open bible showing text from book of numbers

Maleakhi: Sikap Terhadap Persembahan

(Maleakhi 3:6-12)

Maleakhi (artinya harfiahnya utusanku) banyak disepakati oleh pakar biblika sebagai nabi  terakhir dalam Perjanjian Lama. Diperkirakan berkarya sekitar pertengahan abad ke-6 SM setelah pembuangan Babel, sekitar 50an tahun setelah penyelesaian pembangunan kembali Bait Suci (515 SM).  

Namun, alih-alih hidup dalam syukur kepada Allah karena pembebasan dari perbudakan dan berhasil membangun Bait Suci, umat Israel justru hidup dalam ketidaktaatan kepada Allah. Pada bagian itulah berita nabi Maleakhi disampaikan. Ada enam nubuat atau  peringatan yang disampaikan Maleakhi, yaitu:

  1. Nubuat atau peringatan tentang kasih Allah kepada umat Israel (1:2-5)
  2. Nubuat atau peringatan tentang dosa para pemimpin umat, khusus imam (1:5 – 2:9)
  3. Nubuat atau peringatan tentang dosa umat (2:10-16)
  4. Nubuat atau peringatan tentang keadilan Allah (2:17 – 3:5)
  5. Nubuat atau peringatan tentang pelanggaran ritual (3:6-12)
  6. Nubuat atau peringatan tentang hamba-hamba Tuhan (3:13-4:3)

Salah satu persoalan utama adalah kehidupan ibadah yang dijalankan umat Israel sebagai  rutinitas belaka. Hal itu dinyatakan melalui ungkapan, “Jika Aku ini bapak, di manakah rasa  hormat kepada-Ku?” (1:6). Tegasnya, mereka beribadah kepada Tuhan namun tidak  menghormati Tuhan. Bahkan mereka menghina nama Tuhan yang ditandai dengan membawa roti yang cemar (1:7) dan membawa binatang kurban yang tidak layak (1:8 dst.). Jadi, Maleakhi mengingatkan agar umat Israel kembali kepada perjanjian dan ketetapan  Allah. Salah satunya terkait dengan persembahan. 

Banyak orang memahami kitab Maleakhi hanya terkait dengan persembahan persepuluhan. Padahal persepuluhan hanya satu cara umat melakukan persembahan.  Ayat yang sangat terkenal adalah Maleakhi 3:10, “Bawalah seluruh persepuluhan itu ke  dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku. Ujilah Aku, firman TUHAN Semesta Alam, apakah Aku tidak akan membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.” Pernyataan Allah itu menyiratkan kepedihan hati, bahkan kemarahan Allah. Allah mengingatkan bahwa yang Ia tuntut dari manusia sebenarnya adalah ketaatan yang diwujudkan dalam bentuk pemberlakuan hukum dan peraturan. Tetapi umat Israel melanggarnya. Itulah sebabnya, dengan nada perih dan terluka Allah “menantang” Israel untuk membuktikan kasih setia Allah kembali. Kalau saja umat Israel setia dalam perkara yang kecil, seperti memberikan persepuluhan, maka kebaikan Allah akan dirasakan umat melampaui kebutuhannya. 

Pada bagian inilah umat Allah di masa kini perlu melihat ulang hidupnya. Sejujurnya banyak orang di masa kini yang datang kepada Tuhan bukan dengan ketulusan hati yang sungguh-sungguh ditujukan kepada Allah. Banyak orang datang untuk mengamati, menjadi penonton dalam ibadah, tanpa rasa hormat kepada Allah. Persembahan pun dilakukan seolah-olah para pemberi persembahan berposisi lebih tinggi, hingga rasa hormat kepada Tuhan pemberi berkat meredup. Jika hal ini benar, saatnya kita kembali ke jalan yang Tuhan kehendaki.  

Marilah Kita Renungkan:

  1. Persiapan apakah yang Anda lakukan sebelum beribadah? Apakah persiapan itu mencerminkan rasa hormat dan cinta kepada Allah? 
  2. Apakah tindakan, kata-kata, dan pemikiran Anda di ruang ibadah telah mencerminkan rasa hormat dan cinta kepada Allah?
  3. Apa yang Anda pelajari dari kitab Malekhi terkait dengan kehidupan peribadahan Anda? 

 (Pdt. Addi Soselia Patriabara)