Kejadian 12:1-9; Mazmur 33:1-12; Roma 4:13-25; Matius 9:9-13, 18-26
Dalam iman yang dianugerahkan dan dengan pertolongan Roh Kudus, kita percaya bahwa sebagai orang percaya kita diselamatkan oleh iman. Hal ini benar namun belum lengkap, karena setiap kita dipanggil ―untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya‖ (Efesus 2:8-10). Pekerjaan baik yang dimaksud adalah berpartisipasi dalam karya keselamatan yang telah Allah kerjakan. Kita tidak dipanggil untuk menjadi penikmat berkat (keselamatan) melainkan juga berpartisipasi dalam karya keselamatan. Keselamatan bukan hanya berbicara tentang kehidupan setelah kematian. Keselamatan yang Allah kerjakan mencakup pemulihan relasi manusia dengan Allah, sesama, dan alam ciptaan. Karena itu, setiap orang percaya dipanggil untuk mengambil bagian dalam menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah melalui kehidupan sehari-hari. Bacaan hari ini mengajak kita melihat bagaimana Abraham, Paulus, dan kisah pelayanan Yesus menunjukkan bahwa iman sejati selalu diwujudkan dalam kesetiaan menjalani panggilan Allah.
Dalam Kejadian 12:1-9, Allah memanggil Abram untuk meninggalkan negeri, sanak saudara, dan rumah bapanya menuju negeri yang akan ditunjukkan-Nya. Perintah ini bukanlah sesuatu yang mudah. Namun Abram memilih untuk taat. Ketaatan Abram lahir dari iman kepada Allah yang memanggilnya. Allah berkata bahwa melalui dirinya semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat. Dengan kata lain, Abram dipilih bukan untuk menikmati berkat sendirian, melainkan menjadi saluran berkat bagi banyak orang.
Rasul Paulus dalam Roma 4:13-25 mengembangkan pemahaman ini lebih jauh. Paulus mengingatkan bahwa ketika Allah memberikan janji kepada Abraham, keadaan yang dihadapi sebenarnya sangat mustahil. Namun Abraham tetap berharap sekalipun tidak ada dasar untuk berharap. Dalam iman Abraham meyakini bahwa Allah berkuasa melakukan apa yang telah dijanjikan-Nya. Dari sini kita memahami bahwa iman selalu berkaitan dengan kesetiaan dan konsistensi. Iman bukan sekadar pengakuan di bibir, melainkan keteguhan hati untuk terus berjalan bersama Allah sekalipun keadaan belum berubah.
Bacaan Injil dari Matius 9:9-13, 18-26 memperlihatkan bagaimana Yesus mengundang manusia untuk ikut serta dalam karya keselamatan-Nya. Ketika Yesus memanggil Matius, seorang pemungut cukai, banyak orang memandang hal itu sebagai sesuatu yang tidak pantas. Yesus kemudian berkata, ―Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.‖ Pernyataan ini menegaskan bahwa misi Yesus adalah menghadirkan pemulihan bagi mereka yang membutuhkan kasih karunia Allah. Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk meneruskan misi tersebut. Kita berpartisipasi dalam karya keselamatan Allah ketika kita menghadirkan kasih, pengampunan, perhatian, dan keadilan bagi sesama.
Allah masih bekerja di dunia ini. Ia mengundang kita untuk tidak menjadi penonton, melainkan peserta aktif dalam karya keselamatan-Nya. Melalui iman yang diwujudkan dalam kesetiaan dan konsistensi, serta melalui pekerjaan baik yang dilakukan setiap hari, kita ikut menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah di tengah dunia.
Marilah kita merenungkannya:
- Apakah saya selama ini lebih banyak menikmati berkat Tuhan daripada terlibat dalam pekerjaan-Nya?
- Siapa orang di sekitar saya yang membutuhkan kasih, perhatian, atau pertolongan sebagai wujud karya keselamatan Allah?
- Langkah nyata apa yang akan saya lakukan minggu ini untuk menjadi saluran berkat bagi sesama?
Pdt. Windyarti Anggelina

