SANG PENAKLUK

MARKUS 16:1-8

Yesus, Sang Penakluk, kini sudah bangkit. KebangkitanNya menyempurnakan penaklukan yang Ia lakukan di tengah dunia. KebangkitanNya menunjukkan penaklukan atas kematian, yang tidak pernah dapat ditaklukan oleh manusia manapun, sebelum dan sesudahNya.

 

Dia yang adalah manusia sejati, mampu menaklukan segala keterbatasan manusia; menaklukan segala impian diri dan manusia di sekitarnya; menaklukan diri untuk taat kepada Allah saja dan bukan yang lain; menaklukan segala keraguanNya dengan iman yang bulat kepada BapaNya; menaklukan diri ada panggilan yang diberikan BapaNya dalam kematian; menaklukan ketakutan dan kekuatiran dalam menghadapi kematianNya. Maka sempurnalah karya penaklukanNya di bumi.

 

Kesempurnaan dalam menjalankan panggilanNya tersebut juga memanggil kita untuk menjalankan penaklukan yang sama. KebangkitanNya memberikan kita lebih dari sekedar peluang dan kesempatan juga bukan sekedar impian namun sebuah kenyataan yang dapat diusahakan, diwujudkan, dicapai.

 

Kebangkitan Yesus memberi arti dari setiap perjuangan yang kita lakukan hari demi hari. Bila Yesus tidak bangkit maka sia-sialah semua kepercayaan kita, sia-sialah semua usaha kita. Tidak ada artinya, tidak ada dampaknya, yang ada hanya kelelahan dan keletihan menjalankan hidup. Yesus memberi hidupnya agar kita memperoleh kehidupan. Bukan kehidupan biasa, layaknya kebanyakan manusia. Yesus memberi kita hidup agar kehidupan yang kita jalani tidak semata-mata sekedar rutinitas, beban dan penderitaan.

 

Yesus memberi makna baru tentang hidup kepada para perempuan dan murid-muridNya. Apa saja yang Ia perbarui?

  1. Sejak pertama kali sabat ditetapkan dalam taurat, belum pernah ada sabat seperti Sabat setelah Yesus meninggal. Sabat kali ini, menjadi sangat sunyi dan mencekam bagi para murid Yesus. Hari yang digunakan untuk umat beristirahat menjadi hari yang begitu kelabu, penuh kesedihan dan ketakutan. Terlebih lagi ibadah yang dilangsungkan pada hari sabat ini dipimpin oleh para iman yang dipenuhi darah Yesus. Pagi hari setelah sabat berlalu, para perempuan yang datang ke kubur Yesus hendak menyatakan kasih dan penghormatan mereka kepada Yesus. Mereka membawa rempah –rempah dan minyak (campurn minyak mur dan gaharu)untuk mengobati luka dan menghentikan pendarahan. Dalam keadaan yang mencekam dan penuh dengan kesedihan para perempuan datang ke kubur dengan beragam kekuatiran. Mereka kuatir akan batu yang besar yang menutup kubur Yesus. “Siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi kita dari pintu kubur? Sebab batu itu memang sangat besar dan berat. Belum lagi mereka juga harus berhadapan dengan para penjaga kubur Yesus. Kemungkinan besar mereka diusir karena tidak satupun diperbolehkan mendekat apalagi masuk ke dalam kubur Yesus. Imam farisi dan para ahli Taurat telah meminta kepada Pilatus agar kubur Yesus di jaga (Matius27: 63). Para perempuan yang datang dengan penuh kekuatiran bagaimana menggulingkan batu dan mungkin juga diusir, ternyata mendapati batu sudah terguling dan penjagapun sudah tak nampak, bahkan mereka berjumpa dengan malaikat yang memberikan kabar mengejutkan, melampaui harapan dan keinginan mereka.
  2. Tuhan mengenal semua ketakutan kita sebagai manusia. Begitu juga dengan ketakutan para perempuan yang datang ke kubur Yesus itu. Mereka datang dengan ketakutan dan Tuhan tahu persis apa yang mereka takutkan. Ia menempatkan seorang muda (malaikat) untuk melenyapkan ketakutan mereka. Orang muda tersebut berkata “Jangan takut!”. Malaikat tidak hanya mengatakan jangan takut agar para perempuan tersebut tidak merasa ketakutan lagi. Namun sesungguhnya malaikat itu sedang menyatakan tidak ada yang perlu ditakutkan lagi. Kematian sudah dikalahkan, dosa sudah dihapuskan, manusia sudah ditebus.
  3. Apakah mereka masih ketakutan? Ya !! mereka masih ketakutan. Karena apa yang mereka alami bukanlah hal yang mudah diterima oleh akal sehat mereka. Alkitab Yunani menggunakan kata Phobeo, yang menunjukkan suatu rasa takut yang pebuh keterkejutan, membuat mereka menjadi waspada, penuh rasa hormat. Mereka masih dalam perasaan gentar, karena dasyatnya peristiwa yang mereka alami, namun (ay 8) ketakutan yang mereka alami tidak menghalangi mereka untuk menyampaikan pesan yang disampaikan orang muda tersebut kepada Petrus. Ketakutan bukalah sesuatu yang dengan mudah dapat hilang atau sirna, ada kalanya Tuhan membiarkan ketakutan ada dalam hidup kita agar hidup kita menjadi penuh kewaspadaan. Karena keselamatan perlu dijaga dan dipertahankan dan iblis senantiasa berusaha merampas keselamatan tersebut dari kita. Jadi ketakutan tetap diperlukan karena dengan rasa takut dan gentar, kita menjaga hidup kita tetap kudus dihadapanNya.

 

Kebangkitan Yesus membawa pembaharuan manusia dalam melihat hidup, dalam berjuang mempertahankan dan menumbuh kembangkan hidup. Kebangkitan Yesus memberikan sebuah harapan yang sudah lama pupus, yaitu harapan untuk menjadi sempurna. Kebangkitan Yesus menyempurnakan segala sesuatu. Ia menyempurnakan hidup saya dan hidup saudara.

arrow