Yun. 3:10 – 4:11; Mzm. 145:1-8; Flp. 1:21-30; Mat. 20:1-16
Mungkin kita pernah mendengar ungkapan bahwa adil itu tidak berarti sama. Sebuah ungkapan yang sungguh benar. Ungkapan ini agaknya pas dikenakan dalam perumpamaan Yesus dan juga kisah Yunus.
Perumpamaan Yesus bertutur tentang para pekerja anggur. Mereka mulai bekerja dalam waktu yang berbeda. Disebutkan ada yang mulai bekerja pagi-pagi benar, pukul sembilan pagi, pukul dua belas siang, pukul tiga sore dan pukul lima petang. Jam kerja pun usai, tidak disebutkan jam berapa usainya. Ketika upah dibagikan, para pekerja ternyata mendapat upah yang sama. Baik yang yang datang lebih awal maupun yang datang terakhir ternyata mendapatkan satu dinar. Itu sebabnya yang bekerja pagi hari bersungut-sungut (Mat. 20:11-12).
Apakah sang tuan telah berlaku tidak adil? Bukankah yang bekerja semenjak pagi lebih lelah dibanding yang bekerja sore hari? Untuk menjawabnya kita perlu memberi perhatian pada perjanjian awal sebelum para pekerja bekerja. Disebutkan bahwa para pekerja telah sepakat mendapatkan upah satu dinar sehari (Mat. 20:2). Jadi sang tuan telah memberikan hak para pekerja sesuai dengan kesepakatan.
Lalu mengapa sang tuan tetap mencari pekerja bahkan pada pukul lima petang (Mat. 20:6)? Bukankah dengan tindakannya itu sang tuan juga akan mengalami kerugian? Logis, sebab para pekerja yang datang belakangan belum optimal melakukan pekerjaan sudah dibayar dengan upah satu dinar. Jawabannya adalah karena sang tuan memiliki kemurahan hati. Hal itu tampak dalam dialognya dengan para pekerja di sore hari (Mat. 20:6-7).
Kemurahan itulah gambar dari Sang Tuan, Allah Trinitas yang berlimpah kasih dan kemurahan kepada umat manusia. Sedangkan kemarahan para pekerja yang gusar agaknya menggambarkan wajah para pemimpin agama dan pemeluk agama pada waktu itu hingga kini. Wajah yang ditampilkan oleh orang-orang Farisi. Mental Farisi nampak dalam kehidupan beragama dan bergereja di masa kini. Yaitu mentalitas yang dengan mudahnya menilai orang lain dalam kepongahan dan merasa diri paling benar.
Wajah itu pula yang ditampilkan Yunus. Ketika Allah membatalkan hukuman atas Niniwe. Yunus kesal karena merasa pemberitaannya sia-sia (Yun. 4:2-3). Namun, apakah hak Yunus membatasi kemurahan Allah? Yunus lupa bahwa Allah adalah Pribadi yang hidup. Allah yang memiliki kemurahan hati berhak membagikan kebaikan-Nya kepada siapapun yang Allah inginkan. Keadilan Allah berbeda dengan keadilan manusia. Tugas manusia bukan menilai atau menghakimi, tetapi mensyukuri karena keadilan dan kemurahan Allah tidak pernah keliru.
(Pdt. Addi Soselia Patriabara)

