Yesaya 5:1-7
“Minggu depan coba lagi ya,” setidaknya ini yang bisa saya ucapkan dari perjalanan memilah-milah buah anggur. Hampir setiap minggu saya membeli buah anggur yang berbeda di swalayan atau toko buah yang berbeda. Minggu ini saya bisa membeli yang warna hitam, lalu minggu depan yang hijau, begitu terus saya mencoba berbagai macam buah anggur. Dari hasil pencarian tersebut, ada yang membuat tersenyum karena rasa dan tekstur yang renyah, namun ada juga yang membuat memejamkan mata sambil mengerutkan dahi karena rasa masam. Tampilan yang indah tak selalu menghasilkan tekstur yang renyah, harga yang mahal tak selalu menjamin rasa manis. Sering kali harapan untuk menikmati anggur yang renyah dan manis tak sesuai dengan kenyataan yang didapat.
Gambaran tentang buah anggur yang asam dilukiskan oleh Yesaya dalam pasal 5. Secara konteks, negeri ini sedang ada dalam kemakmuran. Perdagangan berjalan baik dan negara aman. Kondisi yang baik ini, seharusnya membuat umat melihat kepada kasih kemurahan Allah yang telah memberikan itu semua. Namun, umat malah merespon kemurahan Allah dengan menghasilkan buah yang asam. Kemajuan perdagangan malah menghasilkan para pedagang yang tamak dan suka menindas. Umat hidup dalam kelaliman, ketidakadilan, dan keegoisan. Kesejahteraan yang mereka terima tidak membuat mereka menghasilkan buah yang manis.
Sebuah pohon anggur jika sudah menghasilkan buah anggur yang asam, maka selamanya buah yang dihasilkan akan asam. Allah Sang Pemilik kebun anggur mengatakan “Aku akan mengganti kebun anggur-Ku. Aku akan mengantikanmu dengan kebun anggur-Ku yang lain.” Karena itu, tindakan yang harus dilakukan adalah mengganti kebun anggur itu dengan pokok anggur yang baru. Bagi orang-orang Yehuda, pesan Yesaya ini sangat keras dan menyedihkan. Sebagai bangsa pilihan, mereka tentu tidak penah berpikir bahwa Allah akan mengambil anugerah itu dari hidup mereka. Bukannya bertobat dan kembali hidup dalam anugerah Allah, umat malam mengabaikan pesan yang Allah sampaikan.
Allah adalah pemilik kebun anggur. Ketika Allah mempertemukan kita menjadi satu keluarga, tentu Allah ingin setiap keluarga hidup dalam anugerah-Nya dan menghasilkan buah yang manis. Namun, sayangnya tidak semua keluarga menyadari anugerah ini. Beberapa memilih hidup seperti orang-orang Yehuda yang mengabaikan perintah Allah dan hidup semaunya. Dalam minggu ini, mari kita lihat pada buah-buah yang dihasilkan apakah asam atau manis? Kiranya, keluarga kita senantiasa menghasilkan buah-buah yang manis.
(Pdt. Windyarti Anggelina)

