Kejadian. 25:19-34; Mazmur 119:105-112; Roma. 8:1-11; Matius. 13:1-9, 18-23
Hidup tidak selalu sesuai dengan harapan. Justru karena itu dibutuhkan tanggapan yang tepat dalam menjalani kehidupan. Kisah pernikahan Ishak dan Ribka menunjukkan adanya harapan yang seakan tidak akan terwujud (Kej. 25). Sebab, hingga 20 tahun pernikahan berjalan mereka tidak memiliki keturunan. Menghadapi realitas itu tanggapan Ishak adalah berdoa. Alhasil, penantian panjang berakhir. Ribka mengandung, bahkan kembar. Tuhan memberi lebih dari yang diminta! Selesaikah? Ternyata tidak, pergumulan lain muncul. Dua anak dalam rahim Ribka saling bertolak-tolakan. Tanggapan Ribka adalah bertanya kepada Tuhan melalui doa. Tuhan menjawab bahwa kedua anak itu memang berbeda dan menjadi rival.
Namun yang kecil akan menjadi pemenang. Jawaban itu memang agak membingungkan. Namun jawaban itu seharusnya dapat menjadi tanda bagaimana cara Ishak dan Ribka membesarkan kedua anak kembarnya. Alih-alih memerhatikan perkataan Tuhan, tanggapan mereka justru memperlakukan kedua anaknya dengan berbeda. Pendidikan mereka justru membuat kedua anaknya semakin terjebak dalam rivalitas. Alkitab mencatat, “Ishak sayang kepada Esau, sebab ia suka makan daging buruan, tetapi Ribka sayang kepada Yakub” (Kej. 25:28). Pentingnya tanggapan atas apa yang Tuhan berikan diperlukan dalam kehidupan.
Dalam perumpamaan Yesus menurut Matius 13, terdapat berbagai tanggapan atas firman yang ditaburkan. Terdapat setidaknya empat tanggapan. Pertama, digambarkan seperti benih yang jatuh di pinggir jalan. Mereka adalah orang-orang yang mendengar firman tetapi tidak mengerti. Tetapi tanggapan mereka diam saja, tidak bertanya mencari tahu. Kedua, digambarkan seperti benih yang jatuh di tanah yang berbatu. Mereka adalah orang-orang yang mendengar firman, mengerti, dan bergembira. Namun, firman itu hanya sebatas memberikan kegembiraan, tidak bertumbuh dan berakar. Akibatnya benih tidak tumbuh. Ketiga, digambarkan seperti benih yang jatuh ke semak duri. Mereka adalah orang-orang yang mendengarkan firman, mengerti, bergembira, namun hidup dalam kekhawatiran.
Akhirnya benih tumbuh namun tidak bertahan lama. Keempat, digambarkan seperti benih yang ditaburkan ke tanah yang baik. Mereka adalah orang-orang yang mendengarkan firman, mengerti, bergembira, dan menyimpan serta menubuhkan firman dalam hidupnya. Akibatnya hidup dilimpahi sukacita dan menjadi berkat bagi sesama.
Perumpamaan Yesus itu mengingatkan betapa pentingnya tanggapan. Firman selalu baik ditaburkan. Kehendak Allah selalu baik bagi kehidupan. Tanggapan kitalah yang menentukan apakah kebaikan dan kehendak Allah menjadi kenyataan dalam hidup kita.
Marilah Kita Renungkan:
- Apakah realitas yang Anda jalani berbeda dari harapan?
- Tanggapan apa yang paling sering Anda lakukan saat mendapatkan kalau realitas ternyata berbeda dari apa yang diharapkan?
(Pdt.Addi Soselia Patriabara)

