menarik lainnya dari liwetan adalah tidak ada hitungan porsi untuk setiap orang. Dengan demikian, setiap orang akan mengambil secukupnya, berbagi dengan yang lain dan menikmati dengan sukacita. Tradisi liwetan mengajak kita untuk memaknai sebuah nilai tentang kesediaan untuk berbagi sehingga semua orang dapat merasakan kecukupan.

Dalam Injil Matius 14:13-21, kita juga dapat menemukan nilai yang sama. Ketika orang banyak mengikuti-Nya ke tempat yang sunyi, para murid melihat situasi itu sebagai masalah. Hari sudah malam, persediaan makanan tidak ada dan jumlah mereka sangat banyak kira-kira 5000 orang laki-laki belum termasuk perempuan dan anakanak. Solusi para murid atas hal tersebut sangatlah sederhana: suruh mereka pulang agar mencari makanan sendiri. Namun, Yesus memiliki cara pandang yang berbeda. Ia berkata “kamu harus memberi mereka makan.” Perintah ini bukan sekadar ajakan menyediakan makanan tetapi juga undangan agar para murid terlibat dalam kepedulian Allah kepada manusia. Yesus mengubah cara berpikir dari: biarkan mereka mengurus diri sendiri menjadi mari kita mengambil bagian dalam kebutuhan mereka. Menyadari undangan tersebut, mereka memberikan lima roti dan dua ikan yang berhasil mereka dapatkan. Secara hitungan, lima roti dan dua ikan yang ada pada mereka tampak sangat kecil dibandingkan kebutuhan ribuan orang yang ada di sana. Akan tetapi, ketika apa yang sedikit itu diserahkan kepada Yesus, semua menjadi cukup. Dalam ayat 20 dikatakan “Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian mereka mengumpulkan potongan-potongan roti yang tersisa, sebanyak dua belas bakul penuh.”

Melalui tradisi liwetan dan juga kisah Yesus memberi makan 5000 orang, sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang akan memasuki usia ke-81 kita diajak untuk membangun kehidupan yang tidak hanya berpusat pada diri sendiri, tetapi juga pada kesejahteraan bersama. Kita mungkin tidak memiliki banyak harta, posisi atau jabatan yang strategis dalam pemerintahan. Namun, kita memiliki 5 roti dan 2 ikan yang bisa kita berikan kepada Tuhan. Tuhan akan memberkatinya dan membuat apa yang kita punya menjadi berkat yang berdampak bagi sesama.

Marilah kita merenungkannya:

  1. Apa “lima roti dan dua ikan” yang Tuhan sudah berikan kepada anda untuk dibagikan kepada orang lain?
  2. Siapa orang di sekitar anda yang membutuhkan “lima roti dan dua ikan” yang anda miliki?
  3. Pikirkanlah langkah sederhana yang dapat anda lakukan dalam menghadirkan kepedulian dan kasih kepada sesama!

(Pdt. Windyarti Anggelina)