Diundang Untuk Bersukacita

Matius 22:1-14

Cerita Injil hari ini adalah sebuah perumpamaan yang berisi tentang perjamuan perkawinan anak raja. Perumpamaan ini ditujukan kepada imam-imam kepala dan orang-orang yang hendak menangkap Yesus (Mat. 21:45-46). Itu sebabnya perumpamaan ini tampak begitu keras. Kerasnya perumpamaan terlihat dari keputusan sang raja yang memerintahkan membunuh dan membakar kota orang-orang yang tidak mengindahkannya (ay. 7). Bahkan, orang yang datang tanpa pakaian pesta juga ditangkap dan dihukum (ay. 13).

Untuk memahami perumpamaan ini secara utuh, kita perlu melihat bahwa di dalam perumpamaan ini terdapat dua alur cerita dengan latar belakang yang sama, yaitu seorang raja yang hendak menikahkan anaknya. Gelaran pesta telah dipersiapkan dengan baik dan segala kelengkapan pesta telah tersedia (ay. 4). Namun ketika undangan disampaikan, orang-orang (yaitu rakyat yang dipimpinnya) tidak mengindahkannya dengan berbagai alasan (ay. 5). Bahkan mereka melakukan kekerasan terhadap pegawai kerajaan yang menyampaikan undangan (ay. 6). Apa yang dilakukan orang-orang itu memperlihatkan sikap yang tidak menghargai raja. Itu sebabnya raja menghukum mereka (ay. 7).

Sikap menolak undangan sukacita seringkali terjadi dalam hidup kita, sadar atau pun tidak. Sikap ini bukan sekadar menolak sukacita yang ditawarkan oleh Yesus, tetapi juga menolak menghadirkan nilai-nilai Injil Kerajaan Allah sebagaimana yang Yesus ajarkan. Kita memilih hidup dalam nilai-nilai yang menurut pemikiran kita baik, bahkan dipenuhi dengan nilai-nilai yang mementingkan diri sendiri. Hal inilah yang membuat sukacita tidak hadir dalam hidup kita dan hidup keluarga kita.

Kemudian, dalam alur cerita yang kedua dituturkan bahwa undangan itu disampaikan kepada orang-orang di persimpangan-persimpangan jalan (ay. 9). Persimpangan jalan (Yun. diexodos) merujuk tempat umum yang menjadi titik temu orang-orang dari berbagai suku bangsa dengan status sosial dan kepercayaan yang berbeda. Dalam Alkitab disebutkan: “orang-orang jahat dan orang-orang baik” (ay. 10). Kepada mereka undangan disampaikan. Mereka menyambut undangan itu dan datang ke pesta perkawinan. Namun ada orang yang datang dengan tidak pakaian pesta (ay. 12). Raja kemudian menghukum orang itu.

Apa yang dilakukan orang itu menunjukkan keengganannya berkurban untuk menghadiri pesta itu. Mungkin ia menghadiri undangan itu karena takut atau ikut-ikutan belaka. Namun, baginya, pesta itu sesungguhnya tidak penting. Jika ia merasa pesta itu penting, ia pasti rela berkurban mengganti pakaiannya dengan yang pantas dikenakan dalam sebuah pesta.

Apa yang kita anggap penting di tengah keluarga? Kalau kita menjawab Tuhan maka sudah pasti sukacita akan hadir di tengah keluarga kita. Namun, jangan lupa, dibutuhkan kesediaan dari setiap kita untuk berkurban bagi-Nya.

(Pdt. Addi Soselia Patriabara)