Kel. 1:8 – 2:10; Mzm.124; Rm.12:1-8; Mat.16:13-20
Hari ini GKI merayakan penyatuannya. Penyatuan GKI terjadi pada 26 Agustus 1988, menyatukan tiga sinode yang berbeda, sekalipun memiliki nama yang serupa. Namun, sesungguhnya penyatuan itu telah diupayakan semenjak tahun 1960-an. Apakah dengan penyatuan itu GKI telah berhasil menjadi gereja yang dikehendaki Tuhan Yesus (bdk. Yoh. 17:21)? Jawabannya bisa ya dan tidak. Ya, sebab tiap sinode (wilayah) GKI berhasil melampaui tembok identitas khasnya dan berani mengambil keputusan menyatu. Tidak, karena pada hakikatnya tidak ada gereja yang sempurna.
Itu sebabnya, penyatuan GKI harus terus menerus dihidupi dalam karya yang relevan dengan kehidupan. Pada bagian inilah kita mengingat motto gereja reformasi: Ecclesia reformata semper reformanda, gereja sejatinya harus terus menerus membarui dirinya. Sekalipun terus membarui dirinya, gereja tidak pernah boleh kehilangan identitasnya. Identitas itu didasarkan pada iman kepada Yesus Kristus, yang disebut Petrus dengan, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat. 16:16). Iman itulah yang membuat Yesus menyatakan kepada Petrus, “Engkau adalah Petrus (Yun: petros, batu karang) dan di atas batu karang (Yun: petra) ini Aku mendirikan gereja-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat. 16:18).
Kita perlu membaca pernyataan itu dalam keyakinan bahwa selama gereja bersandar pada Yesus, ia akan hidup dan berkarya. Selama gereja bersandar pada Yesus, penyertaan Tuhan terus terjadi pada gereja-Nya. Sepanjang sejarah gereja dan sejarah GKI, penyertaan Tuhan dinyatakan secara jelas. Penyertaan Tuhan itulah yang menjadi pengalaman komunitas umat Israel dalam kitab Keluaran. Diceritakan adanya raja baru Mesir tidak mengenal Yusuf (Kel. 1:8).
Sementara itu, jumlah orang Israel yang bertambah banyak menimbulkan kekhawatiran di hati raja. Raja memerintahkan agar orang Israel dijadikan pekerja bahkan budak, untuk mengurangi populasinya. Namun, keputusan itu tidak membawa hasil. Akhirnya, Firaun memutuskan agar semua anak laki-laki yang lahir dari perempuan Israel dibunuh.
Tuhan berkarya secara ajaib. Salah satunya melalui para perempuan yang kerap dianggap lemah. Disebutkan adanya nama-nama perempuan yang dipakai Tuhan untuk turut merawat Musa, orang yang dipilih Tuhan untuk membebaskan bangsa Israel. Ada dua bidan bernama Sifra dan Pua yang berani membiarkan Musa hidup setelah dilahirkan. Ada seorang ibu bernama Yokhebed yang melahirkan Musa dan memperjuangkan agar anaknya itu tetap hidup.
Ada seorang kakak bernama Miryam yang melarung dan mengikut perjalanan Musa di sungai Nil. Ada seorang putri Firaun, tanpa nama, yang mengangkat Musa sebagai anak. Semua dipakai oleh Tuhan untukmembesarkan seorang pembebas yang diutus Tuhan bagi Israel.
Mengingat penyertaan Tuhan yang luar biasa, patutlah setiap merayakan ulang tahun gereja mawas diri melihat apakah dirinya masih berjalan dalam jalan yang Tuhan kehendaki? Banyak gereja mengatakan bahwa dirinya kekurangan sumber daya.
Bahwa dirinya lemah dan tak berdaya. Benarkah? Jika Tuhan mampu memakai para perempuan yang dianggap lemah, di masa kini pun Tuhan mampu memakai orang- orang yang lemah untuk membangun gereja-Nya agar kehadiran gereja relevan dan signifikan.
Marilah Kita Renungkan:
- Apakah GKI telah menjadi gereja yang relevan dan signifikan?
- Apa yang perlu dilakukan umat GKI agar gerejanya terus bertumbuh dan mampu berkarya di tengah dunia yang berubah?
(Pdt. Addi S. Patriabara)

