Zak. 9:9-12; Mzm 145; Rm. 7:15-25; Mat. 11:16-19, 25-30
Tindak kejahatan –yang juga disebut dosa dalam bahasa agama– seringkali dilakukan oleh orang yang beragama, bahkan juga oleh pemimpin agama. Mengapa? Apakah agamanya yang salah? Tentu saja tidak. Sebenarnya, ajaran agama yang benar akan membawa umatnya pada hal-hal yang baik bagi kehidupan bersama. Lalu mengapa orang beragama melakukan hal-hal yang buruk?
Alkitab yang kita baca hari ini menegaskan jawabannya lewat gambaran: “Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung” (Mat. 11:17). Suara kebenaran dan kebaikan, bagai suara seruling yang merdu, telah ditiupkan oleh utusan-utusan Tuhan, bahkan oleh Yesus sendiri. Namun, apakah umat menyambutnya? Seringkali tidak! Umat memilih hidup menurut jalan dan pemikirannya masing-masing. Inilah jawaban mengapa banyak orang yang mengaku beragama tetapi melakukan tindakan yang justru tidak dikehendaki Tuhan. Bahkan, tak jarang, atas nama Tuhan orang melakukan kekejian dan tindakan yang jauh dari kemanusiaan.
Sejatinya, panggilan yang termuat dalam agama adalah panggilan untuk membebaskan, bukan untuk menindas atau menghancurkan. Seperti yang dikatakan Yesus, “Aku akan memberi kelegaankepadamu” (Mat. 11:28). Namun, kebebasan yang dianugerahkan ini bukanlah untuk melakukan apa saja seenaknya sendiri, melainkan kebebasan yang bertanggungjawab dengan memerhatikan tujuan Allah. Karena panggilan itu, maka seluruh karya kita seharusnya mencerminkan karya Allah. Bahkan, sesungguhnya hidup kita hanya ditujukan untuk mengerjakan karya Allah.
Agar mampu mengerjakan karya Allah maka setiap kita harus berfokus pada Allah sendiri. Karya Allah yang luas dan mendalam itu membuat setiap orang akan mengerjakan berbagai macam yang semuanya saling mendukung untuk kehidupan bersama yang lebih baik.
Ketika fokus kita tidak ditujukan pada Allah, maka karya kita justru kerap tidak sesuai dengan kehendak Allah. Bayangkanlah sebuah orkestra. Keindahan sebuah orkestra adalah ketika semua orang memainkan alat musik berdasarkan tugasnya masing-masing. Dalam memainkan alat musiknya, semua mata memandang dan mengikuti pemimpin orkestra. Berfokus pada Allah berarti memainkan “alat musik” kita sambil memandang dan mengikuti Sang Pemimpin Orkestra, Tuhan itu sendiri.
Satu hal lagi, ketika kita berbicara soal musik, semua akan menjadi indah jika kita bermain dengan hati. Mari kita berkarya bagi Tuhan dengan hati yang penuh kegembiraan.
(Pdt. Addi Soselia Patriabara)

