WORK TEAM

Bacaan: Roma 12:1-6

Di jaman serba digital ini, cara berelasi kita pun banyak sekaliberubah. WA (WhatsApp) adalah media sosial yang paling umum digunakan. Setiap komunitas pasti punya WAG (WA Grup)nya sendiri, coba hitung sebentar kira-kira ada berapa WAG yang kita punya di aplikasi kita itu. Ada WAG keluarga, kantor, gereja, lingkungan rumah, wali murid, panitia ini-itu, alumni SD, SMP, SMA, kuliah dan lain sebagainya. Makin harijumlah WAG itu pastilah bertambah dan sulit sekali berkurang. Berapapun jumlahnya, WAG itu dibentuk dengan dasar yang jelas: semua anggota grup memiliki satu kesaaman.Keseragaman. Entah sama-sama warga gereja GKI KavPol, sama-sama alumni dari sekolah dan persamaan-persamaan lainnya. Kalo gak sama, gak seragam ya pasti gak akan masukke WAG itu. Aturannya simple!

Sadar atau tidak, kita sering merasa lebih nyaman ada dalam keseragaman. Seragam memang tak dosa, masalahnya adalahsaat keseragaman itu justru mengabaikan dan mengesampingkanyang beragam. Padahal, bukankah keragaman adalah hal yang lebih manusiawi ketimbang keseragaman? Tak ada yang benar-benar bisa diseragamkan. Entah logatnya, seleranya ataukemauannya, setiap orang pastilah beragam. Demikian pula dalam kehidupan kita berkeluarga. Meski ada dalam satu keluarga yang sama karena alasan ikatan darah, pastilah ada keragaman di dalamnya.

Paulus, dalam bacaan kita tadi menunjukkan penghargaan dan perhatian yang besar terhadap keragaman yang dimiliki olehJemaat di Kota Roma. Roma, bukan hanya kota yang besar dan penting, tapi ia adalah kota yang dipercaya sebagai pusat duniasaat itu. Tapi bagi orang percaya di kota sesibuk Roma, Paulus memberikan nasihat “berjenjang” yang menarik. Diawali denga nnasihat untuk hidup sebagai pribadi yang percaya pada Kristus(ay.1-2) dan kemudian dilanjutkan dengan nasihat yang berkaitan dengan hidup dalam komunitas Kristen (ay.3-8).Dalam surat ini, Paulus mengingatkan bahwa apa yang mereka miliki saat ini bukan karena hasil kerja keras mereka, namun terutama karena anugerah. Jadi, tiap orang yang percaya pada Kristus berarti hidup di bawah kuasa anugerah Kristus. Oleh sebab itu, sebagai sebuah ibadah sejati mereka mesti memberikan diri seutuhnya pada Kristus sebagaimana korban bakaran yang menjadi persembahan di altar Bait Allah yang memberikan diri seutuhnya (ay.1).

Ibadah bukanlah sekedar ritual, namun terutama laku spiritual yang terus menerus dimana prosesnya selalu mengubah budi manusia.

Mengubahnya agar tidak serupa dengan dunia (mewakili kejahatan) namun semakin mampu melakukan kehendak Allah (ay.2). Setelahnya, Paulus menjelaskan tentang ekspresi spiritualitas kekristenan yang penting, yaitu hidup dalam komunitas Kristen. Paulus memberikan analogi kuat tentang apa itu komunitas kekristenan: kesatuan tubuh (ay.4). Tubuh terdiri dari banyak anggota yang beragam, dan karena itu tiap anggota tubuh memiliki tugas dan fungsi yang berbeda-beda (ay.4). Keragaman adalah karunia, dimana tidak ada karunia satu yang lebih tinggi atau lebihpenting daripada karunia yang lain. Tidak ada satu anggotatubuh yang berhak merendahkan anggota tubuh yang lain, hanyakarena karunia yang berbeda itu. Tiap anggota berkewajibanuntuk melakukan tugasnya, melakukan pekerjaannya dengansebaik mungkin (ay.6-8). Dan dalam keberagaman itu, ada satukeseragaman yang paling penting untuk menyatukan semuaanggota tubuh yaitu frase “di dalam Kristus” (ay.5).

Keluarga dan gereja adalah sebuah tubuh, sebuah tim. Tim selalu terdiri dari anggota yang beragam, keragaman ini perludihormati, dihargai dan juga dipelihara. Namun jangan lupa, bahwa tugas dari setiap anggota tim adalah: berfungsi sebaikmungkin dan bekerja semaksimal mungkin agar tubuh secarakeseluruhan dapat berfungsi optimal.

Selamat menghidupi keragaman dalam keseragaman panggilandari Kristus. Amin. (Rhe)

arrow