Efesus 3:14-21
Pernahkah ada menganggukan kepala saat doa syafaat di sebuah persekutuan atau di sebuah ibadah? Sebuah joke mengenai doa syafaat mengatakan bahwa ada beberapa jemaat menganggukan kepala saat doa syafaat bukan tanda bahwa mereka setuju aka nisi doa tersebut, tapi tanda bahwa ia sedang tertidur lalu terjaga, tertidur lagi lalu terjaga. Memang, perlu diakui bahwa durasi doa syafaat cukup panjang dibandingkan doa lainnya dalam ibadah. Dalam doa syafaat kita mendoakan orang lain sampai pada dunia dengan segala pergumulannya.
Namun, jika kita melihat makna dalam doa syafaat, kita akan mengerti bahwa doa syafaat adalah salah satu wujud nyata kasih kepada sesama. Melalui doa syafaat, jemaat diajak keluar dari lingkaran kepentingan pribadi untuk mengingat dan membawa pergumulan orang lain di hadapan Tuhan. Kita mendoakan gereja, bangsa, para pemimpin, orang-orang yang sakit, mereka yang berduka, para pelayan, keluarga, bahkan mereka yang sedang mengalami berbagai kesulitan hidup. Inilah yang dilakukan oleh Rasul Paulus. Dalam Efesus 3:14–21, Paulus tidak sedang berdoa untuk dirinya sendiri, melainkan untuk jemaat di Efesus agar mereka semakin kuat dalam iman, semakin mengenal kasih Kristus, dan dipenuhi oleh seluruh kepenuhan Allah.
Inilah makna doa syafaat yang sesungguhnya: membawa kebutuhan orang lain kepada Allah, bukan sekadar menyampaikan daftar keinginan pribadi. Sering kali doa-doa kita dipenuhi dengan permohonan untuk diri sendiri: kesehatan, pekerjaan, studi, keluarga, atau berbagai kebutuhan pribadi. Semua itu memang penting dan Tuhan mengundang kita untuk menyampaikannya kepada-Nya. Namun, kehidupan doa seorang murid Kristus tidak berhenti pada dirinya sendiri. Ketika kita belajar mendoakan orang lain, hati kita sedang dibentuk menjadi serupa dengan hati Kristus yang selalu memperhatikan sesama. Doa syafaat mengajarkan bahwa kita adalah satu tubuh di dalam Kristus. Ketika satu anggota menderita, seluruh tubuh ikut merasakannya. Ketika satu orang membutuhkan kekuatan, kita dipanggil untuk menopangnya melalui doa. Bahkan ketika kita tidak mampu hadir secara langsung untuk menolong seseorang, kita tetap dapat hadir melalui doa. Karena itu, doa syafaat bukanlah formalitas liturgi, melainkan pelayanan kasih yang nyata. Melalui doa, kita percaya Allah bekerja, menghibur, menguatkan, memulihkan, dan memimpin setiap orang sesuai dengan kehendak-Nya.
Karena itu, marilah kita membangun kebiasaan untuk tidak hanya berdoa bagi diri sendiri, tetapi juga bagi keluarga, sahabat, gereja, bangsa, dan siapa pun yang sedang membutuhkan pertolongan Tuhan. Jadikanlah doa syafaat dalam setiap ibadah sebagai pengingat bahwa kita dipanggil menjadi komunitas yang saling menopang dalam doa. Seperti Paulus yang berlutut bagi jemaat, demikian pula hendaknya kita menjadi pribadi-pribadi yang setia membawa orang lain ke hadapan Allah. Sebab ketika kita berdoa bagi sesama, kita sedang mengambil bagian dalam karya kasih Allah yang memulihkan dunia dan memuliakan nama-Nya.
Marilah kita merenungkannya:
- Pernahkah saya merasakan kekuatan atau penghiburan karena ada orang lain yang mendoakan saya? Bagaimana pengalaman itu mendorong saya untuk menjadi pendoa bagi sesama?
- Bagaimana saya selama ini memandang doa syafaat dalam ibadah? Apakah saya mengikutinya dengan sungguh-sungguh sebagai bentuk pelayanan kasih, atau hanya mendengarkannya sebagai bagian dari liturgi?
Pdt. Windyarti Anggelina

