(Samuel 3:1-20; Mazmur 139:1-6, 13-18; 1 Korintus 6:12-20; Yohanes 1:43-51)
Sebuah lirik lagu Sekolah Minggu, mengatakan demikian:
“Hidupku bukannya aku lagi. Tapi Yesus dalamku”
Saat menyanyikan lagu ini di Sekolah Minggu pada waktu dulu, saya merasa sangat aneh. Mengapa hidup saya bukan milik saya? Bukankah saya bebas menentukan apa yang saya inginkan dan apa yang saya lakukan?
Kebebasan adalah hal yang menyenangkan. Saya merasa bahwa banyak orang lebih merasa bahagia ketika mereka memiliki kebebasan untuk menentukan sesuatu, ketimbang mereka yang tidak bisa menentukan apa pun. Banyak anak-anak tumbuh tanpa kebebasan memilih, mulai sedari kecil hingga dewasa. Mulai dari hal sederhana hingga hal besar dalam hidupnya.
Samuel kecil tidak memiliki kebebasan untuk memilih. Sejak di dalam kandungan, ia telah diserahkan oleh ibunya kepada Tuhan dalam pengasuhan imam Eli. Terpisah dari orang tua dan tinggal seorang diri di tempat orang lain. Dalam bacaan pertama di minggu ini, Samuel mengalami perjumpaan dengan Tuhan melalui suara yang memanggil ketika ia tidur. Samuel diperdengarkan tentang keburukan Eli dan keluarganya, seseorang yang dihormati dan diseganinya. Tidak hanya itu, ia juga diminta untuk menyampaikan pesan itu kepada imam Eli. Setelah semua disampaikan, imam Eli meresponnya dengan mengatakan “Dia Tuhan, biarlah diperbuat-Nya apa yang dipandang-Nya baik.” Respon imam Eli atas apa yang disampaikan oleh Samuel, menjadi cara Tuhan mendidik Samuel. Jika kita lihat pada ayat 7 maka kita akan menemukan sebuah kondisi, bahwa Samuel belum mengenal Tuhan dan firman Tuhan belum pernah dinyatakan kepadanya. Panggilan Tuhan dan respon imam Eli mengajarkannya untuk hidup dalam ketaatan karena Dia Tuhan yang melalukan hal baik. Itu sebabnya, Samuel memiliki hidup yang berbeda dengan anak-anak imam Eli. Ketaatan menjadi jalan yang dipilih Samuel dalam kebebasannya.
Panggilan Yesus kepada murid-murid yang pertama bukanlah panggilan yang bersifat otoriter. Panggilan yang disampaikan oleh Yesus membawa mereka pada titik kesadaran bahwa ada sesuatu yang lebih bernilai ketimbang kepentingannya. Ada sesuatu yang lebih berharga sehingga mereka mau meninggalkan semuanya demi mengikut Yesus. Panggilan mengikut Yesus dan hidup dalam ketaatan dapat kita lakukan dengan sebuah kesadaran bahwa hidup kita adalah milik-Nya. Kepada jemaat Korintus, Paulus mengatakan bahwa kita adalah bagian dari tubuh Kristus yang harus didayagunakan untuk perbuatan baik. Menjaga diri dari kecemaran dan hawa nafsu karena tubuh kita adalah Bait Allah, serta memperjumpakan sebanyak mungkin manusia dengan Kristus sehingga mereka juga merasakan kasih dan pelukan Yesus!
Refleksi
Marilah kita renungkan :
- Apakah masih ada hal yang membuat anda sulit untuk mengikut Yesus dan hidup dalam ketaatan?
- Carilah cara-cara yang bisa anda lakukan untuk memulikan Tuhan melalui hidup sehar-hari yang anda jalani!
(Pdt. Windyarti Anggelina)

