Pengalaman kehilangan pernah saya rasakan. Seperti tertusuk rasanya. Pengalaman pertama saat saya kehilangan oma yang begitu saya cintai. Oma memang sakit. Namun, saya berharap Oma masih menemani perjalanan hidup saya. Saya masih bisa menyapanya. Oma masih bisa memandang dan membelai saya. Sungguh kepergian Oma menyesakkan hati saya.
Pengalaman kedua saat saya kehilangan teman saya. Datangnya tiba-tiba. Sungguh tak pernah terbayangkan. Terkejut dan sedih membalut hati saya. Teman baik saya punya hati yang begitu luas. Ia menyediakan bukan hanya telinganya tetapi dirinya untuk mendengarkan keluh dan curhat saya. Kami tertawa bersama sambil memburu kuliner viral di media sosial.
Kini, keduanya telah tiada. Tak hentinya saya menangis. Bahkan tak jarang air mata meleleh saat mengingat keduanya. Saya memahami air mata adalah bahasa kesedihan. Saya tidak mau menghindarinya, sekalipun kadang sesaknya terasa dalam dada.
Ketika saya merasa lelah dan rasanya tidak kuat lagi menjalani hidup kepada siapa saya harus bersandar? Tiada sosok yang menatap saya yang tengah curhat. Tiada sosok yang membuat saya mampu berdiri tegak. Namun, Tuhan sungguh baik. Tuhan tetap menghadirkan teman-teman baik. Teman-teman yang memberikan support, baik buat saya maupun keluarga. Bersama dengan teman-teman yang Tuhan kirimkan, saya merasakan tangan Tuhan membalut hati saya yang remuk.
Ada damai sejahtera yang melampaui segala akal yang Tuhan berikan melalui teman-teman saya.
Salah satu ayat yang memberikan kekuatan untuk saya adalah “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur” (Matius 5:4). Sungguh, betapa benarnya firman Tuhan. Saat dukacita datang, tak dibiarkannya saya berjalan sendirian. Tuhan datang memberikan kekuatan dan penghiburan melalui banyak cara.
Saya percaya bahwa kepergian Oma dan teman saya bukanlah akhir kehidupan mereka. Saya percaya mereka sedang “berpindah” menuju kehidupan yang lebih baik.Kehidupan yang tak lagi dipenuhi dengan air mata, kesakitan, dan penderitaan.
Firman Tuhan memberikan kepastian bahwa kelak akan ada kebangkitan orang mati.Kita semua akan bertemu kembali dalam persekutuan yang mulia bersama Tuhan. Perpisahan ini hanyalah sementara.Saya percaya kasih dan janji Tuhan adalah kekal. Inilah yang menjadi bekal saya menjalani kehidupan. Tuhan Yesus memberkati.
Sarah Yulianti

