Kisah Para Rasul 1:6-14; Mazmur 68:1-10, 32-35; 1 Petrus 4:14, 5:6-11; Yohanes 17:1-11
Memulai langkah awal tentu bukanlah hal yang mudah, karena itu semua memaksa kita untuk meninggalkan kenyamanan dan tempat perhentian yang selama ini kita hidupi. Namun, apakah yang lebih susah dari memulai langkah awal? Konsistensi dan ketekunan. Memulai langkah awal walaupun berat namun sering kali diiringi dengan semangat dan antusiasme yang tinggi, namun setelahnya konsistensi menjadi lebih sulit. Menyerah di tengah jalan, tidak melanjutkan perjalanan atau kembali ke titik awal sering kali menjadi pilihan yang diambil ketika perjalanan mulai terasa sulit dan penuh tantangan.
Minggu Paskah ke-7 berada dalam peristiwa antara kenaikan Yesus ke sorga dengan peristiwa turunnya Roh Kudus. Hal ini mengingatkan kita akan kesinambungan era baru pelayanan yang dilakukan oleh para murid. Setelah Yesus naik, para murid kembali ke Yerusalem sesuai pesan Yesus. Di Yerusalem, mereka berdoa. Mereka percaya pada janji Yesus, bahwa Roh Kudus akan dicurahkan dan mereka menantikannya dengan tekun. Dari tindakan para murid, kita belajar bahwa sejak awal para murid percaya dan mengandalkan kuasa Roh Kudus. Mereka menyediakan sarana yang baik untuk Roh Kudus bekerja, yakni dengan jalan bersekutu, sehati-sepikir, berdoa, dan tekun dalam penantian. Inilah benih awal dari pertumbuhan sebuah gereja.
Jika kita melihat pada Injil, kita akan melihat bahwa Yesus tidak hanya mengajarkan para murid untuk berdoa tetapi Yesus juga berdoa. Dalam setiap pelayanan-Nya, Ia akan mengambil waktu dan tempat khusus untuk bersekutu dengan Bapa-Nya; Persekutuan itu sangat karib, sehingga menyatu. Yesus merasakan bagaimana indahnya Persekutuan atau relasi diri-Nya dengan Sang Bapa. Ia rindu agar apa yang terjadi selama ini dengan Sang Bapa dapat juga dialami oleh para murid-Nya. Yesus merindukan agar persekutuan-Nya dengan Bapa dapat mengikutsertakan apra murid untuk menikmatinya. Itu sebabnya, pada saat-saat terakhir dalam misi pelayanan-Nya, dalam doa-Nya, Ia membawa para murid agar bersatu dan para murid dapat melanjutkan karya-Nya.
Bagi Yesus, Persekutuan dengan Bapa ini sangat penting. Inilah yang membuat Dia dapat menjalani tugas perutusan-Nya dengan baik. Maka, Persekutuan ini juga menjadi penting untuk para murid dan selanjutnya gereja Tuhan dalam mengemban misi Allah. Walaupun demikian, penolakan dan aniaya tetap akan mewarnai kehidupan kesaksian para murid tepat seperti yang digambarkan dalam bacaan kedua. Namun, penderitaan dilihat dalam kerangka pelauyanan Yesus mendatangkan kehormatan, bukan hal yang memalukan. Tidak ada jalan lain dalam menghadapi tantangan, bahkan aniaya, dalam melanjutkan karya Yesus di dunia ini kecualii belajar dari para murid, yakni bertekun dalam doa, sabat dalam menanti kuasa Roh Kudus dan bersatu dalam Persekutuan yang saling mengasihi.
Marilah kita merenungkannya:
- Apa makna doa bagi saya dan bagaimana saya menghidupinya?
- Hal apa yang membuat saya mengalami kesulitan untuk bertekun dalam doa?
- Apa yang harus saya singkirkan (hal negatif dalam diri) untuk dapat mewujudkan kesatuan?
Pdt. Windyarti Anggelina

