TAAT DALAM IMAN DAN KASIH

Kisah Para Rasul 16:9-15

Mazmur 67

Wahyu 21:10, 22-22:5

Yohanes 14:23-29

Ketaatan bukan hal yang asing dalam kehidupan Kekristenan. Kekristenan pun tumbuh karena ketaatan Kristus kepada Allah BapaNya, ketaatan yang membawaNya hingga kematian. Dalam perkembangannya, Kekristenan diwarnai oleh perjuangan para martir yang bertahan dalam segala penderitaan dalam ketaatan yang luar biasa. Dapat dikatakan bahwa Kekristenan tumbuh diatas darah para martir, bahkan mereka yang memberikan inspirasi dan teladan iman bagi para jemaat Tuhan hingga masa modern ini. 

Ketaatan bukan sekedar menjadi dasar dalam kehidupan Kekristenan, ketaaan haruslah menjadi jiwa dan roh dari kehidupan Kekristenan, yang memberi semangat dan geliat kehidupan hingga Umat Tuhan dapat menjalankan panggilannya secara optimal. Tanpa ketaatan Kekristenan akan kehilangan kuasa dan pengaruh di tengah dunia. Apalagi di tengah kencangnya arus modernisasi, yang didalamnya pengembangan intelektual dan logika begitu besar. Iman akan tergeser secara perlahan tapi pasti. Akhirnya Kekristenan akan mati, dan sulit untuk bangkit lagi. 

Kekristenan masih ada dan bertahan hingga masa ini, Karena Kristus masih mengaruniakan ketaatan kepada umatNya. Namun ketaatan bukan hanya karunia Kristus. Ketaatan adalah buah dari relasi dan kerja keras umat Tuhan, artinya ketaatan adalah bukan semata-mata pemberian, namun sebuah proses panjang yang perlu dilakukan dengan tanggung jawab dan diwujudkan atas dasar kasih dari dan kepada Allah. Singkat kata, ketaatan adalah sebuah piliihan, atas kedewasaan iman dan kasih. 

Sebagai pengikut Kristus, kita jelas mendapatkan panggilan untuk taat mengikuti pilihan pilihan Kristus, dan bukan sekedar bapa-bapa gereja, bukan sekedar pahlawan reformator, ataupun dewan gereja, bahkan sinode. Apakah pilihan-pilihan Kristus? 

  1. Mendengarkan Firman Allah. Firman Allah adalah segala perkataan yang keluar dari mulut Allah. Darimana kita tahu Allah berbicara? Pertama-tama tentu dari Alkitab, Alkitab kita pandang sebagai Firman Allah. Namun apakah hanya terbatas pada Alkitab? Tentu tidak! Bila firmanNya hanya ada dalam Alkitab maka betapa terbatasNya Dia. Allah adalah Allah yang terus berbicara dari waktu ke waktu kepada umatNya, hingga masa modern ini, dimana hidup telah menjadi begitu bising, Allah tetap berbicara. Sayangnya umatNya memilih untuk mendengar kebisingan yang ditawarkan dunia, ketimbang mendengarkan suara Allah yang menyapa umat setiap hari. FirmanNya Adalah Firman yang hidup, yang tetap bersuara, walau kita beralasan bahwa kita tidak memiliki waktu untuk membaca Alkitab. Firman Allah layaknya GPS (Global Positioning System) dalam hidup kita. Dia akan terus beruara dengan begitu lantangnya, tanpa henti, untuk menunjukan jalan yang benar menuju tempat tujuan kita. sayangnya, seperti GPS, suara Allah juga dapat kita matikan. Hingga arahan dan tuntunannya tidak terdengar lagi dalam kehidupan kita. Lebih miris lagi, ketika kita memilih mematikan suara Allah, karena kita merasa jalan yang kita pilih untuk kita tempuh lebih baik, lebih enak. “Kita tau jalan yang lebih cepat ko, nggak usah ikutin GPS, kadang GPS malah bikin kita kesasar.” Setelah sekian lama kita mematikan GPS kita, kita lupa bagaimana cara untuk menghidupkannya kembali. Akhinya kita menjalani hidup tanpa tuntunan Allah sama sekali. Bingung, nyasar, akhirnya tidak akan pernah sampai di tempat tujuan, Rumah Bapa. 
  2. Belajar dan mengajar. Apakah Yesus belajar? Ya! Yesus juga belajar, sebagai manusia Ia belajar, Ia belajar untuk mengenal kehendak BapaNya bukan hanya kehendakNya sebagai manusia. Ia belajar untuk melakukan, dan mengajarkan kehendak BapaNya tersebut melalui kehidupanNya setiap hari. Sekedar tahu tidaklah cukup. Tuhan tidak hanya ingin kita tahu, Ia ingin kita melakukan apa yang kita tahu. Dia tidak Hanya ingin kita menjadi anak-anakNya yang berpengetahuan, namun Ia ingin kita menjadi fasih dalam melakukan apa yang kita tahu, bahkan menjadi bagian yang tidak terlepaskan dari kehidupan kita. Namun, layaknya semua manusia, kitapun pasti pernah gagal untuk melakukan apa yang sudah kita tahu dan pelajari sebelumnya. Melakukan tidak semudah mendengar arahan bagaimana sesuatu dilakukan. Kita membutuhjan perjuangan panjang, yang diwarnai oleh berbagai macam kegagalan. Sayangnya, banyak dari umat Tuhan, berhenti untuk mengajar karena berbagai macam kegagalan yang dilaluinya, bahkan berhenti belajar, karena merasa tidak bisa melakukan apapun yang sudah dipelajari. Tanpa sadar, ketika kita berhenti belajar, kita berhenti hidup. Karena hidup bukan sekedar bergerak, betambah tinggi atau bertambah tua, hidup adalah bagiamana kita tetap mampu bertumbuh, berkembang dan berbuah. Hidup harus memberi hasil yang lebih dari sekedar lelah dan jenuh. Dengan belajar, pertumbuhan demi pertumbuhan kita capai, hingga akhirnya hidup kita menjadi lebih baik dari waktu ke waktu, kita mampu merasakan emosi-emosi yang lebih positif, bahkan berdampak bagi kehidupan orang-orang di sekitar kita. Semangat dan gairah hadir lebih banyak dan lebih kuat dari waktu ke waktu. Masalah dan pergumulan yang datang dalam kehidupan tidak membuat kita menjadi surut, bahkan makin fasih dan makin sempurna menjalani hidup. Ketaatan tidak dilihat sebagai keterpaksaan, malah dirasakan sebagai pendorong diri untuk mengalami pembaharuan. 
  3. Menaklukan kegentaran dan kegelisahan. Ketakutan dan kegelisahan menjadi momok yang begitu dihindari semua manusia. Tuhan juga tidak ingin umatNya dikuasai ketakutan dan kegelisahan. Namun, bukan berarti Yesus tidak pernah merasa gelisah dan gentar. BagiNya kegentaran dan kegelisahan tidak perlu dilenyapkan dalam hidup, sebaliknya kegelisahan dan kegentaran perlu diubah karena keduanya dapat menjadi energi yang begitu besar untuk terus menunjukkan ketaatan dan ketekunan. Tanpa kegentaran dan kegelisahan manusia dapat kehilangan ketaatan, kehilangan alasan untuk hidup benar dan baik di hadapan Tuhan dan sesama. Jadi, Yesus tidak menghilangkan kegentaran dan kegelisahan yang Ia alami. Ia mengubahnya untuk menjadi ‘bensin’ untuk mempertahankan ketekunan dan ketaatan kepada Bapa. Hasilnya, buah yang  matang, manis, yang berdampak kepada orang-orang di sekelilingnya bahkan ke seluruh dunia. Gentar dan gelisah boleh ada, namun pergunakanlah dengan cerdas, karena segala bentuk perasaan dan pengalaman yang paling menyakitkan sekalipun dapat Tuhan ubahkan menjadi sebuah berkat yang tak berkesudahan. Dan ketika kita melihat apa yang telah kita lewati, kita akan mampu mengatakan “Sebuah perjalanan yang tidak mudah, namun layak untuk dilalui”
arrow