Yes. 55:1-5; Mzm. 145; Rm. 9:1-5; Mat. 14:13-21
Tentang Yesus sebagai sumber berkat, tentu kita semua sudah tahu. Bahkan sebagai pengikut-Nya, kita semua dan gereja Tuhan juga dipanggil untuk menjadi berkat bagi dunia.
Agar kita mampu menjadi berkat bagi dunia, kita perlu belajar kunci dari Yesus. Dari Yesus kita belajar, sebagaimana yang dinyatakan dalam Injil Matius dengan jelas, yaitu “tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka” (Mat. 14:14). Frase “tergeraklah hati-Nya” berulang kali muncul dalam Alkitab dan diletakkan dalam gerak pelayanan Yesus.
Apa itu belas kasih? Belas kasih dipahami oleh Karen Armstrong sebagai menanggungkan (sesuatu) bersama orang lain, atau menempatkan diri kita dalam posisi orang lain, untuk merasakan penderitaannya seolah-olah itu adalah penderitaan kita sendiri, dan secara murah hati masuk ke dalam sudut pandangnya.
Konteks cerita disebutkan Yesus “hendak mengasingkan diri Injil” (Mat. 14:13). Mengapa Yesus mengasingkan diri? Tentu ada banyak kemungkinan. Salah satu kemungkinan yang dapat dipertanggungjawabkan adalah Yesus ingin beristirahat. Namun rasa lelah tidak mampu menghalangi karya Yesus bagi orang banyak.
Belas kasih membuat karya kasih kepada sesama tidak dapat dibatasi oleh keadaan seperti apapun. Agaknya inilah yang menjadi catatan bagi orang Kristen dan gereja Tuhan di masa kini. Ada banyak orang Kristen dan gereja Tuhan yang kehilangan belas kasih dan hidup untuk dirinya sendiri.
Dunia masa kini membuat manusia dibenamkan dalam semangat memiliki semua. Semangat itu juga merasuk dalam kehidupan persekutuan Kristen. Bahkan keserakahan seakan menjadi nilai yang lumrah bagi semua manusia. Adalah wajar kalau semua menginginkan semua hal yang ditawarkan dunia. Inilah awal berpudarnya belas kasih dalam hidup manusia.
Keserakahan dipahami Joas Adiprasetya mengimplikasikan peleburan kebutuhan dan keinginan, menghilangkan pentingnya dependensi kita dari Sang Pemelihara, dan berkolaborasi dengan pementingan diri sendiri sehingga mengorbankan orang lain.
Memiliki hati yang penuh belas kasih diajarkan Yesus justru untuk mengajak manusia keluar dari lembah keserakahan yang menjadikan dirinya sebagai serigala bagi sesamanya (homo homini lupus). Lingkaran yang membawa manusia dalam kegelisahan dan ketidakbahagiaan ini justru hendak diputus oleh Yesus. Hidup dalam semangat berbagi adalah jalan keluarnya. Berbagi membuat kita sadar ada orang lain yang perlu mendapatkan dukungan dari kita. Berbagi membuat kita sadar bersandar pada Tuhan sumber berkat adalah kunci kemampuan memiliki belas kasih.
(Pdt. Addi Soselia Patriabara)

