TUNDUK DI DALAM TAKJUB

 

KELUARAN 34:29-35

MAZMUR 99

2 KORINTUS 3:12-4:2

LUKAS 9:28-43a

Setiap tahun, gereja merayakan Minggu Transfigurasi sebelum masa pra paskah tiba. Minggu Transfigurasi menjjadi jalan pembuka bagi masa raya Pra Paskah, yang dimulai dari Rabu Abu. Dalam minggu ini kita mencoba menghayati kondisi Kristus di puncak kemuliaan, yang kemudian menuju titik terendah di dalam kesengsaraan, hingga mati di atas kayu salib dan mengalami kebangkitan saat Paskah.

Hal menarik dalam minggu Transfigurasi adalah bagaimana Yesus melarang para murid untuk menceritakan peristiwa tersebut. Perintah Yesus tersebut dituliskan dalam ketiga injilNya. Mengapa? Karena kisahNya belum selesai. Menceritakan kisah yang belum selesai hanya akan menciptakan sebuah kerancuan dan pengharapan semu. Yesus ingin kisahNya dikabarkan dalam rangkaian yang utuh, karena hanya dalam keutuhan itu kita dapat melihat inti iman yang sesungguhnya. 

Tidak ada kemuliaan tanpa ketaatan, tanpa salib, tanpa kematian. Dan tidak ada kemenangan Tanpa kebangkitan. 

Kisah  pada minggu Transfigurasi hanyalah kisah awal, dan bukan akhir kisah. Yesus tahu, bahwa para murid begitu bersemangat untuk menyatakan kemuliaanNya. Apalagi dengan situasi dan kondisi yang dialami para murid, yang berada dalam tekanan, kemiskinan, pergumulan akan penantian seorang Mesias, kemuliaan Yesus adalah sesuatu yang dinantikan dan diharapkan membawa perubahan. Menjadi populer, dihormati dan diangkat derajadnya, adalah keinginan para murid saat itu. Terlepas bahwa diterima adalah kebutuhan semua manusia, para murid saat itu sangat menginginkan penerimaan. 

Yesus tidak Sedang mencari pengagum yang Hanya mengikuti Dia saat Ia berada di puncak popularitas, dan kemudian memilih untuk meninggalkannya sewaktu-waktu, ketika mereka tidak mendapatkan apa yang mereka mau. Yesus mencari murid sejati, yaitu orang -orang yang bersedia menaati dan mengikuti teladanNya. Perasaan takjub akan kemuliaanNya, seharusnya membawa kita kepada ketaatan total dan bukan hanya berhenti pada rasa kagum. Sekedar mengagumi tidak akan membawa kita pada kepenuhan hidup dalamNya. Ketaatan yang didorong oleh rasa takub itulah yang akan membawa kita mendekat padaNya, semakin menyerupaiNya, semakin mampu melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang benar, hingga hidup dalam kebenaran. Kenyataan itulah yang nampak dalam diri MUSA

MUSA

Latar belakang kisah ini adalah bangsa Israel yang kehilangan Musa untuk 40 Hari lamanya. Mereka meminta Harun untuk membuat sebuah tanda nyata tentang kehadiraan Allah. Karenanya kehadiran Musa dengan kulita wajah yang bersinar benar-benar memberikan sebuah pengharapan kepada umat Israel saat itu. Yang menarik adalah penggunaan kata yang digunakan untuk menggambarkan wajah Musa yang bersinar adalah karan. Karan dalam Bahasa Ibrani berarti adalah tanduk binatang. Tanduk sendiri adalah sebuah lambang kuasa, kekuatan, kesadaran akan diri.

Relasi yang Musa miliki dengan Allah, mengubah Musa secara perlahan tapi pasti memperbaharui dan meningkatkan karakter kekudusan dalam diri Musa. ketenangan, damai sejahtera dan sukacita, bahkan nampak dalam tubuh jasmani. Perubahan di dalam diri ternyata membawa perubahan yang besar juga pada tubuh. Dalam hal ini Musa nampak bersinar begitu terang, kulit wajahnya seakan memancarkan sinar kemuliaan yang begitu mempesona dan menakjubkan. Perubahan dalam diri Musa meliputi perubahan yang menyeluruh. Bukan semata-mata perubahan yang sekejap karena ‘tertular’. Perubahan yang Musa alami adalah perubahan yang mendatangkan kuasa, kekuatan Allah dalam seluruh keberadaannya. Itulah yang menyebabkan Harun merasa takut (baca: hormat dan segan).

Mengapa Musa menyelubungi wajahnya di hadapan bangsa israel? Apakah benar apa yang dikatakan Paulus, bahwa Musa menutupi cahaya yang lama kelamaan pudar, dan Musa tidak ingin bangsa Israel melihat pudarnya cahaya itu dari dalam dirinya? Mungkin saja hal tersebut yang mendasari Musa menyelubungi wajahnya. 

Bagaimanapun Musa hanyalah seorang manusia yang punya kerterbatasan, termasuk terbatas dalam memelihara kemuliaan Allah pada dirinya. Tapi, Musa mungkin juga memiliki alasan yang lain, ia tidak mau bangsa Israel terpaut padanya, dan bukan pada Tuhan itu sendiri. Melihat begitu tergantungnya bangsa Israel terhadap pemimpin mereka. Musa juga melihat betapa bangsa Israel dengan mudah berpaling pada sosok lain selain Tuhan. Selubung juga menjadi sebuah ungkapan tentang bagaimana hati yang keras dari umat Allah sering kali menjadi penghalang manusia untuk memahami dan menikmati pekerjaan-pekerjaan Allah 

Yang terpenting bukanlah mengapa Musa menyelubungi wajahnya, namun mengapa Allah mengijinkan wajah Musa bersinar. Karena sinar yang ada pada wajahnya bukanlah sinar yang berasal dari dirinya sendiri, melainkan dari Allah. Berbeda dengan sinar pada wajah dan pakaian Kristus, yang berasal dari diriNya sendiri. 

Allah menginginkan ketaatan umat baik kepada Yesus maupun Musa. Bukan Hanya ketaatan pada titahNya, namun meneladani pilihan hidupNya. Musa diperkenankan untuk mengalami kemuliaan Allah agar umat memahami penyertaan dan pemilihan Allah kepada mereka sebagai sebuah bangsa. Allah ingin bangsa Israel menaati Musa sebagai pemimpin mereka. 

Kristus hadir, melampaui Musa. Hanya Ia-ah yang mampu membuka tabir manapun yang ada. Tidak ada yang mampu menyelubungiNya. Dan Ia jugalah yang mampu menghalau semua selubung yang ada diantara manusia dengan Allah, diriNya dengan kita. Tapi, dengan kemuliaanNya  yang mampu menghalau semua tabir termasuk kelemahan kita, kita dituntut untuk  taat secara penuh. Karena Hanya dengan ketaatan penuh, segala tabir yang menjadi penghalang antara kita dan Dia akan lenyap, dan mengijinkan kita juga meniikmati kemuliaan yang Ia sediakan.

arrow