Di suatu siang hari, saat tengah beristirahat, jari-jari saya sibuk scrolling Feed IG. Tiba-tiba pandangan dan jari saya terhenti pada postingan IG dari seorang Oma. Saya mengenalnya dan karena itu tertarik membacanya. Di postingan itu, Oma menyatakan kesaksiannya.
Suatu hari, begitu tulis Oma, ia menyadari ada sebuah benjolan kecil di sudut hidungnya. Kuatir terjadi apa-apa Oma pergi ke dokter untuk memeriksakan benjolan tersebut. Oleh dokter diambillah sedikit jaringan dari benjolan tersebut. Jaringan itu akan diobservasi, begitu kata dokter.
Minggu depan Oma datang dengan kekhawatiran. Ia berdoa, “Ya Tuhan, semoga itu bukan kanker.” Tetapi betapa kecewanya Oma karena hasilnya belum keluar. Ada apa gerangan? Oma pulang dalam tanya dan doa, “Ya Tuhan, tolonglah, supaya hasilnya bukan kanker.”
Seminggu berlalu dan Oma kembali ke dokter. Oma kembali kecewa, karena lagi-lagi hasilnya belum keluar. Oma makin bertanya-tanya. Oma pulang dengan doa. Namun kali ini doanya berubah. Kata Oma dalam doanya, “Ya Tuhan, apa pun hasil dari observasi tersebut, aku terima dengan hati yang penuh syukur.”
Seminggu kemudian Oma datang lagi. Kali ini dokter sendiri yang membukakan pintu kamar praktik dan mempersilakan Oma duduk. Sempat terbersit di hati Oma untuk menerima kabar buruk. Di tengah pikiran yang berkecamuk, Oma teringat firman Tuhan dalam 1 Tesalonika 5:18 yang mengingatkannya untuk mengucap syukur dalam segala hal. Apa pun hasilnya aku mau belajar bersyukur, begitu doa Oma.
Dokter menyampaikan hasil observasi. Kekhawatiran Oma benar. Ia didiagnosis dokter terkena kanker. Sekalipun telah siap, Oma tetap terkejut. Dalam kesedihan dan kegundahannya Oma tetap ingat bahwa Tuhan Yesus yang dia percayai dan dia pegang janjinya tidak akan pernah meninggalkannya. Oma terus berdoa dan belajar mengucap syukur atas kondisinya serta dukungan orang-orang di sekitarnya.
Dalam persiapan ke luar negeri untuk berobat, Oma memerhatikan benjolan di ujung hidungnya makin mengecil. Dan, puji Tuhan, tepat sesaat sebelum berangkat ke luar negeri benjolannya hilang. Puji Tuhan!! Allah Maha Besar!! Dia sanggup melakukan segala perkara, yang melebihi akal pikiran manusia.
Kisah Oma menyadarkan bahwa sering kita juga mendoakan apa yang baik-baik dan indah-indah dalam hidup kita. Sering kita lupa berdoa untuk diberikan kemampuan menerima apa pun yang terjadi. Oma memang pada awalnya berdoa meminta hasil observasi, sesuai dengan keinginannya. Namun, pada akhirnya Oma mengubah doanya agar diberikan kemampuan untuk menerima apa pun hasil diagnosa dokter. Justru di saat itulah kebaikan Tuhan hadir dalam kita hidup.
Kadang kita juga lupa mengucap syukur. Apalagi Ketika berada dalam keadaan terpuruk jatuh, sedih, kecewa, dan penderitaan yang lain. Padahal di saat bersyukur kita akan melihat bagaimana Tuhan bekerja. Tuhan ingin agar kita selalu berserah dan bersyukur kepada-Nya. Kesaksian Oma membuat kita belajar mengingat firman Tuhan dalam 1 Tesalonika 5:18 yang berbunyi, “Ucapkanlah syukur dalam segala hal. Sebab, itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”
(Pnt. Sisilia)

