man relaxing in harbor

Tegar di Tengah Ujian Hidup

(Kejadian 29:15-28, Maz 105, Roma 8 : 26-39, Matius 13: 31-33, 44-52)

Mendengar kata ujian, seringkali dikaitkan dengan tes yang dilakukan dalam satu periode waktu untuk menguji kemampuan siswa atau mahasiswa dengan cara mengerjakan soal dari materi yang sudah pernah dipelajari. Namun, rupanya, ujian tidak hanya dihadapi oleh siswa atau mahasiswa saja, melainkan setelah lulus dari lembaga pendidikan, setiap orang akan tetap mengalami yang namanya ujian kehidupan. Ujian kehidupan hadir melalui tantangan dalam pekerjaan, pergumulan, penantian, kegagalan, rasa sakit, kekecewaan dan lain sebagainya. Apabila ujian di lembaga pendidikan untuk mengetahui seberapa kuat materi tersebut dikuasai, maka ujian kehidupan menjadi momen pencarian akan apa yang dapat mendasari diri kita untuk dapat bertahan dan melalui dan menjalani proses pendewasaan.

Sebagaimana yang dialami Yakub, ketika ia pergi ke Padan-Aram dan menemui Laban, saudara Ribka. Yakub justru mengalami kekecewaan. Setelah tujuh tahun bekerja kepada Laban, justru Laban memberikan Lea, bukan Rahel seperti yang sudah menjadi kesepakatan di awal. Laban tidak hanya menipu, namun juga memanfaatkan tenaga Yakub untuk bekerja kepadanya. Maka, di sinilah Yakub justru menunjukkan sikapnya. Yakub tidak berhenti, melainkan tetap memperjuangkan apa yang sedari awal sudah menjadi tujuannya. Ketekunan Yakub tidak hanya karena cintanya kepada Rahel, melainkan juga didasari oleh penyertaan TUHAN dan perjanjian yang tetap dijaga, yang dinyatakan dalam perikop sebelumnya.

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma juga memberikan pesan bahwa Allah turut bekerja kepada orang-orang yang dipilih olehNya. Di tengah pergumulan hidup, kita disertai oleh Roh Allah yang membantu kita untuk menyampaikan segala hal yang tak terkatakan kepada Allah. Di saat itulah, kasih Allah menyertai dan menguatkan kita untuk dapat tegar dan teguh menjalani masa-masa dalam ujian kehidupan. Karena Allah mengasihi kita dalam kondisi apapun, dalam segala hal dan tanpa ada yang bisa membatasi.

Bacaan pada minggu ini mengajak kita untuk belajar dari Yakub yang tetap bertekun untuk memperjuangkan apa yang sedari awal sedang diusahakan. Bahwa di setiap ujian kehidupan kita, Roh Allah hadir membantu kita untuk menyampaikan yang tak terkatakan kepada Allah. Oleh karena itulah, kita diingatkan kalau Allah yang mengasihi kita turut bekerja, sehingga ujian kehidupan tidak membuat kita menyerah melainkan justru membantu kita menemukan cinta kasih Allah yang menguatkan

Marilah kita merenungkan:

  • Bagaimanakah respon saya ketika mengalami ujian kehidupan yang menurut saya berat untuk dilalui?
  • Apakah saya tetap menemukan cinta kasih Allah dalam setiap ujian kehidupan yang saya alami?

(Sdri.Nethania Ranitta Adventie)