Hidup dalam Pola Pikir Allah

Yer. 15:15-21; Mzm. 26:1-8; Rm. 12:9-21; Mat. 16:21-28

Tema ibadah hari ini terinspirasi dari perkataan, lebih tepatnya teguran, Yesus kepada Petrus, “… sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Mat. 16:23).

Dengan membaca teguran itu, kita jangan cepat-cepat menghakimi Petrus. Mari kita bertanya terlebih dulu, apakah kita tahu apa yang dipikirkan Allah atau pola pikir Allah? Rasanya tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Jangankan pola pikir Allah, pola pikir pasangan hidup saja kadang kita tidak mengerti. Bahkan, kadang pola pikir kita sendiri membingungkan karena tidak kita mengerti.

Jawaban yang kerap diberikan adalah dengan membaca Alkitab. Benarkah Alkitab memuat pola pikir Allah? Tentu saja benar! Tapi, mari kita pikirkan dalam-dalam, bukankah dengan Alkitab yang sama ada berbagai macam aliran dalam kekristenan? Lebih lanjut lagi, bukankah aliran kekristenan itu seringkali memiliki ajaran yang berbeda-beda bahkan bertentangan? Tentu itu semua berawal dari membaca Alkitab dengan cara pikir manusia. Ini yang kerap disebut eisege (berbeda dengan exegese), memasukkan pikiran kita ketika membaca Alkitab. Hal ini menunjukkan tidak mudah memahami pola pikir Allah.

Kalau mengacu pada cerita dalam bacaan Injil kita, setidaknya ada tiga hal yang membedakan pola pikir Allah dan pola pikir manusia.

Pertama, Allah memikirkan hidup umat manusia sedangkan manusia memikirkan dirinya sendiri. Justru karena memikirkan hidup umat manusia, Allah hadir dalam diri Yesus Kristus untuk menyelamatkan. Sebaliknya, Petrus menghalangi karena tidak pemimpinnya binasa. Siapa lagi yang akan memimpin mereka jika Yesus harus mati?

Kedua, Allah bersedia berkurban sedangkan manusia enggan berkurban. Pengurbanan identik dengan penderitaan. Maukah kita menderita? Pada umumnya manusia akan mengatakan tidak. Yesus sendiri mengatakan untuk mengikut-Nya pasti ada penderitaan. Jalan penderitaan itu yang ditempuh Yesus.

Ketiga, Allah taat pada perjanjian-Nya. Hal itu semakin jelas dalam diri Yesus yang taat kepada Allah Bapa hingga bersedia mati di atas kayu salib. Manusia kerap kali gagal menjadi pribadi yang hidup dalam ketaatan. Ada banyak janji yang diucapkan manusia, akan tetapi janji tinggal janji. Bahkan manusia yang ingkar janjipun kadang tidak merasa bersalah.

Nah, ini baru tiga hal terkait dengan pola pikir Allah yang dapat kita temukan dalam bacaan Injil. Apakah pola pikir Allah hanya itu? Tentu saja tidak, sebab Allah adalah Pribadi bukan benda mati. Justru karena itu untuk memahami pola pikir Allah kita harus berelasi dengan Allah. Salah satunya dengan membaca Alkitab.  

(Pdt. Addi S. Patriabara)