Kej. 50:15-21; Mzm. 103:8-13; Rm. 14:1-12; Mat. 18:21-35
Tema minggu lalu, berdasarkan Matius 18:15-20, mengatakan seolah-olah pengampunan ada batasnya. Sebab kalau ada orang yang salah sudah ditegur empat mata, ditegur dengan membawa saksi, bahkan ditegur di hadapan jemaat tetap tidak mau juga mendengarkan, maka kita boleh memandang dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai (Mat 18:17).
Lalu bacaan kita hari ini mengatakan pengampunan itu dilakukan sebanyak 70 kali 7 kali. Angka 7 adalah angka yang bermakna kepenuhan atau kesempurnaan. Jadi perkataan Yesus 70 kali 7 kali bermakna bahwa pengampunan tidak ada batasnya. Nah, apakah itu berarti ada pertentangan dalam Alkitab?
Kita perlu menegaskan, tidak ada pertentangan. Ada dua catatan yang mendasari jawaban ini. Pertama, bacaan minggu lalu (Mat 18:15-20) perlu kita lihat dalam konteks persekutuan gereja. Artinya, sebagai sebuah persekutuan atau komunitas yang terdiri dari berbagai macam orang, gereja membutuhkan peraturan atau disiplin gereja. Tujuannya agar gereja tetap dapat menjalankan fungsinya sebagaimana Allah kehendaki.
Kedua, tema minggu lalu tidak berbicara tentang berapa kita harus mengampuni, tetapi tiga tahap dalam mengampuni di tengah-tengah persekutuan gereja. Soal berapa kali dalam satu tahap kita mengampuni, tidak disebutkan. Apakah dalam tahap yang pertama, yaitu menegur empat mata, hanya cukup dilakukan sekali saja? Rasanya tidak. Yang dengan jelas disebutkan adalah tujuannya, yaitu supaya kita mendapatkannya kembali (Mat. 18:18).
Pada bagian inilah, tema kita hari ini bersambung. Mengasihi seseorang (dalam bentuk pengampunan) tidak pernah boleh berhenti, bahkan sekalipun orang itu sudah tidak menjadi bagian dari persekutuan kita. Apa tujuannya? Agar ”engkau mendapatkannya kembali.” Dalam Matius 18:14 disebutkan, ”Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang.” Itu sebabnya upaya menyadarkan dan mengembalikan dalam persekutuan menjadi tugas kita bersama. Perumpamaan terkait dengan hutang, menyatakan bahwa melalui Yesus pengampunan telah dianugerahkan kepada setiap kita. Pengampunan kepada sesama perlu kita letakkan dalam kesadaran betapa luar biasanya harga pengampunan kita.
Bahkan, belajar dari Yusuf, apa yang buruk yang dilakukan orang lain kepada kita justru dapat menjadi kebaikan bagi kita. Yusuf mengatakan, ”Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan…” (Kej. 50:20). Apa yang dilakukan kakak-kakak Yusuf seakan tidak terampuni. Namun Yusuf mengampuni karena tahu ada Tuhan yang melegakan perjalanan hidupnya ke depan.
(Pdt. Addi S. Patriabara)

