Am. 5:18-24; Mzm. 70; 1Tes. 5:1-11; Mat. 25:1-13
Judul “Siapkanlah Minyakmu” mengacu pada bacaan Injil minggu ini. Dalam Injil, melalui sebuah perumpamaan, Yesus mengajar tentang kedatangan-Nya kembali. Perumpamaan yang disampaikan berisi tentang 10 gadis yang menyambut kedatangan mempelai laki-laki. Mempelai laki-laki kerap dipakai untuk menunjuk kepada Yesus (lih. mis. Why. 19:7-8). 10 gadis itu terbagi dalam 2 kelompok, yaitu 5 gadis yang bodoh dan 5 gadis yang bijaksana. Disebut bijaksana karena mereka bersiap mengantisipasi kedatangan sang mempelai, yang tidak mereka ketahui secara persis waktunya. Antisipasi dilakukan dengan mempersiapkan minyak cadangan, sehingga pelita tetap dapat menyala saat sang mempelai datang.
Dari perumpamaan itu kita dapat belajar beberapa hal. Pertama, Yesus pasti datang. Kedatangan-Nya itu disebut nabi Amos dengan hari Tuhan (Am. 5:18). Kedua, kedatangan Tuhan itu tidak dapat diketahui secara pasti. Kedatangan-Nya disebutkan Paulus seperti pencuri di malam hari (1Tes. 5:2). Ketiga, tugas manusia bukanlah mencari tanda-tanda untuk kemudian menentukan waktu kedatangan-Nya. Tugas manusia adalah selalu siap sedia, berjaga-jaga dan sadar (1Tes. 5:6).
Berjaga-jaga seperti apa yang dimaksudkan dalam Alkitab? Mengacu pada 5 perempuan bijak yang menyimpan minyak maka hal utama yang perlu dilakukan dalam berjaga-jaga adalah mempersiapkan cadangan “minyak.” Minyak di sini dapat menunjuk apa yang kerap saat ini disebut dengan istilah investasi surgawi. Apa bentuknya? Nabi Amos menunjukkan “minyak” yang dipersiapkan ternyata tidak melulu terkait dengan ibadah! (lih. Am. 5:21-23). Apakah Amos mau mengatakan ibadah tidak penting? Tentu saja tidak. Ibadah penting, namun ibadah yang benar harus diiringi dan dilanjutkan dengan sikap hidup yang mengutamakan kebenaran dan keadilan (Am. 5:24).
Paulus menggambarkan persiapan “minyak” itu dalam metafora prajurit yang berperang. Seorang prajurit harus tetap siaga memakai pakaian perang, bahkan dalam keadaan tidur sekalipun. Pakaian perang yang disebutkan Paulus adalah berbajuzirahkan iman dan kasih, serta berketopongkan pengharapan keselamatan. Bajuzirah adalah pakaian tebal atau pakaian pelindung yang membuat seorang prajurit tidak terluka pada bagian tubuhnya. Sedangkan ketopong adalah topi perang yang melindungi kepala seorang prajurit. Keduanya seakan melekat dan tidak terpisahkan dari seorang prajurit. Iman, kasih, dan pengharapan menjadi kekuatan dalam mempersiapkan diri menyambut kedatangan kembali Tuhan Yesus Kristus. Persiapan itu penting dilakukan setiap saat. Kita tidak dipanggil untuk “menabung” hal-hal baik di saat memungkinkan, melainkan terus menerus melakukan hal-hal yang baik dalam kehidupan. Mengapa? Karena kita tidak pernah tahu kapan kesudahan dari semuanya itu akan terjadi.
(Pdt. Addi Soselia Patriabara)

