Wooden cross on a grassy hill with sun rays shining through cloudy sky

Pilihan Hidup Beriman

Kisah Para Rasul 7:55-60; Mazmur 31:1-5, 15-16; 1 Petrus 2:2-10; Yohanes 14:1-14.

Pada hari ini, kita memasuki minggu Paskah ke-5. Pada minggu ini, ada satu hal penting yang dibicarakan secara khusus, yaitu iman percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan, kebenaran, dan hidup. Pernyataan Yesus adalah undangan bagi para murid dan juga kita untuk meletakkan seluruh kepercayaan kita kepada-Nya di tengah ketidakpastian dunia. Dengan mengenal, percaya dan beriman pada Yesus, kita di tuntun untuk mengenal dan hidup di dalam Allah. Inilah yang membentuk dan mengubahkan hidup sehari-hari orang beriman.

Dengan demikian, pilihan hidup beriman bukanlah sekadar keputusan intelektual sesaat, melainkan sebuah perjalanan transformasi yang menghasilkan pendewasaan. Pendewasaan iman dimulai saat kita tidak lagi hanya mengenal Yesus secara kognitif, tetapi mulai bersandar sepenuhnya pada janji-Nya, menyadari bahwa tanpa Dia, kita kehilangan arah dan menyadari bahwa setiap langkah hidup kita ada dalam pemeliharaan-Nya.

Kisah Stefanus dalam Kisah Para Rasul 7:55-60 menunjukkan puncak keberanian iman: di tengah penderitaan dan ancaman kematian, ia tetap memandang kepada Yesus dan menyerahkan hidupnya dengan penuh percaya. Tidak hanya itu, di dalam penderitaannya, Stefanus mendoakan mereka yang melempari dirinya dengan batu dan memohon pengampunan dosa untuk mereka yang menganiayanya.

Stefanus mencerminkan cara Yesus berdoa di kayu salib. Stefanus meninggal karena pengakuan iman kepada Yesus dan bertahan dalam pengakuan ini. Jalan yang Stefanus lalui adalah jalan derita karena pilihan imannya. Stefanus menjadi contoh, sebagai pribadi dia memilih untuk mengikuti jalan yang ditawarkan Yesus. Ia hidup dengan setia, meskipun penderitaan menjadi harga yang harus dibayar. Ia mengikuti cara Yesus mengampuni para pembenci-Nya.

Puncak keberanian iman tidak bisa diperoleh secara instan. Rasul Petrus dalam 1 Petrus 2:2-10 mengingatkan bahwa pertumbuhan iman adalah proses yang harus terus diupayakan, seperti bayi yang baru lahir menginginkan air susu yang murni dan rohani. Orang percaya dipanggil untuk bertumbuh menuju kedewasaan rohani, menjadi batu hidup yang dipakai Allah untuk membangun kehidupan yang bermakna bagi sesama. Artinya, iman kita tidak boleh stagnan; ia harus berkembang dari sekadar menerima berkat menjadi kesiapan untuk dipakai Tuhan sebagai alat-Nya.

Kedewasaan iman terlihat ketika kita menyadari bahwa nilai hidup kita tidak ditentukan oleh pencapaian duniawi, melainkan oleh sejauh mana kita melekat pada Sang Batu Penjuru, yaitu Kristus, yang memberikan bentuk dan tujuan pada seluruh bangunan kehidupan kita. Dengan demikian, kita memahami bahwa Identitas sebagai bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus dan umat Allah bukanlah sekadar status, tetapi panggilan untuk hidup dalam terang dan menyatakan karya Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, pilihan hidup beriman adalah keputusan untuk terus mempercayakan diri kepada Yesus dalam segala situasi. Iman yang bertumbuh akan memampukan kita menghadapi kesulitan dengan pengharapan, bukan keputusasaan. Lebih dari itu, iman yang dewasa akan menghasilkan kehidupan yang berdampak—menjadi berkat, membawa terang, dan menghadirkan kasih bagi orang lain.

Marilah kita merenungkannya:

  1. Apakah selama ini saya sungguh-sungguh menjadikan Yesus sebagai “jalan, kebenaran dan hidup” dalam setiap pengambilan keputusan, ataukah saya masih sering mengandalkan logika dan kekuatan sendiri saat menghadapi kesulitan?
  2. Sebagai “batu hidup,” apakah kehadiran saya sudah memberikan kontribusi positif dalam membangun iman sesama, atau justru kehadiran saya sering kali menjadi “batu sandungan” bagi orang lain?

Pdt. Windyarti Anggelina