a priest handing a bible to a person

Kasih melalui Pemberian dan Pelayanan

1 Tesalonika 1 : 1 – 10

Di dalam kehidupan berkeluarga dan berjemaat, kasih menjadi satu fondasi yang mendasar bagaimana keluarga dibangun dan bagaimana persekutuan ditumbuhkan. Namun, kasih tidak dapat dirasakan apabila tidak diungkapkan, diwujudkan dan disampaikan secara nyata. Dengan demikian, kasih seharusnya menjadi sesuatu yang dirasakan bukan pada momen-momen tertentu, melainkan pada kehidupan sehari-hari.

Hal ini mengingatkan kita pada kehidupan jemaat Tesalonika. Rasul Paulus yang bersama dengan rekan-rekannya mengingat bahwa Allah yang terlebih dahulu memilih dan mengasihi jemaat Tesalonika (ayat 4). Yang menarik adalah ketika kasih itu dapat direspon dan kemudian dihidupi di dalam keseharian jemaat. Kehidupan jemaat Tesalonika menunjukkan bahwa kasih dari Allah yang dihidupi dapat memberikan pengaruh dan menjadi teladan bagi orang lain.

Teladan jemaat Tesalonika inilah yang hadir sebagai contoh dalam kehidupan kita bersama dengan keluarga untuk menghidupi kasih. Dalam rangkaian Bulan Keluarga ini, kita belajar memahami bahasa kasih tiap anggota keluarga berdasarkan teori bahasa kasih yang digagas oleh Gary Chapman. Minggu lalu, kita bersama belajar mengenai kasih yang hadir melalui kehadiran (quality time), kata (words of affirmation), dan sentuhan (physical touch). Minggu ini, kita bersama belajar mengenai kasih yang hadir melalui pemberian (receiving gifts) dan pelayanan (acts of service) dalam kerangka pembacaan Surat Tesalonika.

Pemberian adalah model bahasa kasih yang disalurkan melalui satu pemberian berupa hadiah. Hadiah tidak perlu yang besar atau mahal, namun yang menjadi simbol bahwa, “aku memberikan hadiah ini karena aku teringat olehmu.” Bahkan, hadiah juga tidak hanya berupa barang, namun hadiah berupa kehadiran di tengah kondisi krisis. Allah memberikan kasih kepada jemaat Tesalonika (ay. 4) dan jemaat Tesalonika merespon dengan menerima Firman Tuhan dengan sukacita yang dikerjakan Roh Kudus (ay. 6).

Pelayanan adalah model bahasa kasih yang disampaikan melalui tindakan yang mau untuk membantu, meringankan beban dan melayani. Kasih Allah yang diterima Jemaat di Tesalonika itu kemudian tidak hanya disimpan saja, melainkan melalui perbuatan mereka menunjukkan kasih itu dengan menjadi teladan bagi semua orang yang percaya (ay. 7). Tidak hanya itu, jemaat Tesalonika juga menyambut Paulus dan rekan-rekannya, berbalik dari berhala, dan melayani Allah (ay. 9).

Marilah kita renungkan:

  1. Setelah memahami kelima bahasa kasih, apa yang selama ini belum dilakukan, namun hendak anda lakukan dan wujudkan sebagai bentuk kasih kepada anggota keluarga anda?
  2. Melalui pembahasan 5 bahasa kasih ini, apakah anda sudah menemukan bahasa kasih anda dan anggota keluarga anda?

(Sdri. Nethania Ranitta Adventie)