black and white train station with platform view

Refleksi Kehidupan – Agustus

Aku mengenang peristiwa yang terjadi sekitar sepuluh tahun yang lalu. Di saat itu aku masih aktif siaran.

Hari itu cuaca sangat cerah. Sambil bernyanyi kecil, mengikuti lagu yang mengudara, kurapikan kembali meja siaran. Setelah tugasku sebagai penyiar pagi ini selesai. Radio terus berkumandang, penyiar selanjutnya yang akan berdinas. Hatiku diliputi kepuasan karena topik siaran pagi ini direspons baik oleh banyak pendengar.

Dalam kegembiraan aku melangkah keluar studio. Oops…, aku kaget dan mundur selangkah.

Matahari di luar sangat terik dan terasa menyengat kulitku. Apalagi aku baru keluar studio yang suhunya amat dingin, yang memang menjadi standart ruangan siaran yang berfungsi untuk merawat alat siaran.

Aku terhenti sejenak dan menimbang-nimbang transportasi apa yang akan kugunakan untuk pulang. Aku punya pilihan, Transjakarta atau KRL. “Tenabang…, Tenabang…!!” teriakan Supir angkot membuatku terkejut. Secara refleks aku membuatku keputusan cepat.

“Lewat stasiun, Pak ?” tanyaku sambil melompat ke dalam mobil angkot yang juga lumayan panas. “Iya…ayo… Tenabang… Tenabang.” teriaknya yang menambah panas siang itu.

“Ah, sudahlah. Toh nanti di kereta suhunya sejuk,” ucapku dalam hati menghibur diri.

KRL saat itu sudah jauh lebih baik. “Semoga AC-nya dalam kondisi baik,” harapku.

Sesampai di Stasiun Tanah Abang kulihat penumpang kereta belum banyak yang menunggu di peron karena memang belum jam pulang kantor. Bergegas aku menyusuri peron untuk mendapatkan posisi tempat menunggu yang pas saat pintu kereta terbuka nanti.

“Wah, masih 20 menit lagi kereta tiba,” keluhku saat melihat jadwal tiba kereta pada layar monitor di atas peron. Akhirnya aku duduk untuk menunggu.

Di bangku sebelah tampak sekelompok anak-anak SD baru pulang sekolah. Usia mereka sekitar 10-12 tahun atau kelas 5-6. Baju seragam yang mereka kenakan tampak kotor. Wajah mereka tampak berkeringat. “Pasti mereka bau matahari,” celaku dalam hati. Mereka bercanda riang, berebut tempat duduk dan bercerita tentang serunya kegiatan di sekolah hari ini.

Satu persatu mereka berpencar saat kereta tujuannya datang. Tinggal seorang anak lakilaki berambut ikal dengan wajah manis khas Indonesia timur. Tasnya besar melebihi lebar punggungnya. Aku tertarik memperhatikannya dengan diam-diam. Dia mengeluarkan sebuah kotak plastik dari dalam tasnya. Tampak seperti bekal yang dibawanya dari rumah. “Anak yang baik,” gumamku.

Lalu dibukanya kotak itu dan terlihat sebutir telur rebus di tengah nasi yang lumayan banyak untuk ukuran anak seusianya. Aku sedikit terkejut… “Oh… Cuma telur rebus… Tidak ada lauk lain…” Aku membayangkan betapa nikmatnya jika ada buah yang terasa segar dinikmati di siang yang panas saat itu.

Kulihat anak itu makan dengan lahap. Dimulai dari nasi yang disantap sampai habis, baru kemudian telur rebus dikunyahnya perlahan, sambil sesekali menengok ke arah kereta yang belum datang. Keringatnya menetes. Matanya berbinar. Raut gembira dan puas tampak di wajahnya.

Melihat situasi itu hatiku tersentak dan mataku terasa mulai panas berkaca-kaca. Baru saja kebanggaan diri menguasaiku atas siaran pagi ini tentang “Gaya Hidup Cukup.” Siaran yang direspons oleh banyak pendengar dengan opini-opini idealnya, yang belum tentu mampu mereka dijalani dalam kehidupan. Tapi, saat ini aku diperhadapkan dengan sebuah contoh nyata yang sesungguhnya dari gaya hidup cukup. Seorang anak yang tidak punya banyak, tapi punya rasa cukup. Dia tidak punya banyak pilihan menu, tapi punya banyak syukur.

Kereta pun tiba dan aku memilih duduk di sebelahnya. “Mau turun di mana, nak ?” tanyaku membuka percakapan. “Duri, Bu,” jawabnya sopan. “Bekalnya tadi enak ya?” tanyaku lagi.

Dengan tersenyum dia mengangguk, “Enak, Bu. Mama yang masak.”

Tenggorokanku seperti tercekat. Aku berdoa dalam hati, “Ampuni aku Tuhan yang sering merasa kurang padahal engkau sudah memberi lebih dari cukup.”

Dalam menjalani hidup ini kita sering mengejar memiliki lebih banyak sampai lupa mensyukuri dan merasa cukup. Hari itu aku belajar cara Tuhan menegur kita. Tuhan bisa menggunakan cara apa pun, karena hikmat bisa datang dari siapa saja. Bisa datang dari orang yang lebih kecil, lebih miskin, atau lebih muda dari kita. Juga lewat seorang anak kecil yang hanya memiliki nasi dan telur rebus di Peron Stasiun Tanah Abang. Peristiwa itu membuka mataku untuk selalu mengucap syukur untuk apa pun yang Tuhan beri.

Sampai di Stasiun Duri, anak itu pamit sambil berlari kecil keluar stasiun. Aku pindah jalur ke peron arah Tangerang. Hari itu aku pulang bukan hanya membawa tugas siaran yang selesai, tapi juga membawa pelajaran berharga dari Tuhan. Semoga sebutir telur itu boleh mengingatkan kita untuk selalu hidup dengan hati yang bersyukur setiap hari.

(Pnt. Diar Korompis)