Kej. 1:1 – 2:4a; Mzm. 8; 2Kor. 13:11-13; Mat. 28:16-20
Kata Allah Trinitas tidak ditemukan dalam Alkitab, namun pemahaman tentang Allah Trinitas tersebar dalam Alkitab. Pemahaman tidak sekadar berasal dari kesepakatan pemimpin gereja melalui konsili (semacam sidang sinode). Pemahaman ini berasal dari pengenalan pada Allah yang kehadiran-Nya tidak mudah diidentifikasi oleh manusia. Itulah sebabnya dalam Alkitab muncul berbagai nama yang menyiratkan keberadaan Allah.
Misalnya: El Shaddai, El Elyon, Yahweh Jireh, Yahweh Rapha, dan lainnya. Nama-nama itu muncul karena pengalaman manusia dalam perjumpaannya dengan Allah. Kitab Kejadian telah mencatat hakikat Allah dengan sebutan “Kita” yang mencerminkan keragaman keberadaan Tuhan dalam pengalaman hidup umat. Hal inilah yang dikatakan oleh Nico Syukur Dister, “Kepercayaan tidak mungkin dibikin oleh kita sendiri, tetapi selalu timbul dalam suatu relasi” (dalam Teologi Trinitas).
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa pemahaman tentang Allah Trinitas tidak muncul dari teori filosofis tentang Allah, melainkan berangkat dari pengalaman umat Allah dalam relasinya dengan Allah. Justru karena titik berangkatnya adalah pengalaman maka penjelasan tentang Allah Trinitas tidak pernah memadai secara kognitif atau memuaskan logika manusia. Bahkan Agustinus, seorang bapa gereja, mengatakan si comprehendis, non est Deus yang berarti jika Anda memahaminya (secara penuh), itu pasti bukan Allah. Justru karena itu, pemahaman tentang Allah Trinitas pertama-tama bukan diteorikan melainkan dipraktikkan dalam hidup.
Mempraktikkan pemahaman Allah Trinitas dicatat dalam Injil Matius melalui formulasi baptisan yang dilakukan oleh gereja, “dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat. 28:19). Orang yang melihat praktik baptisan mungkin akan bertanya mengapa ada tiga nama yang disebutkan? Jawabnya, kami mengenal Allah dalam Tiga Pribadi yang tidak dipisahkan. Inilah yang dikenal dengan sebutan una substantia tres personae. Ucapan berkat yang digunakan Paulus juga mencerminkan cara umat gereja mula-mula saling memberkati, “Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian” (2Kor. 13:13).
Di tengah-tengah situasi kehidupan yang banyak mempertanyakan tentang pemahaman Allah Trinitas, banyak orang Kristen mengalami kesulitan dalam menjawabnya. Memang, pemahaman Allah Trinitas tidak untuk dijawab secara logika. Sebab Allah Trinitas adalah misteri yang melampaui kemampuan akal manusia dalam mencernanya. Dengan kata “misteri” bukan berarti Allah Trinitas tidak dapat dijelaskan. Doktrin Allah Trinitas dapat dijelaskan, jika berangkat dari pengakuan iman akan Allah Trinitas itu sendiri. Bagi mereka yang meragukan atau menolak, pemahaman Allah Trinitas justru harus diberitakan lewat karya atau tindakan yang mencerminkan nilai yang dihidupi oleh Allah Trinitas itu sendiri. Misalnya, kehidupan yang menghargai perbedaan dapat terjadi dengan indah justru karena mengacu pada Allah Trinitas. Sebab Allah Trinitas adalah persekutuan tiga Pribadi: Bapa, Anak, dan Roh Kudus yang berbeda namun saling menopang dan tidak terpisahkan. Itulah yang dilakukan oleh gereja mula-mula.
Marilah Kita Renungkan:
- Bagaimana cara Anda menjelaskan pemahaman tentang Allah Trinitas?
- Pemahaman tentang Allah Trinitas penting untuk diberitakan. Berikan contoh pemahaman Allah Trinitas dalam praktik hidup menggereja!
Pdt. Addi Soselia Patriabara

