Ul. 18:15-20; Mzm. 111; 1Kor. 8:1-13; Mrk. 1:21-28
Tentang kuasa Yesus, tidak diragukan lagi. Injil Markus menceritakan bagaimana kuasa Yesus dalam mengajar dan mengusir roh jahat. Sebenarnya, dalam Injil, tindakan yang paling sering dilakukan oleh Yesus adalah mengajar, bukan melakukan mukjizat. Namun, acapkali yang paling sering diutamakan dalam pemberitaan gereja saat ini adalah mukjizat-Nya, bukan pengajaran-Nya. Tentang pengajaran-Nya, tanggapan para pendengar disebutkan: “Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat” (Mrk. 1:22). Kalimat “sebagai orang yang berkuasa” bermakna pengajaran Yesus memiliki kekuatan yang sah dan tidak dapat disangkal. Itu sebabnya, ketika dibandingkan dengan para pengajar seperti Ahli Taurat, kemampuan Yesus tidak tertandingi.
Di dalam sinagoge tempat pengajaran itu berlangsung, tiba-tiba ada orang yang kerasukan roh jahat. Teriakan roh jahat yang mengusai orang itu mengarah pada Yesus. Melalui teriakan itu, roh jahat membuat orang mengenali hakikat Yesus sebagai “Yang Kudus dari Allah” (Mrk. 1:24). Mengingat hakikat Yesus itu, pantaslah kuasa-Nya melebihi segalanya.
Dituturkan dalam Injil, Yesus tidak datang sendirian. Ia datang bersama pada murid (Mrk. 1:21). Keberadaan para murid menunjukkan ada yang hendak Yesus bagikan kepada para murid. Mereka sedang ditempa agar mampu penjala manusia (Mrk. 1:17). Artinya, kuasa atau otoritas itu tidak hanya secara eksklusif dimiliki Yesus. Yesus berkenan memberikan otoritas kepada para murid itu.
Dalam perjalanan umat Allah, berulang kali Tuhan juga memberikan otoritas kepada manusia yang dipilih-Nya. Kitab Ulangan 18 menuturkan bagaimana Allah memilih nabi menjadi penyambung perkataan-Nya kepada manusia. Sampai saat ini, Allah juga memberikan otoritas kepada banyak orang termasuk pelayan-pelayan Tuhan.
Kepercayaan Allah kepada seseorang yang mengemban otoritas membuat orang itu patutlah dihormati. Dalam konteks seorang nabi disebutkan, “Ketika seseorang yang tidak mendengarkan firman-Ku yang disampaikan nabi itu demi nama-Ku, Aku akan menuntut pertanggungjawaban darinya” (Ul. 18:19). Sebaliknya, seorang yang menerima otoritas harus bertanggung jawab atas hidup dan karya yang telah dipercayakan kepadanya (Ul. 18:20).
Setiap orang percaya sebenarnya menerima otoritas. Sebab setiap percaya dianalogikan hidup sebagai garam dan terang dunia. Sayangnya, tidak semua orang memiliki kesadaran akan otoritas yang Tuhan percayakan kepadanya. Itu sebabnya kerap orang percaya kerap hidup sembarangan sehingga menjadi batu sandungan buat sesamanya. Contoh makan daging berhala yang disampaikan Paulus (1Kor. 8) patut menjadi pembelajaran buat kita. Seorang yang memiliki otoritas hidupnya didorong oleh cinta kasih, bukan pengetahuan atau kemampuannya. Itulah sebabnya, penerima otoritas selalu belajar menjadi berkat, bukan batu sandungan, bagi sesamanya.
Marilah kita renungkan:
Refleksi
- Apakah Anda menyetujui pendapat yang menyatakan bahwa setiap orang percaya diberi otoritas oleh Tuhan?
- Otoritas apa yang Tuhan percayakan kepada Anda?
- Hal apa saja yang Anda lakukan berdasarkan otoritas yang Tuhan berikan dalam hidup Anda?
(Pdt. Addi Soselia Patriabara)

