Renungan GKI Kavling Polri Bergerak, Beradaptasi Bersama Roh Kudus

Bergerak, Beradaptasi Bersama Roh Kudus

Kis. 2:1-21; Mzm. 104:24-34, 35b; 1Kor. 12:3-13; Yoh. 20:19-23

Dua kisah turunnya Roh Kudus dalam bacaan hari ini menunjukkan bagaimana para murid berada dalam rumah. Rumah adalah tempat mereka merasa aman dan nyaman. Pertama, dalam Kisah Para Rasul, para murid tinggal di ruang atas sebuah rumah.

Disana mereka berdoa bersama (Kis. 1:13-14). Kedua, dalam Injil Yohanes, para murid tinggal dalam rumah dengan pintu terkunci karena takut (Yoh. 20:19). Perlu dicatat, karya Roh Kudus tidak hanya tercatat dalam Injil. Mazmur 104 juga mencatat karya Roh Kudus yang turun mencipta dan membarui muka bumi (Mzm. 104:30).

Latar belakang rumah menarik untuk dikulik. Rumah adalah safe zone dan comfort zone bagi banyak orang. Semua orang mencari rumah. Namun keadaan tinggal dalam rumah yang aman dan nyaman tidak berlangsung lama. Setelah Roh Kudus dikaruniakan, mereka justru diutus keluar dari rumah. Dalam Injil Yohanes, Yesus mengatakan. “Sama seperti Bapa mengurus Aku, sekarang Aku juga mengutus kamu” (Yoh. 20:21). Yesus diutus Bapa ke dalam dunia (Yoh. 3:16). Dunia tidak lagi harus dipandang dengan rasa takut, melainkan tempat kasih Allah seharusnya tercurah. Dunia adalah tujuan Allah.

Catatan Kisah Para Rasul juga senada. Dari rumah yang nyaman, yang membuat para murid dapat berdoa, mereka justru didorong oleh kuasa Roh Kudus untuk keluar. Berjumpa dengan orangorang dari berbagai tempat. Sebagai orang Galilea yang dianggap terbelakang, perjumpaan dengan orang asing dapat membuat mereka merasa kecil. Perasaan minder biasanya akan muncul. Namun, alih-alih minder para murid justru menyampaikan berita tentang perbuatanperbuatan besar yang dilakukan Allah dalam bahasa para pendengarnya (Kis. 2:8-11). Hal itu membuat para pendengar bingung dan menimbulkan banyak opini (Kis. 2:12-13).

Di tengah opini yang berkembang Petrus berdiri dan berkhotbah memberitakan tentang Yesus Kristus. Khotbah Petrus membuat hati para pendengarnya tersayat (Kis. 2:37). Dampaknya tiga ribu orang bertobat dan dibaptiskan (Kis. 2:41).

Kisah ini menarik untuk direnungkan oleh gereja saat ini. Sebab bukankah Pentakosta hari hadirnya gereja? Tanpa sadar gereja mengejar rasa aman dan nyaman belaka tanpa sadar akan tugas panggilannya. Gereja memang perlu menjadi tempat aman dan nyaman, rumah kedua istilahnya, namun untuk men-charge umatnya untuk dapat berkarya di tengah-tengah dunia.

Karena tujuan gereja adalah dunia, maka gereja perlu memahami dunia dengan segala perubahannya. Dunia bukan lawan atau musuh yang disikapi dengan antipati. Gereja perlu adaptif untuk perubahan, tidak hanya berpaut dengan masa lalu. Tentang gereja, Pdt. Eka Darmaputera pernah mengatakan, “Ada yang harus berubah dan terus berubah, tapi ada pula yang tidak boleh berubah. Yang tidak pernah boleh berubah itu adalah hakikat dan misi kita sebagai gereja.” Roh Kudus yang membawa para murid keluar dari rumah mengingatkan hakikat gereja untuk keluar dari kenyamanan dan kemapanannya untuk keluar dan berkarya di tengah-tengah dunia.

Marilah Kita Renungkan:

1. Apa yang Anda hayati setiap merayakan Pentakosta?

2. Pentakosta adalah hari lahirnya gereja. Gereja diingatkan pada tugas panggilannya.

Sudahnya gereja saat ini melakukan tugas panggilannya dengan baik?

3. Apakah Anda, sebagai bagian dari gereja, turut mendorong gereja untuk berkarya bagi dunia?

Pdt. Addi Soselia Patriabara