TUNAS PENGHARAPAN

TUNAS PENGHARAPAN
Yesaya 64:1-9
Mazmur 80:1-7,17-19
1 Korintus 1:3-9
Markus 13:24-37

Natal tidak pernah lepas dari tema pengharapan. Dari tahun ke tahun kita akan selalu melihat bahwa Natal menjadi pengingat akan kehadiran Yesus Kristus di tengah dunia, sekaligus adanya pengharapan akan kedatangan Yesus ke dua kalinya di dunia. Pengharapan selalu digaungkan, namun adakah dirasakan? Sejauh mana kita mampu merasakan pengharapan?

Kita mungkin akan sering bertanya, dimanakah perngharapan yang ditawarkan oleh Yesus Kristus. Hidup tidak menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Kejahatan, ketidakadilan, kekacauan, ketidakpatuhan, kekejian, bahkan semakin mewarnai kehidupan kita sebagai manusia. Setiap hari siaran televisi menyiarkan berita yang semakin menunjukkan bahwa pengharapan seakan tidak ada dan tak akan pernah datang.

Pengharapan memang bukan sesuatu yang bisa dirasakan oleh indera kita. Pengharapan hanya dapat dirasakan oleh jiwa dan roh kita. Oleh karena itu pengharapan tidak dapat muncul dengan sendirinya. Pengharapan ada bersamaan dengan iman. Imanlah yang membawa pengharapan dalam kehidupan manusia. Dan iman hanya akan ada bila ada Roh Allah di dalam kita. Iman adalah karunia yang diberikan Allah kepada umatNya, bukan hasil usaha kita. Seberapapun besar keinginan kita untuk merasakan pengharapan, tidak akan terwujud bila kita tidak menyertakan Allah di dalam hidup dan perjuangan kita.

Namun, jangan lupa, ketika kita menyertakan Allah dalam kehidupan kita bukan melulu agar kita merasakan damai sejahtera dan sukacita dalam hidup kita, hingga hidup kita tidak terpengaruh oleh kondisi dan situasi yang tidak mendatangkan pengharapan sekalipun. Atau jangan juga berpikir bahwa hidup bersama dengan Allah adalah melulu untuk kehidupan di seberang sana. Iman diberikan Allah bukan untuk mencapai kehidupan kekal bersamaNya saja.

Iman, Allah karuniakan untuk mengubah! Mengubah apa? Mengubah siapa? Mengubah diri sendiri, mengubah sesama, mengubah komunitas, mengubah kota, bangsa dan negara. Mengapa harus diubah? Pertama karena Allah tidak tidak menginginkan kehidupan yang statis, yang sama, terus menerus dalam kelemahan dan keberdosaan. Allah mau kita BERUBAH. Kedua, Allah ingin kita sadar bahwa kesudahan segala sesuatu sudah dekat, Ia ingin kita mempersiapkan diri dalam masa kini, hingga kita mendapat kehidupan di masa depan. Iman tidak dapat dilepaskan dari masa kini. Imanlah yang memapukan kita hidup dalam kebenaran dan kehendak ALlah pada MASA KINI, dan bukan masa depan.

Bagaimana memaknai tunas harapan dalam kerangka berpikir masa kini?
Mari kita lihat bagaimana Yesus mengajar dalam bacaan kita hari ini. Yesus mengajak para murid untuk melihat 2 aspek yang terpisah oleh waktu. Yang Pertama Yesus mengajak para murid untuk melihat jauh ke masa depan. Masa dimana matahari dan bulan tidak bersinar lagi, bintang jatuh dari langit, penguasa angkasa raya menjadi kacau balau, dan bagaimana Anak Manusia akan datang di dalam awan dengan kuasa yang besar. Kedatangan tersebut membawa pembebasan, pemulihan sekaligus keselamatan. Disini, Yesus menggambarkan sebuah pengharapan akan terjadinya perubahan yang begitu signifikan pada kehidupan manusia.

Kedua, Yesus mengajak para murid untuk belajar pada sebatang pohon ara. Pohon ara yang Sedang bertunas dipahami sebagai masa akan turunnya Berkat Tuhan. Dalam perjanjian lama pohon ara yang bertunas menggambarkan situasi yang damai dan sejahtera. Situasi tersebut ditunjukan melalui kesejukan yang diberikan pohon tersebut pada musim panas. Gambaran tentang pohon ara yang bertunas tidak pernah dihubungkan dengan masa penghancuran dan malapetaka. Namun mengapa Yesus menjadikan kisah tentang pohon Ara ini setelah ia menceritakan bagaimana siksaan berat dan hadirnya mesias-mesias palsu.

Cerita yang dikisahkan Yesus memang membuat hati para murid menjadi kecut. Namun Yesus menceritakan kisah itu bukan untuk menakuti-nakuti para murid agar mereka ketakutan. Yesus ingin mereka tidak berfokus pada hal-hal menakutkan yang akan datang. Yesus mau mereka Berfokus pada kehadiran Allah. Berfokus pada masa yang menakutkan hanya akan mendatangkan kekuatiran dan kekacauan. Tapi berfokus kepada kehadiran Allah akan mengubah manusia itu sendiri. Manusia akan dimampukan untuk melihat kebaikkan ditengah kekacauan dan kesengsaraan sekalipun.

Hanya saja, berfokus pada kehadiran Allah harusnya juga mendorong kita untuk menghadirkan Dia dan bukan sibuk pada kehendak dan pikiran sendiri. Sibuk menilai jaman, menilai tanda-tanda, menilai dan menghakimi orang lain. Berfokus kepada Allah seharusnya dapat mendorong kita berkaca diri, bertanya pada diri sendiri sejauh apa hati dan pikiran kita sudah diarahkan kepada Allah dan bukan kepada dunia. Sudah sejauh apa hidup yang akan berakhir ini digunakan untuk menjadi media Allah berkarya, bekerja, memberkati dunia. Sejauh apa karunia yang diberikan digunakan bukan untuk membangun kerajaan bagi diri sendiri, tapi mendatangkan kerajaan Allah turun ke bumi.( 1 Kor 1)

Berfokus kepada Allah juga memiliki makna berfokus pada apa yang dapat dan harus kita ubah dan bukan kepada apa yang tidak dapat kita ubah. Apa yang dapat dan harus kita ubah? Karakter ; gaya hidup; pilihan-pilihan hidup yang keliru; cara memandang dunia dan segala perkaranya; kebiasaan2 daging yang membinasakan; perkataan-perkataan yang tidak membangun sesama; malah menghancurkan dan menyudutkan; asumsi-asumsi yang negatif dan masih banyak lagi. Kini, apa yang tidak dapat kita ubah? Kedatangan Tuhan! Kedatangan Tuhan tidak dapat kita ubah, kita percepat atau kita tunda. Tuhan akan datang seperti kehendakNya, bukan kehendak kita.

Dengan demikian, ketika hari Tuhan itu tiba, maka setiap kita didapati tanpa cacat cela.

arrow