Ezra: Back To The Bible

Nehemia 8:1-13

Tokoh-tokoh dalam Alkitab menarik untuk dipelajari. Hari ini kita belajar tentang Ezra. Pada awalnya, kitab Ezra dan Nehemia merupakan satu kesatuan. Kedua kitab ini termasuk dalam kitab sejarah.

Ezra (artinya menolong) adalah imam keturunan Harun (Ezra 7:1-5). Dalam Ezra 7:6 disebutkan: “Ia adalah seorang ahli kitab, mahir dalam Taurat Musa yang diberikan TUHAN, Allah Israel. Raja memberi dia segala yang dimintanya, oleh karena tangan TUHAN, Allahnya, melindungi dia.”

Karya Ezra terkait dengan pemulangan umat Israel dari perbudakan Babel. Raja Kores di tahun 538 SM memerintahkan agar umat Israel dikembalikan ke tanah airnya. Perintah itu terjadi karena Tuhanlah yang menggerakkan hati Kores (Ezra 1:1). Kores namanya disebut oleh nabi Yesaya dengan gelar “yang Kuurapi” (Yes. 45:1) dan dipakai Allah menyelamatkan Israel (Yes. 45:13). Namun, Ezra tidak mengajak umat untuk menyembah atau memuliakan Kores. Bagi Ezra, peristiwa pembebasan itu harus disambut dengan pertobatan.

Ezra mengajak umat untuk tidak larut pada euforia pembangunan kembali bait Allah dan tembok kota Yerusalem. Di tengah pembangunan fisik bangunan yang tengah dikerjakan, Ezra mengajak umat untuk membangun hidup dan iman mereka.

Sebagai seorang ahli kitab, Ezra bukan hanya memiliki pengetahuan tentang Kitab Suci, lebih dari itu, ia tahu manfaat Kitab Suci dalam kehidupan umat. Karena itu, hal utama yang dilakukan Ezra adalah mengajak umat membaca Kitab Suci. Kitab Suci dibacakan, mulai “dari pagi sampai tengah hari” (Neh. 8:4). Membosankan? Tidak! Bahkan dicatat juga kalau mereka mendengarkan dengan penuh perhatian.

Kitab yang dibacakan berbahasa Ibrani. Sebagai orang yang telah hidup di negara asing selama kurang lebih 70 tahun, dikuatirkan para pendengar tidak mengerti. Itu sebabnya, dengan dibantu oleh banyak orang, pembacaan itu dijelaskan maknanya sehingga pendengarnya dapat mengerti (Neh. 8:9). Inilah yang menjadi asal muasal khotbah.

Mendengar Kitab Suci dibacakan dan dijelaskan umat terharu dan menangis (Neh. 8:10). Tangisan ini bisa dimaknai sebagai tanda pertobatan. Namun, bagi Ezra, sambutan atas firman Tuhan bukan hanya pertobatan tetapi juga sukacita. Itu sebabnya ia mengajak umat untuk berpesta (Neh. 8:11-12). Firman Tuhan dapat dibayangkan sebagai pisau yang membedah diri kita agar kita bertobat dan dimampukan untuk bersukacita.

Marilah Kita Renungkan:

  1. Seberapa sering Anda membaca Alkitab?
  2. Sejauh mana Alkitab menolong Anda sebagai penuntun dalam menjalani hari-hari Anda?
  3. Apa yang Anda lakukan ketika menemukan kesulitan dalam memahami ayat-ayat Alkitab?

Pdt. Addi Soselia Patriabara