Kel. 3:1-15; Mzm.105:1-6, 23-26, 45b; Rm.12:9-21; Mat.16:21-28
Menjelang akhir bulan Agustus, masih banyak bendera merah putih yang berkibar di berbagai tempat. Masih banyak lomba-lomba dalam rangka Agustusan yang dilaksanakan di beberapa tempat. Semua itu menandakan kemeriahan merayakan hari ulang tahun kemerdekaan. Tentu itu baik. Kemeriahan kemerdekaan memang harus dirayakan. Agar orang ingat kemerdekaan adalah hak semua bangsa, seperti yang dikatakan dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Bahkan, lebih dalam lagi, kemerdekaan adalah hak setiap makhluk hidup. Namun, di sini letak persoalannya, kemerdekaan kerap hanya menjadi jargon, indah diucapkan tetapi menghilang dalam kehidupan. Justru karena itu, salah satu tugas panggilan hidup orang beriman adalah berjuang menghadirkan kemerdekaan.
Allah tidak suka pada penjajahan. Itu sebabnya, ketika umat Israel menjerit atas derita penjajahan dalam diri mereka, “Allah memperhatikan orang Israel dan mempedulikan mereka” (Kel. 2:25). Allah sendiri mengatakan, “Aku turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu” (Kel. 3:8). Dalam rangka itulah Allah mengutus Musa, “Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir” (Kel. 3:10).
Tentu, tugas itu tidaklah mudah. Musa segera menolak. Namun Allah menjanjikan penyertaan. Kata Allah, “Aku akan menyertai engkau!” (Kel. 3:12). Penyertaan Allah terbukti benar. Perjalanan panjang yang berlangsung 40 tahun menunjukkan betapa ajaib jika Allah menyertai.
Tugas itu bukan hanya ditujukan bagi Musa, tetapi juga bagi setiap orang yang mengikuti jalan Yesus. Jalan Yesus adalah jalan yang membebaskan. Untuk itulah Yesus datang ke dunia. Yesus membebaskan manusia dari penjajahan dosa. Jalan yang ditempuh Yesus adalah jalan yang tidak mudah. Penderitaan adalah kenyataan yang harus dihadapi Yesus. Hal itulah yang Ia katakan kepada murid-murid-Nya. Petrus tidak bisa membayangkan gerakan mereka menjadi gerakan yang berbahaya hingga Yesus harus menderita. Namun, itulah jalan yang harus ditempuh Sang Pembebas.
Panggilan untuk menjadi pembebas menjadi panggilan para pengikut Yesus. Panggilan itu tentu bukan panggilan yang mudah. Itu sebabnya Yesus mengatakan, “Jika seseorang mau menjadi pengikut-Ku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku” (Mat. 16:24).
Apakah panggilan menjadi pembebas adalah panggilan yang relevan dengan keadaan saat ini? Tentu saja. Dalam realitas kehidupan berbangsa, penjajahan masih terus terjadi. Di manakah peran gereja dan orang Kristen? Gereja dan orang Kristen hadir menyampaikan hati Allah yang mendengar jeritan mereka yang tertindas. Apakah mudah? Tentu saja tidak. Namun, itulah salib yang harus kita pikul. Namanya, sebut saja salib kebangsaan.
Marilah Kita Renungkan:
- Apakah penjajahan masih terjadi di Indonesia? Dalam bentuk apa? Apa dampak penjajahan itu?
- Allah membebaskan mereka yang tertindas. Apakah karya Allah masih terjadi hingga saat ini? Bagaimana caranya?
- Jika Allah memanggil Anda menjadi pembebas, apa yang akan Anda lakukan?
(Pdt. Addi S. Patriabara)

