Kej. 22:1-14; Mzm. 13; Rm. 6:12-23; Mat. 10:40-42
Ada beberapa catatan Alkitab tentang ritus yang mengurbankan manusia. Beberapa di antaranya: Yosua 6:26, 1 Raja-raja 16:34, Hakim-hakim 11:30-31, dan Yehezkiel 20:25-26. Catatan itu menunjukkan mengurbankan manusia, termasuk anak sulung, adalah ritual yang biasa dilakukan dalam tradisi Timur Tengah kuno. Hal inilah yang membuat kisah tentang pengurbanan Ishak tidak terlalu mengejutkan pembacanya. Melihat konteks itu, E.G. Singgih – teolog dan pakar Perjanjian Lama– menyatakan bahwa kisah pengurbanan Ishak dapat dilihat sebagai kritik atas praktik pengurbanan manusia saat itu. Bahkan, Singgih menegaskan bahwa cerita ini dapat disebut sebagai dekonstruksi atas praktik tersebut.
Sekarang mari kita lihat cerita pengurbanan Ishak. Cerita dimulai dengan informasi bahwa apa yang terjadi adalah sebuah ujian dari Allah kepada Abraham (Kej. 22:1). Jadi pembaca sudah tahu, ini adalah sebuah ujian. Sekalipun sudah mengetahui, pembaca cerita akan tetap mengalami ketegangan, khususnya pada bagian pertanyaan Ishak, “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di mana anak domba untuk kurban bakaran?” (Kej. 22:7b). Jawaban Abraham menunjukkan imannya, “Allah akan menyediakan anak domba untuk kurban bakaran bagiNya, anakku” (Kej. 22:8). Kalimat “Allah akan menyediakan” memberikan pemahaman baru tentang hakikat Allah. Inilah yang kemudian tertuang dalam sebutan nama Allah, yaitu Yahweh Jireh yang berarti Tuhan telah menyediakan.
Adegan diceritakan berlangsung dan tampaknya lebih mencekam. Abraham mendirikan mezbah, menyusun kayu, mengikat Ishak anaknya, dan menghunus pisau untuk menyembelih kurban. Siapa kurbannya? Di saat pembaca menahan napas, tiba-tiba terdengar suara Malaikat Tuhan, “Jangan bunuh anak itu dan jangan lakukan apa-apa kepadanya, sebab sekarang telah Kuketahui bahwa engkau takut akan Allah dan tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang satu-satunya itu kepada-Ku” (Kej. 22:12). Ah, melegakan. Iman Abraham teruji. Namun, bukan hanya iman Abraham, melainkan juga iman Ishak. Keduanya tunduk kepada Allah sepenuhnya. Namun, itu dilakukan dalam kehati-hatian. Abraham tidak menjawab pertanyaan Ishak misalnya dengan mengatakan, “Tidak tahu, aku juga bingung dengan perintah Tuhan. Ya sudah ikut saja.” Abraham menaruh harapan dalam logika kemanusiaannya bahwa Tuhan akan menyediakan kurban bakaran sebagai persembahan. Begitu juga pertanyaan Ishak yang berangkat dari logikanya. Namun itu semua luluh dan tunduk pada kehendak Tuhan.
Abraham tidak berfokus pada Ishak, hadiah yang telah dinanti bertahun-tahun lamanya. Abraham berfokus pada Sang Pemberi Hadiah, Tuhan itu sendiri. Karena berfokus pada Tuhan, Abraham tunduk menghamba pada Tuhan. Karena pada hakikatnya memang tidak ada kebebasan. Yang ada adalah berpindah tuan. Seperti yang Paulus katakan, “Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran” (Rm 6:18).
Dari Abraham kita belajar iman sejatinya teruji melalui tindakan. Tindakan Abraham menunjukkan ia layak disebut bapa orang beriman. Di sini kita menemukan mengapa tindakan menyambut orang lain pun disebut dalam Injil Matius. Tindakan sederhana itu adalah bentuk iman. Karena keberadaan sesama manusia adalah representasi keberadaan Tuhan sendiri.
Marilah Kita Renungkan:
- Apa yang dapat Anda pelajari dari ketaatan Abraham?
- Apa yang bisa membuktikan kualitas iman seseorang?
Pdt. Addi Soselia Patriabara

