YUDAS

RENCANA ALLAH DI BALIK RUPA

Rangkaian masa raya paskah tahun ini mengambil tema besar “Rencana Allah di Balik Rupa”. Kita akan belajar dan mendalami lebih lagi kisah dari tokoh-tokoh di sekitar salib.  Pendalaman tokoh yang akan kita lakukan sepanjang masa pra paskah hingga paskah nanti, tidak dilakukan hanya sekedar untuk mengetahui kisah di balik sejarah. Namun kita akan mencoba untuk merefleksikan kisah para tokoh tersebut, yang sering kali mewakili sikap hati kita kepada Allah. Ada kalanya kita memilih jalan seperti seorang Yudas, Petrus, Pilatus, Orang Banyak, Yesus Barabas, Simon Kirene, Maria, atau bahkan Yesus sendiri.

Terlepas dari apa rencana Allah sesungguhnya dalam diri setiap tokoh, kita, manusia, tidak akan mampu memahami rencana karya Allah yang sempurna. Maka kita hanya akan melihat dari sisi yang mampu kita pahami. Kita akan mencoba menggali bersama latar belakang para tokoh yang berbeda satu dengan yang lain, pergumulannya sebagai seorang pribadi dan pendorong terbesar dalam setiap  pilihan yang mereka ambil. 

Kisah-kisah yang akan kita dalami ini, menggambarkan berbagai pergumulan, kelemahan, dan keterbatasan manusia. Adakalanya kita menemukan diri kita (pergumulan, kelemahan dan keterbatasan kita) di dalam setiap kisah; bagaimana kita dimaklumi, diterima dan ‘dibiarkan’ oleh Yesus. Dan dengan begitu kita semakin dibawa dalam sebuah penghayatan yang dalam, yang membuat kita terkagum akan kisah karya kasih Yesus kepada bagi kita dan dunia. Walau tentu kekaguman bukalah akhir. Kekaguman tersebut harus mampu mendorong kita untuk berjalan dalam jalanNya, terangNya, teladanNya, hingga suatu saat kita juga dibangkitkan dalam kebangkitanNya.

Pada minggu pertama pra paskah ini, kita akan mendalami tokoh Yudas. Tak pelak lagi, nama Yudas bukanlah nama yang harum. Bahkan tidak jarang orang tua yang memilih nama selain Yudas bagi anak-anak mereka, dengan alasan bahwa Yudas adalah seorang pembunuh. Namun, apa benar bahwa Yudaslah yang menyebabkan kematian Yesus? Bukankah Yesus memang turun ke dunia untuk mengakhiri rantai hukuman dosa, yaitu maut. Maka tanpa Yudaspun, Yesus memang telah menentukan pilihan untuk mati.

Yudas menjual Yesus ke tangan para pemuka agama. Tapi apakah yang mendorongnya melakukan hal demikian? Apa alasan dan motivasinya? Mengapa Ia menginginkan kematian Yesus, dan mengapa akhirnya ia juga menyesali perbuatannya, hingga memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan cara yang sangat tragis. 

Adakah kita yang bersikap seperti Yudas bersikap? Mari kita belajar melalui perenungan dalam minggu pra paskah pertama ini.

Latar Belakang Yudas, yang kemudian disebut Iskariot. 

Pada awalnya Yudas tidak menggunakan nama Iskariot. Iskariot adalah penambahan dalam Injil, untuk membedakannya dari Yudas yang lain yang ada pada beberapa tulisan para rasul. Iskariot 

memiliki 3 arti pada masa tersebut. pertama, ada sebuah penegasan bahwa Yudas berasal dari Kariot. Suatu tempat  yang terletak di Moab, namun uga kemungkinan ada tempat lain yang letaknya 18 km di sebelah selatan Hebron.  Kedua, bahwa ada kemungkinan lain, Yudas adalah orang Sika (pembawa belati)  yang dalam Bahasa aram juga memiliki arti pembunuh dan yang ketiga, diambil dari Bahasa Aram, yang artinya orang yang hidup berpura-pura, pengkhianat.

Yudas dikenal sebagai seorang ‘pemberang’ berdasarkan manuskrip kuno yang menghubungkannya dengan kata dalam Bahasa Latin sicarius. Ia juga dikenal sebagai orang Zealot, kaum nasionalis yang mendukung pemberontakan bersenjata terhadap Romawi. Dalam beberapa naskah diketahui bahwa Yudas adalah seorang bendahara, namun dalam beberapa naskah yang lain diceritakan bahwa ia adalah seorang pencuri. Ada kemungkinan bahwa Yudas memang dikenal sebagai benadahara yang tidak jujur, bahwa ia adalah seseorang yang kerap kali menggelapkan uang.

Dalam kisah yang diceritakan Yohanes, tentang bagaimana seorang Maria Magdalena memberikan penghormatan kepada Yesus dengan cara menuangkan minyak wangi yang begitu mahal, Yudas memberikan respon yang buruk terhadap tindakan Maria. Yudas menganggap apa yang dilakukan Maria sebagai sesuatu yang sia-sia bahkan menghambur-hamburkan. Bahkan ia mengatakan Bahwa uang itu dapat digunakan untuk menolong orang miskin. sayangnya, Yesus yang sangat menaruh perhatian kepada orang miskin justru sangat menghargai apa yang Maria lakukan, dan bahkan menegur Yudas. Melalui kisah itu, kita memiliki sebuah fakta bahwa Yudas adalah seseorang yang penuh dengan tipu muslihat, ia bukanlah orang yang tulus, dan Yesus mengenal benar hati seorang Yudas. 

Yudas mudah jatuh karena kecintaannya terhadap uang. Dan ketika para imam berjanji akan memberikan uang kepadanya, asalkan ia menyerahkan Yesus, seketika itu Iblis membisikan rencana buruk dalam hati Yudas. Yudas memang berusaha mencari kesempatan untuk menyerahkan Yesus secara diam-diam. Semua Injil Sinoptik sepakat tentang itu. Kesempatan datang padanya pada malam waktu Yesus makan bersama dengan para murid. Taman Getsemani menjadi taman rahasia Yudas untuk menyerahkan Yesus secara diam-diam. 

Taman Getsemani menjadi teman yang sepi ketika malam hari. jarang orang datang ke taman ini pada malam hari, namun Yudas tahu benar bahwa Yesus dan para murid kerap kali datang ke taman ini untuk berdoa. Yudas mengambil kesempatan emas tersebut dan menyerahkan Yesus dengan sebuah ciuman. Apakah pengkhianatannya telah usai? Ya! Dengan tertangkapnya Yesus, maka telah rampunglah tugas pengkhianatannya.

Namun ada kisah memilukan yang ternyata muncul sebagai fakta yang perlu menjadi refleksi umat. Yaitu rasa penyesalannya. Banyak orang bisa berpendapat bahwa alasan Yudas menyerahkan Yesus secara diam-diam adalah karena Yudas tidak mau ia dibenci, mungkin dengan kata lain, ia ingin bermain aman, mengurangi resiko namun mendapatkan keuntungan besar. Tapi, bukankah masih ada kemungkinan yang lain? Bahwa Yudas ingin Yesus ditangkap diam diam dan bukan juga menjadi konsumsi publik. Sebagai kaum Zealot yang menginginkan pembebasan bagi umat Yahudi dari pemerintahan Romawi, Yudas mungkin saja ingin membuka rahasia kemesiasan Yesus kepada kaum Yahudi, terutama para ahli agama dan para imam. Ia ingin Yesus mengambil bagian dari pembebasan secara politis yang sedang diperjuangkannya, hingga akhirnya ia dengan ‘paksa’ mempertemukan Yesus dengan para imam. 

Sayangnya, segala sesuatu tidak berjalan seperti yang ia rencanakan. Ia yang Penuh tipu muslihat, ternyata tertipu oleh para iman dan ahli taurat. Ia menyaksikan bagaimana Yesus ditangkap, disiksa, hingga Yesus mati di atas Kayu salib. Penyesalan begitu rupa Masuk dalam dirinya. Seorang yang memang sungguh ingin membunuh Yesus, tidak akan mengalami penyesalan begitu rupa hingga ia memilih untuk mengakhiri hidup sebagai ganjarannya. Ia tidak mampu hidup dengan menanggung dosa yang dianggapnya terlalu besar untuk diampuni. Hidup yang ia jalani bukanlah hidup yang ia inginkan. Ia mungkin hanya menginginkan kemerdekaan, juga kekayaan dan hormat. Ia begitu terpukul dengan kematian Yesus, hingga kematian adalah jalan akhir dari segala kekecewaannya, kemarahan dan kebencian terhadap diri, dan situasi yang tidak berpihak padanya. 

Kita tidak pernah akan tahu mengapa Yesus memilihnya. Mungkin karena pada awalnya Yudas adalah murid yang berbakat, pun Yesus mengingatkan Yudas berulang-ulang, dalam banyak kesempatan. Namun kita tidak akan pernah dapat mempertanyanyakan ataupun meragukan kesungguhan panggilan Yesus kepada Yudas. Yesus adalah pribadi yang penuh kasih. Pemilihan Yudas oleh Yesus, bukan sebuah jebakan, juga bukan sebuah penentu bahwa Yudas telah digariskan sebagai seorang pengkhianat. Kita dapat memperoleh sebuah kesimpulan, bahwa Yudas memang tidak pernah sungguh -sungguh  menjadi muridNya. Ia tidak pernah melihat dan menerima ajaran Yesus dengan sungguh. Ia tidak pernah berusaha untuk mengerti apa yang Yesus kehendaki. Ia berfokus Hanya pada dirinya. Walau acap kali Yesus menegurnya, teguran Yesus tidak menajdi bahan pertimbangan bagi Yudas. Hingga akhirnya Yudas terjebak dalam pilihannya sendiri.

Bukankah kita pun kerap kali bersikap sama seperti Yudas? Yesus memanggil setiap kita untuk menjadi muridNya. Yesus diperhadapkan dengan begitu banyak resiko ketika Ia memilih kita menjadi muridNya. Karena tidak sedikit dari umat yang dipanggilnya, mengambil pilihan seperti Yudas. Yesus tetap menerima dan mengampuni kita. 

Apakah Yudas mendapat pengampunan dan belas kasih Allah? Bukan kita yang berhak menjawabnya. Namun, Di awal pertumbuhan kekristenan, dalam kerangka kasih, para rasul berusaha membersihkan namanya, dengan mengatakan bahwa ia (Yudas) jatuh tertelungkup… dan bukan menuturkan kembali bagaimana Yudas menggantung dirinya (bunuh diri) (Kisah 1:25). Dalam agama Yahudi, bunuh diri adalah dosa besar, bahkan ketika bunuh diri adalah satu-satunya jalan. Dengan upaya pembersihan nama Yudas oleh para rasul, kita pun dapat merefleksikan tindakan para rasul sebagai tindakan pengampunan. 

Yudas memang bersalah,  tapi apakah dosanya menjadi dosa tak terampuni? Hanya Tuhan yang dapat dan boleh menjawabnya. Yang kita lakukan kini adalah bercermin… sejauh mana kita ‘membunuh’ Tuhan setiap hari, apapun motivasi dan caranya, disadari ataupun tidak; bahwa kita dapat menjadi Yudas-Yudas masa kini. Jangan mudah menghakimi Yudas dengan apa yang diperbuatnya hampir 2000 tahun yang lalu. Perhatikan saja laku dan hidup kita, agar apa yang dipilih Yudas, tidak menjadi pilihan kita.

yudas

arrow