Kej.37:1-4, 12-28; Mzm.105:1-6, 16-22; Rm.10:5-15; Mat.14:22-33
Bulan Agustus kerap menjadi bulan yang istimewa bagi bangsa Indonesia. Di rumahrumah, gedung-gedung, dan jalan-jalan bendera merah putih berkibar. Berbagai kegiatan penuh kegembiraan dirancang dalam rangka memeriahkan kemerdekaan. Inilah bulan kebangsaan. Bulan untuk mengingat kehidupan bersama di negeri yang tercipta bagi semua Indonesia. Namun, bulan ini juga menjadi kesempatan untuk berefleksi, meluaskan cara pandang agar kebaikan terjadi pada seluruh anak bangsa dan setiap jengkal tanah air yang diciptakan Tuhan dengan indah bermanfaat bagi semua.
Sayangnya, harus diakui, keindahan dan kekayaan Indonesia hingga saat ini masih dikuasai oleh segelintir orang. Ketidakadilan menjadi realitas kehidupan yang begitu sering terjadi, bahkan untuk keperluan sehari-hari. Pertanyaannya, apa peran orang Kristen dan gereja Tuhan?
Salah satu peran penting orang Kristen dan gereja Tuhan adalah datang dan meratap kepada Tuhan. Dalam tradisi iman, sebagaimana yang dinyatakan dalam Alkitab, meratap menjadi bagian dari kehidupan iman umat. Itu sebabnya ada kitab Ratapan dan banyak bagian-bagian Alkitab yang berisi ratapan. Dalam tradisi Indonesia, meratap kerap dilakukan ketika duka dan derita terjadi. Salah satunya disebut dengan istilah mangandung, dalam tradisi suku Batak. Meratap bukan sekadar tanda ketidakberdayaan atau keputusasaan, melainkan juga bentuk ungkapan hati yang jujur dan seruan iman kepada Allah di tengah krisis. Meratap adalah tindakan pengharapan, mengakui keterbatasan kita dan ketidak-terbatasan Allah.
Ratapan itu secara imajinatif datang dari hati Yusuf dalam kesunyian di dalam sumur (Kej. 37:24). Ratapan tanpa suara itulah yang Tuhan dengar. Pemazmur merefleksikannya lewat kalimat, “diutus-Nya seorang mendahului mereka, Yusuf dijual menjadi budak” (Mzm. 105:17). Ratapan itu justru menjadi cara Tuhan menolong, tak hanya diri dan keluarganya, tetapi juga bangsa-bangsa lain yang menjerit kelaparan.
Seruan meratap juga disampaikan para murid yang perahunya dihempas badai angin sakal. Tiga jam yang terasa bagai berjalan berhari-hari. Akibatnya, pandangan halusinasi mulai menguasai, manusia dipandang hantu (Mat. 14:26). Petrus yang kemudian berseru keras, ketika nyaris tenggelam, “Tuhan, tolonglah aku!” (Mat. 14:30).
Berseru kepada Tuhan dalam ratapan, tak hanya diperdengarkan saat hidup terasa berat, seruan itu berseru kepada Tuhan adalah pilihan setiap saat. Sebab, sebagai makhluk yang rapuh, realitas kehidupan kadang mengguncang tanpa pernah dapat diperkirakan. Berserulah senantiasa kepada Tuhan, Ia akan tidak pernah meninggalkan kita.
Marilah Kita Renungkan:
- Apakah Anda meratap pada Tuhan, pada saat apa dan apa hasilnya?
- Apakah dalam hidup berbangsa ada hal yang perlu kita ratapi, apakah itu?
- Dalam meratap ada pengharapan yang tak pernah padam, seberapa besar keyakinan Anda dalam berpengharapan pada Tuhan?
(Pdt.Addi Soselia Patriabara)

