Memberi Secara Utuh

Matius 22:15-22

“Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” adalah ungkapan untuk menggambarkan seorang anak yang tidak berbeda jauh dari orangtuanya. Setiap anak setidaknya memiliki satu kemiripan dengan orang tuanya, baik dari bentuk wajah, kepribadian, cara berpikir, pola dan gaya hidup. Tapi, kemiripan bukanlah sebuah jaminan bahwa antar keluarga kemudian dapat hidup rukun dan damai, konflik dan persoalan dapat terjadi dalam keluarga. Penyebabnya adalah karena setiap anggota sibuk mementingkan diri sendiri, dan melupakan sebuah panggilan untuk menampilkan gambar Allah.

Pertanyaan tentang membayar pajak kepada kaisar dilakukan oleh orang-orang Farisi, murid-murid orang Farisi dan orang-orang Herodian untuk menjebak Yesus. Yesus menjawab pertanyaan mereka dengan cara mengajak mereka untuk melihat gambar yang terdapat dalam mata uang untuk pajak. Dalam mata uang itu terdapat gambar dan tulisan kaisar, itu sebabnya Yesus mengatakan bahwa mata uang itu wajib diberikan kepada kaisar.

Mereka membedakan karya untuk Tuhan (seperti ibadah, persembahan) dan untuk Kaisar (dalam arti bermasyarkat, pajak, dsb). Pembedaan ini sering kali membuat mereka hidup secara mendua. Artinya mereka menampilkan wajah yang berbeda ketika berada dalam masyarakat dan ketika berada dalam bait Allah. Mendengar tentang ‘gambar siapakah yang ada’ dalam mata uang itu membawa kita pada penghayatan tentang gambar siapa yang ada dalam diri kita? Bukankah setiap kita adalah gambar Allah? Menyadari keberadaan diri sebagai gambar Allah akan membawa kita pada pemberian diri secara utuh kepada Allah. Yesus mengajak kita untuk berpikir dan berbuat secara utuh, menyambungkan antara kehidupan ritual agama dan kehidupan sosial sehari-hari. Baik di gereja maupun di tengah masyarakat, setiap kita tetaplah murid Kristus. Sebagai murid Kristus, di mana pun kita berada, kita selalu diajak untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan baik yang memuliakan Tuhan. Ibadah dan pelayanan yang sejati kepada Allah justru menjadi nyata ketika mimbar sambung dengan pasar. Firman yang kita dengar di ruang ibadah harus menjadi nyata dalam hidup sehari-hari, termasuk dalam hidup berkeluarga.

(dirangkum dari Dian Penuntun edisi 36)