1 Tesalonika 2 : 1 – 8
Dalam bulan keluarga ini, kita telah belajar beberapa model bahasa kasih yang diperkenalkan oleh Gary Chapman. Untuk mengingatkan berikut rangkumannya.
Pertama, waktu berkualitas (quality time). Orang dengan bahasa kasih waktu berkualitas ingin dirinya fokus perhatian yang tak terbagi. Mereka menyenangi waktu bersama-sama. Dalam berelasi dengan orang berbahasa kasih ini dibutuhkan keterampilan komunikasi verbal seperti kontak mata, bahasa tubuh, pertanyaan umpan balik untuk menunjukkan dialah yang menjadi fokus kita.
Kedua, tindakan pelayanan (act of service). Orang dengan bahasa kasih tindakan pelayanan membutuhkan aksi nyata yang menunjukkan bahwa dirinya dikasihi. Contohnya: membantu membawakan barang, merapikan tempat tidur, membersihkan meja makan, dan sejenisnya. Pada orang berbahasa kasih ini waktu (timing) adalah hal penting.
Ketiga, sentuhan fisik (physical touch). Orang dengan bahasa kasih ini membutuhkan sentuhan fisik dari orang yang mengasihinya. Bagi mereka, sentuhan fisik seperti rangkulan, elusan kepala, memegang tangan adalah bentuk kasih sayang. Saat melakukannya dibutuhkan saat yang tepat, tempat yang tepat, dan dengan cara yang tepat.
Keempat, hadiah (receiving gifts). Orang dengan bahasa kasih hadiah membutuhkan simbol rasa sayang kita melalui pemberian atau hadiah. Hadiah tak melalu soal harga, tetapi kejutan ringan yang disampaikan kepada orang yang kita kasihi.
Kelima, kata-kata yang penguatan (words of affirmation). Orang dengan bahasa kasih kata-kata penguatan membutuhkan bentuk rasa sayang melalui kata-kata yang berisi pujian, apresiasi, atau kata-kata motivasi. Ada 3 pokok penting saat menyampaikan kata-kata penegasan kasih kita kepada orang yang kita kasihi: disampaikan dengan ketulusan, pujian ditujukan pada hal-hal yang spesifik, dan yang diapresiasi upaya atau prosesnya, bukan sekadar hasilnya.
Bahasa kasih ini perlu dikenali dan dihidupi dalam keseharian hidup berkeluarga. Percakapan tentang bahasa kasih ini perlu terus dilakukan, agar kehidupan keluarga dipenuhi taburan kasih. Untuk menghidupnya dibutuhkan perjuangan mengalahkan egoisme atau kepentingan diri. Inilah yang dikatakan Paulus, “kami tidak mencari pujian dari manusia” (1Tes. 2:6). Motivasi melakukan tindakan bukan untuk dipuji melainkan menghadirkan Allah yang penuh kasih.
Dalam rangka relasi kasih itu, Paulus memberikan nasihat, “Tetapi, kami berlaku ramah di antara kamu, sama seorang ibu mengasuh dan merawat anaknya” (1Tes. 2:7). Kata “ramah” memiliki nuansa kelembutan, kerendahan hati, dan kepekaan yang tinggi. Hal itu sangat dibutuhkan dalam kehidupan keluarga. Kata “sama seperti seorang ibu” menggambarkan seorang ibu yang baik yang tidak pernah menceritakan deritanya agar anaknya membalas kebaikannya. Demikian juga cinta kasih. Kita melakukan tindakan cinta kasih bukan dengan harapan pasangan kita atau anak-anak kita membalasnya. Kita mencintai karena Tuhan telah terlebih dahulu mencintai diri kita.
Marilah Kita Renungkan:
- Apa bahasa cinta yang dominan dalam diri Anda? Ceritakan itu di tengah keluarga!
- Buatlah kesepakatan bagaimana menghidupi kasih di tengah keluarga.
(Pdt. Addi Soselia Patriabara)

