Tetap Teguh di Tengah Hidup yang Runtuh

Siapakah yang mau memiliki kehidupan yang runtuh? Kita ingin kehidupan yang terus dibangun, semakin hari semakin baik, semakin bertumbuh dan semakin sejahtera. Kita tentu tidak mau melihat hidup yang kita perjuangkan runtuh di depan mata kita. Hingga yang kita butuhkan lebih dari sekedar teguh. 

Kita membutuhkan segala usaha, kreativitas, untuk lebih dari sekedar bertahan dalam menghadapi berbagai macam desakan kehidupan. Kecepatan perubahan yang kerap kali tak dapat kita imbangi, perpecahan diantara anggota keluarga, kekerasan, dorongan negatif yang timbul karena media sosial, menjadi musuh yang nyata dalam hidup setiap hari.

Bahwa keadaan sering kali tidak menjadi lebih baik, bahkan sebaliknya menjadi lebih buruk adalah kenyataan yang perlu kita pertimbangkan setiap hari. Bukan berarti hidup tanpa pengharapan dan iman. Yesus sendiri mengatakan kepada kita, bahwa apa yang kita harapkan,  yaitu kemenangan dan kekekalan, memperhadapkan kita pada proses yang memang harus kita lewati sebagai pribadi, keluarga, juga bagian dari bangsa dan negara. 

Bukanlah hal yang menakutkan hidup dalam berbagai pergumulan atapun masalah. Namun keberanian tidak akan muncul secara tiba-tiba. Kita butuh belajar, mengubah dan menerapkan cara pandang yang baru, yang juga tidak muncul secara tiba-tiba. Kita butuh belajar bersama Sang Pemberi Hidup itu sendiri.

Karena setiap suka maupun duka tidak lewat dari pandanganNya, bahkan Ia mengijinkan hidup yang naik turun untuk kita jalani, agar kita dapat belajar bersama Dia. 

Kita butuh belajar, mengubah dan menerapkan cara pandang yang baru, yang juga tidak muncul secara tiba-tiba. Kita butuh belajar bersama Sang Pemberi Hidup itu sendiri. Karena setiap suka maupun duka tidak lewat dari pandanganNya, bahkan Ia mengijinkan hidup yang naik turun untuk kita jalani, agar kita dapat belajar bersama Dia. 

Pembelajaran akan jauh lebih mengena bila ada soal, bukan? Maka, pembelajaran akan hidup juga akan lebih berguna saat ada persoalan. Tapi, berhati-hatilah memilih guru. Tidak semua guru dapat membawa kita paa pembelajaran yang benar. Bahkan mungkin ada guru yang justru menjerumuskan kita di tengah pembelajaran tersebut dan bahkan mengambil keuntungan dari kita. Teguh di tengah hidup yang runtuh adalah sebuah hasil dari prose berjalan dan belajar bersama Guru Sejati, Yesus. 

Kita tidak perlu berpikir bagaimana menghadapi penganiayaan  terhadap orang Kristen yang mungkin suatu saat nanti kita hadapi. Yang perlu kita lakukan adalah me-reprogram terlebih dahulu diri kita hingga kita tidak menjadi pribadi yang mudah mengeluh karena hal-hal kecil. Bila untuk hal kecil saja kita mengeluh apalagi hal dalam skala besar.Teguh tidak diwujudkan dalam satu hari, namun ratusan, ribuan, bahkan jutaan hari. Karenanya jangan mudah terbuai oleh hidup kita yang mungkin, masih baik-baik saja. Persiapan demi persiapan perlu harus diperhatikan, latihan dari latihan perlu dilakukan. Karena layaknya keteguhan, keruntuhan juga memakan waktu yang lama. Semuanya dimulai dari tidak adanya perawatan dan pemeliharaan, bahkan juga pembiaran. Jadi, mari kita persiapkan diri dengan lebih baik, senantiasalah berguru pada Sang Guru Agung, karena tanpaNya, kita akan runtuh bersama hidup yang runtuh. 

arrow