PONTIUS PILATUS

 

YOHANES 18:28-43

Pontius Pilatus orang Romawi, dari golongan penunggang kuda atau kelas menengah keatas. Ia dikenal sebagai seorang Prokurator Romawi di daerah Yudea. Yaitu seorang gubernur romawi yang ditempatkan di daerah Yudea, Samaria dan Idumea. Para Ahli sejarah profan kuno melukiskan Pilatus sebagai pemimpin yang kejam dan kasar. Ia pernah melukai perasaan orang Yahudi dengan membawa panji-panji kekaisaran mengelilingi kota Yerusalem dan memasang panji-panji tersebut atas nama kaisar. Karena kekerasannya terhadap bangsa Samaria, ia dipanggil ke Roma dan dipecat. 

Pontius Pilatus, memegang kekuasaan penuh untuk mengawasi seluruh wilayah propinsinya. Ia juga memegang pimpinan tentara pada masa itu. Pontius pilatus menajdi seorang wali Negeri yang memiliki kuasa pebuh atas hidup dan mati seseorang dan dapat mengubah hukuman berat yang telah diputuskan Oleh Sanhedrin ( Mahkamah Agama: bentuk pemerintahan tertinggi pada dari bangsa Yahudi pada jaman Yunani Yahudi) sekalipun, karena ialah yang berhak untuk mengesahkan putusan itu. Ia jugalah yang mengangkat imam besar serta mengawasi Bait Suci dan dana-dananya; jubah para imam berada dalam pengawasannya dan hanya dikeluarkan pada hari-hari raya.

Sejarah menuliskan bahwa Pilatus memakai uang perbendaharaan Bait Suci untuk membangun saluran air ke Yerusalem dari suatu sumber air yang jaraknya kira-kira 40 kilometer. Begitu banyak orang Yahudi berdemonstrasi menentang pembangunan tersebut, dan salah satunya adalah Yesus Barabas. Akibat demonstrasi tersebut, banyak orang Yahudi yang terbunuh, dan didalamnya juga terdapat rakyat Raja Herodes, yang kemudian menjadi pemicu permusuhan Pilatus dengan Herodes.

Dalam Injil, ia adalah sosok yang paling berpengaruh dalam proses penyaliban Yesus. Pilatus yang memiliki kuasa sedemikian rupa, melakukan tindakan ‘asal bapak senang’ ketimbang melakukan apa yang prinsip. Otoritasi yuridis untuk membunuh Yesus diberikan, bukan karena ia ingin menyenangkan pembesar Yahudi, melainkan karena ia takut kepada ketidaksenangan kaisar jika kaisar mendengar ada ketidak-stabilan di Yudea. 

Namun di tengah rasa takutnya pada kaisar, Pilatus mencoba berusaha sedapatnya untuk melepaskan Yesus. Ia mengakui bahwa ia tidak mendapati satupun kesalahan pada diri Yesus. Dengan penuh kejujuran ia mengatakannya kepada para pembesar Yahudi, bahwa Yesus tidak bersalah, tetapi ia tidak berdaya menghadapi tuntutan orang Yahudi, yang dapat mengadukan dia kepada Kaisar. 

Pilatus memang diperhadapakan dengan situasi yang tidak menyenangkan, juga tidak mudah. Setiap kitapun sering kali diperhadapkan dengan pilihan-pilihan yang sulit. Namun pilihan kita tetaplah penting untuk dipertimbangakan secara matang, bukan hanya untuk menyelamatkan diri , tapi untuk memilih apa yang menjadi kehendak Tuhan. Mari kita belajar lebih lagi dari pergumulan Pilatus di minggu pra paskah 3 ini. 

Dalam bacaan kita hari ini, terkhusus injil Yohanes, kita mendapati sebuah percakapan menarik antara Yesus dengan Pilatus. Percakapan yang kerap kali dibaca dalam masa pra paskah, namun kerap kali juga terlewatkan pesan utama dari kisah ini. 

Kisah tersebut terjadi pada pagi hari. Mereka  membawa Yesus ke hadapan Pilatus. Namun karena mereka tidak mau menajiskan diri, mereka tidak mau masuk kedalam pengadilan, hingga Pilatus harus keluar dan mendapati mereka. Pilatus, hendak menolak dengan mengatakan :”ambilah Dia dan hakimilah Dia menurut hukum tauratmu.” Namun karena para imam dengan licik dan jahatnya menyerahkan Yesus untuk dibunuh oleh Pilatus, tanpa mereka harus mengotori tangan mereka dengan darah Yesus akhirnya Pilatus menerima Yesus. 

Sebenarnya, Pilatus bisa mengambil jalan cepat dengan memberikan Yesus hukuman berdasarkan tuduhan orang2 Yahudi. Namun Pilatus ternyata memilih untuk mejalankan tugasnya dengan tepat. Sikapnya yang mementingkan kepentingan orang lain sungguh patut dipuji. Padahal dia bisa saja mengatakan bila mereka tidak mau masuk silahkan pergi saja. Apalagi hari masih pagi. Namun Pilatus menunjukan dedikasinya sebagai seorang pejabat pemerintah. 

Kepatuhannya terhadap hukum dan keadilan dalam hal mendengarkan tuduhan dari pihak penuntut, juga memegang prinsip praduga tak bersalah, membuatnya mengadili tanpa berpihak. Ia tidak mencari jalan cepat dan mudah. Ia benar –benar menyelidiki Yesus. Ia memberikan Yesus beberapa pertanyaan untuk dijawabNya. Ia benar-benar menyelidiki Yesus berdasarkan aturan main hukum yang berlaku dan berdasarkan kemampuannya sebagai seorang pejabat hukum, yang harus memelihara keadilan kepada semua pihak. 

Dalam percakapan yang dikisahkan tidak terlalu lama tersebut, Pilatus tidak menemukan kesalahan apapun dalam diri Yesus. Ia menemukan bahwa Yesus adalah orang benar, yang dengan sungguh menjalankan kebenaran. Pilatus tentu bukan orang yang tidak pernah mendengar siapa Yesus. Yesus adalah pribadi yang terkenal pada masa itu. Setiap hari orang berbondong-bondong mencariNya. Ia tentu tahu apa saja yang sudah diperbuat oleh Yesus. Dan berdasarkan kesaksian Yesus sendiri. Apa yang dituduhkan orang Yahudi kepadaNya tidak dapat dipertanggungjawabkan. Mengapa? Karena kebenaran ada dalam diri Yesus. 

Sayangnya, Pilatus tetap tidak membebaskan Yesus, bahkan menukarnya dengan Barabas. Bukankah sebuah ketidakadilan menukar Yesus yang tanpa dosa dengan Barabas yang memang adalah seorang penjahat. Ternyata Seorang Pilatus, yang adalah penegak keadilan dan kebenaran, juga tidak mampu menerapkan kebenaran sejati. Kebenaran milik Pilatus hanyalah kebenaran versi tanggung jawab dunia, bukan tanggugng jawab sorgawi.

arrow