Kejadian 28:10-19a; Mazmur 139:1-12, 23-24; Roma 8:12-25; Matius 13:24-30, 36-43
Hidup yang kita jalani sebagai umat Tuhan bukanlah hidup yang mudah, tanpa masalah atau pergumulan. Pergumulan atau masalah sering kali membuat kita merasa sendirian. Ketika doa seolah belum terjawab, rencana hidup berubah, atau keadaan tidak berjalan sesuai harapan, kita mudah bertanya, “Di manakah Tuhan?” Menariknya, bacaan Firman Tuhan hari ini justru memperlihatkan bahwa penyertaan Allah tetap dapat kita rasakan bahkan ketika kita sedang berada di tengah pergumulan.
Yakub dalam Kejadian 28:10-19a sedang berada di titik terendah hidupnya. Ia melarikan diri dari rumah karena konflik dengan Esau, meninggalkan keluarga, dan tidak memiliki kepastian tentang masa depan. Di tengah perjalanan itu, saat ia tidur di tempat yang tampak sepi dan tidak berarti itu, Allah menyatakan diri-Nya melalui. Allah meneguhkan janji-Nya dan berkata, “Sesungguhnya Aku menyertai engkau.” Pengalaman Yakub mengajarkan bahwa tempat pergumulan dapat berubah menjadi tempat perjumpaan dengan Allah ketika kita menyadari bahwa Dia tidak pernah meninggalkan kita.
Daud mengakui bahwa Tuhan mengenal dirinya secara sempurna. Tidak ada langkah, pikiran, maupun pergumulan yang tersembunyi dari hadapan Allah. Bahkan ketika ia berada di ujung langit atau di dasar dunia orang mati, tangan Tuhan tetap menuntunnya. Sementara Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Roma, menghayati tuntunan dan penyertaan Tuhan dalam setiap pergumulan dengan pengharapan. Pengharapan Kristen bukanlah harapan kosong, melainkan keyakinan bahwa Allah sedang bekerja, bahkan ketika mata kita belum melihat hasilnya.
Melalui perumpamaan tentang gandum dan lalang dalam Matius 13:24-30, 36-43, Yesus mengajarkan bahwa selama dunia ini masih berlangsung, kebaikan dan kejahatan akan bertumbuh bersama. Tuhan tidak selalu segera mencabut segala persoalan karena Ia bekerja menurut waktu dan hikmat-Nya. Tugas orang percaya adalah tetap hidup sebagai “gandum” yang setia, tidak kehilangan iman karena kehadiran “lalang”, dan percaya bahwa pada akhirnya Allah akan menegakkan keadilan-Nya secara sempurna.
Keempat bacaan dalam Minggu Biasa hari ini mengingatkan kita bahwa penyertaan Tuhan bukan berarti hidup tanpa masalah, melainkan hidup yang tidak pernah dijalani sendirian. Tuhan hadir seperti kepada Yakub di Betel, mengenal kita secara mendalam seperti dinyatakan oleh Pemazmur, menguatkan kita melalui Roh Kudus di tengah penderitaan seperti ditegaskan Paulus, dan memberi pengharapan akan kemenangan akhir seperti diajarkan Yesus. Karena itu, di tengah pergumulan apa pun yang sedang kita hadapi, marilah kita berani berdoa seperti pemazmur, “Tuntunlah aku di jalan yang kekal.” Sebab Tuhan yang menyertai perjalanan Yakub adalah Tuhan yang sama yang menyertai perjalanan hidup kita hari ini. Ia tidak pernah terlambat datang, tidak pernah lengah menjaga, dan tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya. Di dalam penyertaan-Nya, kita menemukan kekuatan untuk terus melangkah dan memiliki pengharapan yang tidak pernah mengecewakan.
Marilah kita merenungkannya:
- Bagaimana saya dapat tetap setia dan percaya kepada Tuhan meskipun masalah belum selesai?
- Pergumulan apa yang sedang saya hadapi saat ini?
(Pdt. Windyarti Anggelina)

