Roma 12:1-2
Tema khotbah minggu ini berbicara tentang persembahan. Harus diakui, tema ini jarang dibicarakan. Namun, persembahan adalah hal penting dalam kehidupan beriman. Melalui persembahan kita menyatakan rasa syukur untuk karya penyelamatan dan penyertaan Tuhan dalam hidup kita.
Berdasarkan Roma 12:1-2 kita bisa belajar beberapa hal terkait dengan persembahan. Roma 12 dimulai dengan “karena itu” yang menunjuk pada Roma 11:36, “Sebab, segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.” Jadi, kita memberikan persembahan karena segala sesuatu datang dari Tuhan. Persoalannya apakah “segala sesuatu” yang Tuhan berikan itu memberikan sukacita pada kita? Sudut pandang dan keinginan manusia seringkali menganggap pemberian Tuhan dalam hidup kita jauh dari menyenangkan. Itu sebabnya banyak orang kecewa dan meninggalkan Tuhan. Padahal jika kita kaji lebih dalam, Tuhan senantiasa memberikan yang terbaik buat kita (lih. mis. Yer. 29:11; Luk. 11:11-12). Jika kita mampu memahami kebaikan Tuhan, pastilah segala sesuatu yang Tuhan berikan akan membuat kita mampu bersyukur.
Rasa syukur itu diungkapkan melalui persembahan. Persembahan seperti apa? “Persembahanan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah.” Persembahan di sini jauh lebih luas dari sekadar uang, tetapi hidup kita seutuhnya. Apa yang hidup yang seharusnya dipersembahkan kepada Tuhan? Diri kita! Diri kita yang seperti apa? Diri kita yang berusaha terus menerus hidup dalam kekudusan dan berkenan kepada Allah.
Persembahan diri seseorang yang berusaha hidup kudus dan berkenan kepada Allah ditandai dengan kesadaran untuk tidak menjadi serupa dengan dunia (Rm. 12:2). Dunia seringkali mengajari kita prinsip transaksional. Persembahan yang kita berikan seringkali dilandasi cara berpikir semacam itu. Kalau saya memberi melalui persembahan, Tuhan akan membalasnya dengan berlipat ganda. Itu cara berpikir dunia. Dalam iman kristen, pemberian itu dilakukan bukan dimaksudkan untuk “merayu” Tuhan. Tuhan telah memberikan terlebih dahulu segala sesuatu yang baik untuk hidup hidup kita. Yang terbesar adalah karya keselamatan di dalam Yesus Kristus.
Persembahan sebagai tanda syukur itu kita lakukan dalam ibadah sebagai penanda atau simbol kerinduan memberikan diri kita kepada Tuhan. Karena simbol, maka orang percaya tidak boleh puas dengan pemberian persembahannya. Atau bahkan mengungkit-ungkit persembahan yang telah diberikan olehnya (lih. Mat. 6:3). Sebagai sebuah simbol, persembahan dalam ritual ibadah seharusnya dilanjutkan dengan persembahan diri, mengabdi kepada Tuhan sepanjang hidup yang Tuhan anugerahkan kepada kita. Firman Tuhan juga mengatakan, “Lebih berbahagia memberi daripada menerima” (Kis. 20:35b). Dalam terang itu maka pemberian dilakukan dengan sukacita (2Kor. 9:7) sekaligus sikap hormat karena kita memberikan kepada Tuhan, Raja hidup kita.
Dalam liturgi kita, persembahan dilakukan tanpa bernyanyi. Sebenarnya hal itu dilakukan bukan untuk memberi kesempatan umat untuk ngobrol, melainkan waktu untuk merenungkan betapa sedikitnya persembahan diri kita dibandingkan pemberian Allah yang tiada terperi.
Refleksi.
- Marilah kita renungkan :
- Pemberian Allah apa yang Anda rasakan paling luar biasa dalam hidup ini selain keselamatan?
- Jelaskan mengapa pemberian persembahan adalah hal yang penting bagi orang beriman?
- Renungkanlah model-model persembahan apa saja yang dapat Anda sampaikan kepada Tuhan saat ini? Mengapa?
(Pdt. Addi Soselia Patriabara)

