Saling Merendahkan Hati

Filipi 2:1-11

Konflik adalah sebuah keniscayaan. Konflik hadir di tengah-tengah komunitas, baik itu keluarga, gereja, maupun negara. Dari surat Paulus kepada jemaat Filipi, kita bisa menduga bahwa mereka juga tengah menghadapi konflik. Itu sebabnya Paulus mengatakan, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (ay. 5). Apapun penyebabnya, konflik jika tidak dikelola dan diatasi akan menghasilkan kehancuran.

Untuk mengelola konflik, kepada umat Filipi, Paulus mengajak untuk melihat teladan Yesus. Yesus “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan” (ay. 6). Dengan pernyataan itu, Paulus mau mengatakan bahwa Yesus tidak memusatkan perhatian pada kepentingan-Nya, melainkan pada kepentingan umat manusia. Bahkan, demi memerhatikan kepentingan manusia, Yesus telah mengosongkan diri (ay. 7). Mengosongkan diri bukan berarti Yesus kehilangan keilahian-Nya. Mengosongkan diri berarti menambahkan dalam diri Yesus yang kekal itu, kemanusiaan yang terbatas dan fana.

Nasihat Paulus ini sangat relevan di tengah-tengah persekutuan kita yang tengah merayakan Bulan Keluarga. Semua orang yang berkeluarga merindukan hidup dalam kebahagiaan. Namun, dalam kenyataan konflik kerap mengganggu tujuan mulia itu. Justru karena itu setiap anggota keluarga perlu belajar hidup dalam kerendahan hati seperti Yesus. Kerendahan hati ringkasnya berarti berupaya lebih memerhatikan kepentingan orang lain dibandingkan dengan kepentingannya sendiri. Mudah? Tentu saja tidak. Namun, bukankah kita ingin meraih kebahagiaan di tengah keluarga kita? Berarti harus ada harga yang dibayar. Harganya adalah belajar merendahkan hati.

Untuk bisa memiliki kerendahan hati seperti Yesus, ada sebuah kiat penting yang juga dilakukan Yesus. Kiat itu adalah mengosongkan diri. Mengosongkan diri bukan berarti kehilangan dirinya sendiri. Tidak mungkin manusia  menghilangkan dirinya. Yang dapat dilakukan adalah menambahkan dalam diri kita keberadaan orang lain. Artinya, Yesus tidak kehilangan keilahian-Nya, melainkan menambahkan dalam diri-Nya kemanusiaan yang terbatas dan fana.

Memerhatikan kepentingan orang lain sebagai tanda kerendahan hati dan bersedia mengisi hati dengan anggota keluarga yang lain adalah teladan yang sudah ditunjukkan Yesus. Itulah yang perlu kita lakukan di tengah keluarga kita. Pertama-tama orangtualah yang perlu belajar meneladan Yesus yang rendah hati dan mengosongkan diri itu. Sikap itu akan menular pada anak-anak dan anggota keluarga yang lain. Jika itu terjadi betapa indahnya hidup berkeluarga.

(Pdt. Addi Soselia Patriabara)