Gandum yang Bertumbuh di Tengah Ilalang

Yes. 44:6-8; Mzm. 86; Rm. 8:12-25; Mat. 13:24-30, 36-43

“Pencobaan menghimpit aku dan menjadi keluhanku” adalah bagian dari syair PKJ 255 karya Arnoldus Isaak Apituley. Sebuah ungkapan yang menyatakan realitas hidup yang kita alami. Siapapun kita, sebesar apapun iman percaya kita, pencobaan tidak pernah lepas dari hidup ini. Pencobaan yang hadir dalam bentuk penderitaan pada dirinya sendiri berat. Itu sebabnya Apituley mengatakan “menjadi keluhanku.” Penderitaan kadang membawa kita pada keputusasaan dan kehilangan pengharapan.

Pertanyaannya, mengapa penderitaan tidak lepas dari hidup kita? Bukankah karya Kristus seharusnya membebaskan kita dari semua penderitaan? Perumpamaan Yesus dalam Injil yang kita baca hari ini memberikan perspektif lain dari penderitaan. Pada umumnya orang berpikir apa salahku ketika derita melanda. Namun, pada perumpamaan ini Yesus menunjukkan ada hal lain yang perlu diwaspadai.

Lewat perumpamaan ini Yesus mengatakan hidup di dunia ini tidak lepas dari penderitaan. Dituturkan ada seorang penabur yang menaburkan benih gandum yang baik di tanah yang subur. Gandum menunjuk pada anak-anak Kerajaan atau anak-anak Allah (Mat. 13:38). Tanah menunjukkan pada dunia ini yang telah Tuhan ciptakan baik adanya. Artinya benihnya unggul dan tanahnya telah dipersiapkan dengan baik. Akan tetapi dalam proses pertumbuhannya ada ilalang yang menghimpit. Ilalang adalah gambaran penderitaan. Benih ilalang ditaburkan oleh “musuh” (Mat. 13:28) yang menunjuk pada si jahat Iblis (Mat. 13:39).

Ada dua pilihan bagi sang penabur: mencabut ilalang dengan kemungkinan gandum yang baik turut tercerabut. Atau membiarkan gandum tetap tumbuh di tengah ilalang dengan kemungkinan gandum terhimpit dan tidak tumbuh dengan baik. Penabur memilih hal yang kedua. Dan inilah yang menjadi jawaban mengapa himpitan ilalang terus menerus hadir dalam kehidupan gandum.

Bukankah karya penebusan telah terjadi, mengapa Iblis mampu terus berkarya menaburkan ilalang? Iblis tidak lagi memiliki daya kuasanya (lih. al. 1 Kor. 15:55), tapi masih memiliki kemampuan melakukan tipu daya. Artinya, gandum sebenarnya masih dapat bertumbuh dan berbuah sebab kekuatan ilalang tidak lagi seperti dulu. Justru karena itu, gandum harus terus bertahan di tengah tipu daya ilalang. Kemampuan bertahan dimiliki gandum kalau ia berakar kuat pada Sang Sumber Kehidupan, Allah itu sendiri.

Bertahan sampai kapan? Sampai waktu menuai tiba. Kapankah itu? Kita tidak tahu dan tidak perlu tahu. Yang kita tahu dan lakukan adalah bertahan dengan setia di tengah himpitan godaan dunia yang membuat kita tenggelam dan tidak berbuah.

(Pdt. Addi Soselia Patriabara)