Kejadian 45 : 1-15, Maz 133, Roma 11 :1-2a, 29-32, Matius 15 : 21-28
Topik pembahasan mengenai toleransi adalah topik yang sudah sangat sering digaungkan di tengah kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Kendati demikian, menjelang peringatan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81, rupanya topik ini masih perlu untuk dibahas dan diingatkan kembali. Karena pada realitanya, kehidupan dalam berbangsa dan bernegara masih seringkali diwarnai dengan peristiwa diskriminasi dan intoleransi antar kelompok yang memiliki perbedaan latar belakang, baik agama dan kepercayaan, suku, ras maupun antar golongan. Kesadaran terhadap adanya keberagaman di dalam kehidupan bermasyarakat memang sudah ada, namun yang kini perlu disadari bersama adalah sikap seperti apa yang tepat dalam kehidupan kita di tengah keberagaman?
Kisah Yesus dan Perempuan Kanaan memberikan satu model dalam membangun relasi di tengah batasan latar belakang yang berbeda di antara keduanya. Meskipun Yesus sudah menegaskan bahwa misi pelayananNya adalah kepada domba yang hilang di Israel, perempuan Kanaan tersebut tetap menunjukkan imannya yang besar dan berani secara langsung kepada Yesus. Keterbukaan dialog di antara Yesus dan perempuan Kanaan menjadi teladan bahwa keberagaman dalam kehidupan tidak akan pernah bisa dihindari. Keduanya memiliki kemauan untuk berinteraksi secara terbuka untuk saling memperkaya satu sama lain. Hingga pada akhirnya Yesus menunjukkan kasih melalui penyembuhan bagi anak perempuan dari seorang perempuan Kanaan yang beriman besar.
Indonesia dengan berbagai macam latar belakang suku, bahasa, agama, dan lain sebagainya, membawa kita kepada kesadaran akan adanya perbedaan di antara setiap masyarakat. Namun, sebagaimana pemazmur mengatakan, alangkah baiknya dan indahnya apabila saudara diam bersama dengan rukun. Kesadaran akan perbedaan menjadi awal dari kemauan kita untuk membuka diri terhadap dialog bersama untuk saling memahami meskipun ada perbedaan. Dialog yang terbuka menghadirkan pengalaman beriman yang akan saling menolong dan saling memperkaya satu sama lain.
Bacaan pada minggu ini mencoba mengingatkan kita mengenai sikap yang kita ambil dalam menjalani kehidupan di tengah keberagaman. Membuka diri untuk berdialog akan membantu dalam membangun relasi yang saling menghargai dan saling memperkaya. Hingga pada akhirnya, ketika dialog sudah terbangun dan kehidupan bertoleransi kini tidak sebatas hanya saling menghargai jalannya masing-masing, melainkan saling berhubungan dengan penuh.
Mari kita merenungkan:
- Bagaimanakah sikap saya selama ini terhadap orang yang saya anggap memiliki perbedaan dengan saya?
- Apakah selama ini saya sudah memiliki kesadaran akan perbedaan dan terbuka untuk berdialog bersama sesama saya?
(Sdri. Nethania Ranetta Adventie)

