Yes. 55:10-13; Mzm 65:10-14; Rm. 8:1-11; Mat. 13:1-9, 18-23
“Percuma, nanti juga begitu lagi.” Mungkin kalimat ini sering kita dengar atau ucapkan. Kalimat itu mengungkapkan perasaan bahwa apa yang kita lakukan sia-sia belaka. Karena merasa sia-sia, akhirnya kita enggan melakukan kebaikan. Benarkah yang kita lakukan sia-sia? Hari ini kita belajar dari perumpamaan penabur dari Yesus. Lewat perumpaan itu Yesus mau mengatakan, apa yang kita tabur tidak sia-sia.
Memang tidak semua yang ditabur oleh penabur membawa hasil sebagaimana yang diinginkan oleh penabur. Namun, penabur selalu dipanggil untuk tidak berhenti menabur.
Sebagai sebuah gambaran, tentu saja perumpamaan penabur memiliki “kelemahan” yang bisa dipertanyakan secara kritis. Misalnya, kok ada penabur yang menabur gandum di pinggir jalan, tanah berbatu, dan semak duri? Perumpamaan ini memang tidak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Yang dituju oleh perumpamaan ini adalah kesediaan para pendengar untuk menjadikan hidup mereka sebagai ladang yang subur sehingga benih firman Tuhan yang ditabur tumbuh dan berbuah dengan lebatnya.
Mencoba memahami tujuan perumpaman ini menjadi menarik jika kita kaitkan dengan catatan Alkitab yang menyatakan banyak orang berbondong-bondong mengikuti Yesus. Ayat 2 jelas mengatakan orang banyak datang berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sampai Yesus naik perahu karena banyaknya orang yang mendekati-Nya.
Apakah yang mereka, orang-orang itu lakukan? Sudah pasti untuk mendengarkan Yesus. Namun tujuan mendengarkan mereka berbeda-beda.
- Ada yang ikut-ikutan. Mungkin mereka mengatakan, “Ini pada ngapain sih berbondong-bondong.” Begitu melihat Yesus, hanya mengagumi sejenak lalu selesai. Mereka digambarkan seperti benih yang ditabur di tepi jalan.
- Ada juga yang ingin nonton Yesus. Selesai akan memberi komentar, “Wah bagus ajarannya tuh.” Sudah selesai sampai di situ. Inilah yang digambarkan seperti benih yang ditabur di tanah berbatu.
- Ada juga yang mendengarkan Yesus, mendapatkan pelajaran berarti. Akan tetapi ketika pulang, pergumulan yang tengah melandanya membuat ia lupa ajaran Yesus. Fokusnya pada persoalan hidup bukan ajaran Yesus. Gambaran yang dipakai adalah benih yang ditabur di tengah semak duri.
Dari perumpamaan ini, tampak yang diinginkan Yesus adalah mereka yang digambarkan seperti tanah yang baik. Mereka adalah orang yang mendengarkan firman, mengerti, dan berbuah dalam arti melakukan firman Tuhan itu (ay. 23). Itu sebabnya setiap penabur di masa kini tidak pernah boleh lelah menabur. Jangan hanya melihat benih yang jatuh di bebatuan atau semak belukar, lihatlah juga yang jatuh di tanah subur.
Pdt. Addi Soselia Patriabara

