a person holding a cross

Tidak Ada Yang Mustahil

Kejadian 18:1-15; Mazmur 116:1-2, 12-19; Roma 5:1-8; Matius 9:35-10:8

Adakah yang mustahil bagi Tuhan? Ini merupakan pertanyaan retoris yang jawabannya adalah tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Namun, kenyataannya ada saja hal yang membuat jawaban pertanyaan ini menciptakan ketegangan di antara “mustahil” dan “tidak mustahil.” Bagi kita manusia, kata “mustahil” sering kali menjadi tembok pembatas yang menghentikan langkah. Ketika diperhadapkan pada pergumulan yang berat, penyakit yang tak kunjung sembuh, atau masa depan yang buram, kita cenderung menyerah dengan mengatakan “mustahil.” Namun, firman Tuhan hari ini datang untuk meruntuhkan tembok tersebut dengan sebuah frasa iman yang kuat: “Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.”  Ketika kita menghayati frasa “tidak ada yang mustahil,” kita perlu menyadari bahwa kalimat ini bukan sebuah mantra ajaib untuk memaksakan kehendak dan ambisi pribadi kita kepada-Nya. Sebaliknya, ini adalah sebuah panggilan untuk tunduk dalam kedaulatan-Nya dan ikut serta dalam karya kasih-Nya.

Dalam kitab Kejadian, kita melihat Sara tertawa ketika mendengar janji bahwa ia akan melahirkan seorang anak di usia tua. Secara biologis, itu mustahil. Namun, Tuhan menjawab dengan pertanyaan yang menggugah: “Adakah sesuatu apa pun yang mustahil bagi Tuhan?” Kisah ini mengingatkan kita bahwa iman yang sejati tidak berfokus pada keterbatasan situasi, melainkan pada kemahakuasaan Allah. Itu sebabnya, sebagai umat yang dibenarkan karena iman, kita juga dipanggil untuk terus hidup dengan iman di tengah situasi yang sulit dan tidak mudah dimengerti.

Sikap iman yang berserah pada kedaulatan Allah di Tengah segala situasi yang tidak mudah ini tidak lantas membuat kita menjadi pasif atau berdiam diri begitu saja. Justru, iman yang hidup selalu menggerakkan kita untuk bertindak dan berjuang. Sebagaimana Yesus mengutus murid- murid-Nya untuk pergi menyembuhkan dan mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah. Kita pun dipanggil untuk memperjuangkan yang terbaik, mengulurkan tangan, dan terlibat aktif dalam membawa perubahan di tengah situasi yang tampaknya mustahil di sekitar kita.

Iman bukan alat untuk mendikte Allah agar menuruti kemauan kita, melainkan sikap berserah yang mengakui bahwa kedaulatan Allah jauh melampaui logika manusia. Tuhan memang sanggup bekerja melampaui segala kemustahilan jika Ia mau, tetapi kapan, bagaimana, kepada siapa dan untuk apa Tuhan melakukan itu, sepenuhnya berada dalam kedaulatan-Nya. Ketika kita mempercayakan segala kemustahilan hidup ke dalam tangan-Nya, kita akan menemukan kedamaian sejati, sebab kita tahu bahwa di dalam segala sesuatu, Allah selalu bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.

Marilah kita merenungkannya:

  1. Apakah saya bisa tetap percaya pada kebaikan Tuhan ketika Dia menjawab “tidak” atau “belum saatnya” atas doa-doa yang selama ini saya sampaikan?
  2. Dalam hal apa saya masih meragukan kuasa Tuhan dan merasa masalah saya sudah benar-benar mustahil untuk diselesaikan?

Pdt. Windyarti Anggelina